Archive for December, 2007

Renungan Tentang Agama, Kitab Suci, Politik dan Tuhan

December 21, 2007

Edisi Revisi/Terbaru

Pengantar
Siapa tidak risau  membaca koran Kompas 14 Maret 2007 yang menyatakan bahwa hasil survei PERC menempatkan Filipina (negara dengan mayoritas umat Katolik terbesar) dan Indonesia (negara dengan mayoritas umat Islam terbesar) menjadi juara satu dan juara dua dalam hal korupsi ; artinya kedua negara ini adalah negara paling korup di Asia ditahun 2007 ; pada tahun lalu (2006) – Indonesia adalah negara paling korup di Asia. Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia. Ada berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama Islam), namun kasih sayang, ketentraman, kesejahteraan, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak ada. Atau justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak adilan, kriminalitas, keterbelakangan, kemiskinan, ketidak jujuran, kemunafikan, korupsi, kolusi, dan berbagai pelanggaran HAM justru marak terjadi di Indonesia; dan seringkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia. Demikian pula yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya, seperti negara2 berbasis Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie, Bolivia, Brasil), Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan, Afganistan, dst. Lalu, apanya yang salah? Dan sadarkah bangsa Indonesia, bahwa kalau di tahun 1960an (era perang dingin) Indonesia dijadikan ajang pertempuran kapitalisme lawan komunisme, maka pada saat ini (2007) sedang dijadikan ajang pertempuran budaya Timur Tengah lawan budaya Barat (persis seperti yang diramalkan sejarahwan dunia Samuel Huntington : clash of civilization di abad 21)?  Inilah nasib bangsa yang tak pernah dapat mandiri, hanya terombang-ambing dan jadi lapangan sepakbola ideologi besar.  Bila diselidiki secara teliti, peran agama ternyata sangat dalam terhadap pola pikir dan budaya suatu bangsa. Berikut ini adalah butir2 analisis yang mendalam tentang Tuhan, Agama, Budaya dan Bangsa yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumber untuk mengatasi kerisauan diatas.

Dalil 1
Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi semua manusia. Agama adalah sarana penting untuk mengenalkan Tuhan, namun Tuhan sendiri tidak beragama, sebab Tuhan adalah milik semua orang, baik yang beragama maupun yang tidak beragama – sebagaimana matahari diciptakan untuk semua manusia, sebagaimana samudera diciptakan untuk berjenis-jenis ikan, dan sebagaimana bumi diciptakan untuk berbagai tanaman.
Dalil 2.
Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas, demikian kata orang bijak. Salah satu definisi umum tentang religiositas adalah: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan keadilan. Religiositas jauh lebih bermakna daripada sekedar beragama, sebab banyak orang beragama justru sering tidak takwa dan munafik (agama sekedar topeng). Ibarat kuliah, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya. Kalau baru taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan identitas2 universitasnya; ia suka petentang-petenteng menyombongkan jaket almamaternya. Kalau seorang sarjana yang sudah bekerja masih tersekat oleh kotak2 almaternya, dan setiap kekantor pakai jaket almamaternya, betapa kantor itu akan menjadi ajang sikut2an antar universitas, dan betapa menyedihkan jiwa orang itu (yang terbelenggu oleh almamaternya)! Kalau seorang mahasiswa sudah lulus dan mendapatkan pengetahuan dan keahlian tentang ilmu pertanian, maka ia terus melanjutkan pengetahuannya, seringkali diluar almamaternya. Ibarat kuliah, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya. Demikian pula agama, intisari agama yaitu Tuhan dengan sifat dasar Nya (“Maha Adil, Pengasih dan Penyayang”) menjadi lebih penting daripada agama itu sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak dominan lagi (agama bagaikan tempat pertama kali belajar mengenal Tuhan menurut versi agama itu, dan kelak agama menjadi seperti almamater saja). Jadi, kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan agamanya yang penting, melainkan religiositasnya yang amat sangat penting. Ia tidak lagi tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama. Religiositas dapat diperoleh melalui agama atau tanpa melalui agama, ia dapat diperoleh terutama dari pengalaman hidup. Agama yang baik diharapkan menghasilkan manusia yang religius, sekaligus cerdas dan selalu ingin lebih tahu lebih banyak lagi tentang hal yang baru (termasuk pengetahuan tentang Tuhan yang baru). Manusia religius tidak akan terbelenggu oleh agama, maka ia tidak takut berdoa di rumah ibadah apapun (sesuai caranya sendiri), entah itu mesjid, gereja, pura, vihara, kelenteng, dst.; sebab ia paham bahwa Tuhan tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu dan pemahaman akan Tuhan adalah proses belajar yang tak akan pernah selesai. Manusia religius juga akan selalu tertarik dan mengikuti perkembangan agama2 baru serta science yang baru.
Dalil 3.
Agama berbasis kitab suci yang sangat terbatas. Dengan demikian, agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci Al-Quran dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi. Demikian pula dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa Almasih dituliskan maka dunia beserta isinya pun tidak akan bisa memuat. Dikatakan bahwa Allah adalah Maha Besar atau Maha Tak TERBATAS; mana mungkin sesuatu yang Tak Terbatas (Allah, milyaran tahun) cukup dijelaskan oleh satu orang saja yang SANGAT TERBATAS (para nabi, yang umurnya mencpai k.l. 80 tahun)! Jika Allah itu dari minus tak terhingga (alpha, tak tahu kapan awalnya) dan berakhir di plus tak terhingga (omega, tak tahu kapan berakhirnya), maka seorang manusia yang hidup di suatu range (daerah) umur yang sangat terbatas (katakan 80 tahun) adalah tidak mungkin menjelaskan secara tuntas sesuatu yang tak terhingga (milyaran tahun)! Bumi dan universe sudah milyaran tahun, dan masih milyaran tahun lagi, maka seribu, sejuta atau bahkan semilyar nabi disertai ilmuwan tidak akan pernah selesai mempelajari universe dan Tuhan! Jadi, ke “Mahabesaran Tuhan” tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku setebal/setipis kitab suci. Ke “Mahabesaran Tuhan” juga tercermin pada luas dan dalamnya ilmu pengetahuan.
Dalil 4.
Pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak akan pernah selesai.
Banyak orang bijak juga berkata: pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak akan pernah selesai ; maka bukan agama yang dicari, melainkan kitab sucinya sebagai sumber agama yang dicari; dan bukan kitab suci yang sangat terbatas itu yang dicari melainkan kebenaran atau Tuhan yang selalu dicari. Kitab suci beserta para nabinya adalah sangat terbatas seperti ditandaskan oleh dalil diatas. Sebagai gambaran KETAKTERBATASKAN (KEMAHABESARAN) TUHAN : Seorang ahli komputer merumuskan suatu hukum yang disebut hukum Moore; ia menyatakan bahwa setiap delapan belas bulan akan terjadi lompatan teknologi dibidang teknologi informasi. Ia benar, ternyata komputer berkembang dari XT, AT, …., Pentium 4; demikian pula software: dari DOS, Windows 98, …, Windows Vista. Manusia pun terus berkembang, dari jaman batu s/d jaman ini yang ditandai teknologi informasi dan rekayasa genetika. Ilmu Fisika tidak hanya berhenti pada hukum gravitasi Newton, melainkan terus berkembang misalnya teori relativitas Einstein, teori big bang, teori fusi, cloning, nano technology, dst. Buku ensiklopedi yang berjilid-jilid dan tebal sekali, setiap tahun harus di update mengingat hampir setiap hari ada penemuan baru di laboratorium riset di seantero dunia. Kalau ilmu pengetahuan, komputer berikut softwarenya, dan ensiklopedi beserta manusia penciptanya saja berkembang terus menerus dan secara cepat, apalagi Tuhan YME! Oleh sebab itu, Tuhan beserta kebenaranNya adalah dinamis, bukan statis, serta lebih banyak bergerak mengacu ke masa depan, dan tidak terlampau sering menoleh kebelakang; dengan demikian Tuhan adalah bukan milik atau dominasi sesuatu agama (yang seolah-olah hanya berbasis sesaat dimasa lampau), melainkan milik ruang dan waktu yang tidak terbatas dan tidak terhingga! Maka diperlukan lebih dari jutaan nabi dan ilmuwan untuk menguak rahasia Tuhan beserta alam semestaNya. Agama yang baik akan selalu ingin mencari tahu rahasia Tuhan yang belum terkuak. Sebaliknya agama yang statis-kaku-beku terus-menerus membelenggu, membatasi atau melecehkan Tuhan dengan mengatakan: untuk mempelajari dan menghapalkan ke Maha Besaran Tuhan yang Tak Terbataskan, cukup melalui satu buku tipis saja yang disebut kitab suci; Tuhan itu cukup PC XT titik (statis) bukan Pentium 5 beserta penerusnya (Pentium X, Core dua, dinamis, tak tahu s/d seri berapa nanti), Tuhan itu cukup DOS bukan Windows Vista, Tuhan itu cukup jaman dulu dan tidak punya masa depan! Jadi, ibarat ilmu komputer, oleh agamawan yang statis-beku-kaku, kita bagaikan diminta untuk terus menerus menggunakan komputer XT dengan DOS, dan dilarang mempelajari atau menggunakan komputer Pentium 5 dengan WINDOWS VISTA atau LINUX ! Ibarat ilmu Fisika, kita bagaikan diminta untuk terus menerus mempelajari hukum Newton, dan dilarang mempelajari fisika modern (temuan2 baru misal Einstein, teori Quantum, teori reaksi fusi, dst). Bagi dogma yang beku, fisika adalah terbatas pada Newton, nabi adalah terbatas pada Muhammad (atau Yesus, atau Budha, dst), kitab suci adalah hanya terbatas pada Qouran (atau Injil, dst), agama adalah hanya terbatas pada kitab suci tertentu – misal Qouran (atau Injil), dan akhirnya Tuhan (yang semestinya tak terbatas) adalah menjadi terbatas pada agama Islam (atau agama yang lain, misal Kristen). Kita lalu bagaikan terusmenerus disuruh menoleh kebelakang dan tidak diperkenankan melihat kedepan! Seandainya Tuhan menurunkan nabi2 baru, dapat dipastikan bahwa agama2 besar yang ada (status quo) akan menolak menerima nabi baru ini agar kedudukan para penguasa agama status quo ini tidak tergoyahkan, sehingga dapat dipastikan akan muncul agama2 yang baru pula demi menampung nabi baru. Jadi, agama yang kaku-beku-statis justru membatasi Tuhan dan membatasi sesama manusia (tersekat-sekat atas nama agama), agama lalu berbalik justru menjadi penjara bagi Tuhan dan manusia, sungguh luar biasa ! Akibatnya agama justru dapat menjadi sumber krisis kebudayaan bahkan perseteruan ; perseteruan tidak hanya antar agama melainkan antar sekte dalam agama ; bukti menyatakan hampir semua agama terpecah belah menjadi sekte-sekte (aliran) ; di Islam ada Suni – Syiah, di Kristen ada Katolik – Protestan, dst. Inilah kesalahan atau dosa terbesar para pemimpin agama yang bagaikan telah membekukan Tuhan kedalam satu kitab suci saja! Agamawan kolot memandang dan mempelajari Tuhan cukup berbekal jaman dulu, Tuhan seolah-olah divonis tidak punya masa depan! Agama yang negatip hanya berkutat pada nabi2nya yang sudah dahulu kala, dan menganggap pemahaman terhadap Tuhan sudah dianggap selesai, kemudian nabi utamanya begitu dibesar-besarkan seringkali melebihi Tuhan itu sendiri; sehingga agama menjadi Maha Tak Terbatas (mengenal Tuhan cukup dengan belajar satu agama saja), sedangkan Tuhan menjadi Maha Terbatas (cukup dijelaskan oleh satu kitab suci setebal kurang lebih 1000 halaman); pusat ibadat dan puja-puji lalu diarahkan kepada nabi2nya. Umat beragama lalu malas membaca hal2 yang baru terutama science, sehingga menjadi terbelakang dalam berbagai segi kebudayaan. Agama ditilik dari sisi organisasi dapat berbeda tujuan dengan kitab suci sumber agama itu sendiri. Kitab suci sudah menandaskan dan menyadari keterbatasan dirinya (buku setipis itu), dan KETIDAK terbatasan Tuhan; sedangkan agama dilihat dari sisi organisasi, terus menerus mengatakan “Pelajaran tentang Tuhan sudah selesai, yaitu Kitab suci KITA, jadi jangan membaca kitab suci yang LAIN, apalagi pindah agama, tetaplah taat-setia kepada agamamu (=KAMI, para pengurus organisasi agama)”.
Dalil 5.
Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali otoriter.
Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama, karena Tuhan sendiri pada dasarnya tidak beragama. Tuhan mengharapkan agar manusia mencapai pemahaman tertinggi yang disebut religiositas melalui berbagai sarana seperti agama, “agama lokal” (misal Kejawen), dan ilmu pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada keinginan mau menangnya sendiri seperti melarang berbagai hal yang tidak sepaham dan ingin menjadi anak emas dinegara yang majemuk/pluralis ; baru saja lahir seorang bayi sudah diinisiasi menjadi penganut agama tertentu, sebaliknya ada pula agama yang mengancam dengan hukuman mati bagi manusia dewasa yang pindah keyakinan ; bukankah agama itu kebebasan dan urusan individu dengan kaliknya (privasi) ? Dinegara maju, apa saja boleh dan justru dianjurkan untuk diperdebatkan (termasuk keyakinan), asal debatnya bermutu dimana kaki dan tangan (kelahi) tidak boleh ikut dipakai dalam adu gagasan! Tuhan itu Maha Cerdas, Maha Cerdas pasti suka debat, bukan main sweeping, larang-melarang, dan otoriter. Jadi seseorang yang cerdas pasti suka debat, karena debat mengakibatkan kemajuan peradaban. Memang, ada kemungkinan agama akan ambruk oleh adanya demokrasi, rasionalisasi, kebebasan berpendapat dan debat, seperti ambruknya gereja Katholik di Eropa pada sekitar abad 18 an. Politisasi, monopoli dan otoritarian ajaran agama oleh pemuka agama menyebabkan posisi mereka tidak tergoyahkan dinegara berkembang. Demikian pula, adalah tidak mengherankan bila di Timur Tengah yang penuh dikuasai kyai, ulama dan raja, takut setengah mati dengan demokrasi, rasionalisasi, dan kebebasan berpendapat. Pemuka agama manasaja seringkali memonopoli kebenaran dan takut berdebat untuk adu gagasan atau bersaing dengan kebenaran yang lain yang lebih modern; umatnya pun selalu di brain wash dengan mengatakan bahwa keyakinan tidak boleh diperdebatkan; atau untuk mengunci terjadinya perdebatan lalu berkilah: keyakinanmu adalah keyakinanmu, keyakinanku adalah keyakinanku, keyakinan adalah harga mutlak (kebenaran absolut)! Bukankah ini semua demi kelanggengan kedudukan para pemuka agama itu sendiri dan agar umatnya tidak terpikat oleh pengetahuan baru tentang Tuhan? Bukankah umat yang besar jumlahnya sering dikonotasikan dengan income (zakat/persembahan) yang besar pula bagi para pemuka agama? Mengapa Tuhan Yang Maha Cerdas dianggap bodoh, tak boleh didebat, dan Tuhan diangap takut akan demokrasi, rasionalisasi, serta kebebasan berpendapat? Bukankah guru yang baik menyukai muridnya yang sangat kritis, bukan yang diam seribu bahasa dan hanya dapat menganggu-angguk saja ? Pemuka agama takut debat, lalu mereka mengatas namakan Tuhan bahwa Tuhan tidak suka debat, keyakinan adalah harga mati – atau sesuatu yang beku, kaku dan statis, buku2 yang sangat kritis terhadap agama (dan penyalah gunaan agama) dilarang bahkan disweeping, aliran kepercayaan yang baru dan lebih modern dimatikan, sering penganutnya diburu-buru dengan ancaman kekerasan bahkan pembunuhan; dengan demikian kelompok ini sebenarnya justru menganggap Tuhan adalah sangat lemah, sehingga agama dan Tuhan perlu dibela mati2an. Mereka ini sebenarnya justru sedang memenjarakan Tuhan!
Dalil 6.
Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna, oleh sebab itu sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak yang belum dewasa (disekolah dasar), apalagi dipaksakan sebagai pendidikan agama. Agama adalah persoalan individu/privacy dan merupakan kebebasan untuk memilih. Agama sebagai pengajaran (knowledge) adalah penting dan perlu diajarkan (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka masing2). Sebaiknya agama sebagai pendidikan (untuk menarik pengikut baru) diberikan kepada manusia dewasa, waktu belum dewasa cukup diberikan budi pekerti. Kalau sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka hasilnya mirip Indonesia saat ini. Bukan kekeluargaan atau kasih sayang melainkan kecurigaan, ‘keterkotakan’ (SARA), tidak pandai/biasa berdebat, kalau debat cepat marah, sulit menerima kekalahan, beku, kaku dan bahkan ini bisa menjadi cikal-bakal kekerasan nanti disaat dewasa. Dinegara modern seperi USA, Jepang, Korsel, Taiwan, Inggris, Australia, dst., agama memang tidak boleh diberikan pada anak2 SD/SMP/SMA (sekolah negeri) sebagai pendidikan (kecuali sekolah yang berafiliasi dengan agama tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of knowledge) yang mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya diperbolehkan, pendidikan agama adalah merupakan tanggung jawab orang tua. Untuk anak, yang lebih baik dan lebih penting adalah budi pekerti (hubungan horisontal-antar sesama manusia, jadih lebih riel; agama: hubungan vertikal dengan Tuhan, lebih abstrak). Untuk remaja s/d mahasiswa, sangat penting tuk diberikan pembinaan kepribadian (personality), leadership, dan enterpreneurship. Budi pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum, menghargai alam dan isinya, keadilan dan hidup bersosial secara baik. Budi pekerti mengarah ke horisontal, riil dan praktis. Agama mengarah vertikal (sorga, neraka) dengan konsep yang penuh abstraksi tinggi. Benarkah dan pernahkah Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh sebab itu, para pemuka agama hendaknya mengasihani para anak2 dengan tidak membebani otak mereka dengan pengetahuan yang belum saatnya (abstraksi yang sulit); dan yang lebih penting dan mendasar adalah: agama syarat dengan dogma2 yang beku-kaku, bila diajarkan secara kurang tepat dan bijak justru akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan justru anak2 akan mulai terkotak-kotak sejak dini, hal ini akan menimbulkan dan menyuburkan falsafah: right or wrong for my religion, yang pada akhirnya akan menghasilkan kelompok fundamentalis yang merupakan salah satu bahan awal dari terorisme! Selain itu, mereka menjadi kurang kritis, pasif, tidak pandai debat, dan kalau debat mudah marah (apalagi kalau kalah)! Adalah lebih bijaksana apabila manusia dewasa dibiarkan memilih agamanya sendiri , tanpa paksaan, setelah dewasa!
Dalil 7.
Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian dan keadilan; bahkan kadang2 agama justru dapat melunakan moral, etika dan hukum suatu negara melalui persepsi yang salah, serta kadang2 justru menjadi sumber kemunafikan. Dalam konteks Indonesia, lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia, namun persaudaraan, perdamaian dan keadilan justru tidak ada; yang marak justru kekerasan, kerusuhan, KKN dan pelanggaran HAM. Para elit (militer, politik dan birokrat), yang notabene berpendidikan tinggi justru merupakan sebab utama kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas rajin korupsi namun bebas dan terhormat, yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam langsung dibakar begitu saja! Demikian pula yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya, seperti negara2 berbasis Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie, Bolivia, Brasil), Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan, Afganistan, dst. TKW kita di Timur Tengah yang sering mengalami penyiksaan dan perkosaan juga dapat menjadi salah satu bukti nyata (frekwensi perkosaan tertinggi). Mengapa hal ini terjadi? Jawabnya, dalam hal ini, agama seolah-olah menekankan dan mengeksploitasi sifat Tuhan yang hanya sebatas Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun; sifat Maha AdilNya sengaja dihilangkan/dilupakan. Misalnya saja keyakinan bahwa apapun atau berapapun berat dosanya jika: -percaya Yesus dosanya akan diampuni dan masuk surga (agama Nasrani); atau – jika berpuasa secara benar atau meninggal di Mekah atau malam Laitul Kadar (malam seribu bulan dimana surga akan terbuka penuh) maka dosa satu tahun akan diampuni dan masuk surga. Dengan konsep mengobral harga “surga” semurah dan semudah itu, agama2 saling bersaing dan berupaya menarik minat calon pemeluk. Namun akibatnya justru negatip, tidak heran bila negara2 dengan agama yang kuat (tapi beku pemahaman) justru menjadi sumber KKN dan pelanggaran HAM kelas wahid! Agama justru dapat menjadi sumber krisis etika dan moral! Kembali ke konteks Indonesia yang sedang mengalami polusi hirukpikuk-hingarbingar doa dan dakwah, ternyata telah terjadi penyimpangan dan keanehan luar biasa ; manusia Indonesia mengukur keberhasilan atau kesuksesan seseorang sebatas kekayaan, jabatan dan kekuasaan, itupun tanpa mempersoalkan bagaimana (proses) cara mencapainya, jadi serba materi dan duniawi, samasekali tidak mengandung nilai religius seperti : kejujuran, kebaikan, kebenaran, dan kepandaian. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila orang baik dan jujur justru tidak dihargai dan tersisih ! Yang pandai, baik dan jujur cepat2 angkat koper kerja ke luar negeri (brain drain) ! Sebagai contoh kongkrit perilaku kemunafikan para agamawan dibumi nusantara, para koruptor kelas kakap (dan mantan koruptor), yang tinggal diperumahan-perumahan elit/eksklusip, adalah donatur penting bagi kegiatan sosial atau keagamaan; pemuka agama dan masyarakat disekitarnya tidak pernah mempertanyakan darimana para pejabat tinggi negara itu mempunyai dana lebih; atau justru sebaliknya, para koruptor ini dijadikan teladan kedermawanan lalu disanjung-sanjung! Demikian pula, melalui acara televisi, etika dan moral generasi muda terus-menerus dirusak setiap harinya: TV kita hanya memperlihatkan dan mementingkan wajah-wajah yang cantik, bagus, rupawan, seksi dan kayaraya, darimana dan bagimana asal kekayaan itu diperoleh tidak pernah digubris, tidak pernah ditayangkan adanya pejabat yang korup, polisi yang busuk, dan jaksa yang kolusi, melalui film2 di TV: Indonesia bak surga karena negara dipenuhi oleh manusia2 rupawan yang kayaraya, agamis, jadi negara seolah-olah bersih dari KKN dan pelanggaran HAM! Seharusnya sifat Maha Adil lebih ditekankan, agar manusia (pejabat) berpihak ke rakyat jelata yang tertindas, dan menuntut para oknum pelaku KKN dan pelanggar HAM dimuka hukum. Jadi sebelum hukum horisontal (antar sesama manusia) terlunaskan/termaafkan, maka oknum tsb. tidak akan mungkin masuk surga (hukum vertikal). Perlu dimengerti bahwa bagi manusia dibumi (bukan diawang-awang), sikap Maha Adil adalah jauh lebih menarik dan lebih penting daripada Maha Pengasih. Maha Adil mempunyai dampak horisontal dan bersifat komunal dengan harapan terjadi keadilan di bumi. Maha Pengasih lebih berkonotasi vertikal dan pribadi dengan harapan terjadinya pengampunan dosa pribadi/individu agar dapat masuk surga. Ulama, pastor, begawan, biksu dan pendeta harus menandaskan bahwa kejahatan manusia juga harus dipertanggung jawabkan dahulu didepan manusia (pengadilan), jadi tidak hanya vertikal melainkan horisontalpun penting (sifat Maha Adil itu lebih mengarah ke horisontal atau sesama manusia dan ini penting sekali)! Mereka harus rajin ke DPR/DPRD, Kejagung, presiden, dst., dalam hal membela kebenaran/moral, tanpa harus berpolitik praktis, mereka harus merasa malu dengan daya juang para mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan kebenaran! Mereka, para agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita ceking yang gigih membela manusia melarat dan tertindas, yang bernama Wardah Hafidz dan Dita Sari, atau pria ceking-kecil bernama Munir, atau George Aditjondro yang bersedia disebut anjing pelacak kekayaan Indonesia yang dicuri oleh regim ORBA, dimana mereka semua itu tidak takut mengorbankan keamanan, kenyamanan bahkan hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta atau biksu, yang turun tangan membela tukang becak, penjual asongan, buruh, tki/tkw, dst., secara nyata? Mana ada dari mereka yang menuntut tuntasnya kasus BLBI (perampokan negara), tragedi Mei ‘98, Trisakti, Priok, Kudatuli, KKN, uang hibah haram, pelurusan sejarah 1965, korban cucu-cicit PKI, membela buruh dan TKI/TKW, pembunuhan Munir, dst.? Bukankah ini tugas Tuhan yang maha penting dan didepan mata ? Bukankah pemimpin agama adalah personifikasi kebenaran, keadilan dan kejujuran ? Mengapa mereka enggan terlibat pada hal2 yang riil ini dan memilih kegiatan ceramah agama sampai mulutnya berbuih-buih dan umatnya menjadi mabok/mendem agama ? Sebaliknya, pandanglah negara RRC yang komunis, yang justru menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan; koruptor kelas kakap diburu s/d liang kuburnya dan kalau ketangkap dengan tegas diadili kemudian ditembak mati. Kesejahteraan yang timbul dalam agama seringkali hanya terjadi pada para birokrat (pemimpin/pengurus) agama itu sendiri (karena zakat/derma). Penegakan disertai ketaatan hukum (legal formal) lebih menjamin tingginya moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat, bila dibandingkan dengan buaian agama yang memabokan. Jadi, jelas dan terang sekali bahwa suatu negara yang didominasi agama yang mengobral surga dengan murah sekali (mengeksploitasi sifat Maha Pengasih), dan mengesampingkan sifat Maha Adil, akan terjebak pada suatu kondisi kemunafikan yang pada akhirnya akan menuju krisis moral dan krisis kebudayaan ; agama lalu menjadi sekedar tempat persembunyian yang ternyaman dan paling aman bagi para pelaku KKN dan pelanggar HAM kelas berat. Koran Kompas 14 Maret 2007 membuktikan pendapat bahwa agama justru sumber kemunafikan, kesimpulan hasil survei PERC menempatkan Filipina (negara dengan mayoritas umat Katolik terbesar) dan Indonesia (negara dengan mayoritas umat Islam terbesar) menjadi juara satu dan juara dua dalam hal korupsi ; artinya kedua negara ini adalah negara paling korup di Asia ditahun 2007. Pada tahun lalu (2006), Indonesia adalah negara paling korup di Asia.
Dalil 8.
Agama Harus Menghormati dan Mengembangkan Budaya Setempat.
Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar negeri, maka bias budaya pasti ada. Artinya, budaya asing mendompleng agama akan masuk dan mempengaruhi budaya lokal. Dalam konteks Indonesia, alangkah sedihnya kita, apabila di jalan Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba … (Budha, bhs. Cina), lalu dijawab yang lainnya dengan Assalam ….. (Islam, bhs. Arab), kemudian ada lagi yang menyahut Syallom …. (Kristen, bhs. Yahudi), tak ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng …. (Hindu, bhs. Hindi); kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan dan nasionalis: Selamat Siang. Demikian pula dengan budaya berpakaian, alangkah sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak oleh pakaian Arab atau sari India. Memeluk agama asing haruslah tidak boleh mengorbankan budaya setempat. Yang paling menakutkan adalah penjiplakan cara berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu pengetahuan dan teknologi itu “setan” yang harus dijauhi, dan justifikasi kekerasan demi pembelaan agama melalui konsep yang salah : “right or wrong for my religion” (sisi “wrong” sangat berbahaya bagi kesehatan hatinurani). Agama yang baik semestinya dapat berperan untuk mempengaruhi kebudayaan suatu suku atau bangsa kearah yang lebih baik. Alm. Mochtar Lubis dalam bukunya yang best seller di tahun 1977 (judul: Manusia Indonesia Baru) mengkritisi secara habis-habisan budaya negatip manusia Jawa (sang mayoritas) yang: munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhyul/mistis, berkarakter lemah, suka KKN, suka serba instan, pelupa, tidak tahu malu, cuek, dst. Dalam konteks negara, agama yang baik semestinya bisa menghapus atau menipiskan kelemahan budaya suatu bangsa. Namun sayang, di Indonesia, peran agama justru kebalikannya, terbukti bangsa ini tidak bisa melepaskan diri dari sumber dari segala sumber krisis yaitu krisis moral dan kebudayaan (krisis multi dimensi)! Bayangkan bila nalar kita tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang (utang) luar negeri yang bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata uang yang jauh dari keadilan telah menjajah kita, konglomerasi perusahaan multi nasional dan budaya asing yang lewat agama telah mendominasi budaya kita, lalu kita mau jadi bangsa apa? Adalah sayang sekali, bila kebanyakan agama yang ada justru meninabobokan kemudian secara halus-terselamur menggusur kebudayaan kita, bukankah ini justru gerilya kebudayaan lewat agama?
Dalil 9.
Agama mudah diperalat dan dipolitisasi.
Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonomi maupun agama bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka. Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus persen kepada Tuhan melalui agama disalah gunakan oleh ‘manusia cerdas tapi jahat’. Politisasi agama menyebabkan antara Agama dan partai politik sudah sulit dibedakan. Antara filsafati yang suci bersih dan politik yang hitam kelam bercampur baur. Antara bau kentut dan bau parfum sudah saling mengkontaminasi. Umat beragama bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan atau orasi politik yang ulung dari seorang Dai, atau apakah ia sedang ada di mesjid/gereja atau sedang ada di kantor partai politik? Dalam konteks Indonesia, misalnya Dai sejuta umat – Zainudin MZ, yang dipakai regim ORBA untuk Safari Ramadhan. Agama di negara berkembang yang miskin dan terbelakang seringkali dijadikan cita2 negara (visi) oleh para politisi demi menghimpun kekuatan massa atau melawan negara asing ; sebagai contoh : Osama Bin Laden menggunakan Islam dalam melawan USA/Barat, Soeharto memperalat Islam dalam membasmi PKI di tahun 1965 dan dalam membelokan/menaklukan ‘reformasi’di tahun 1998. Agama juga sering dipergunakan untuk mengalihkan perhatian dan tuntutan keadilan dari rakyat kecil . Tindakan pemerintah yang salah dan fatal yang mengakibatkan penderitaan bahkan ketidakadilan pada masyarakat, sering ditutupi dengan agama melalui ayat2 kitab suci. Dalam konteks Indonesia, misalnya ulama dibeli untuk menguasai dan menenangkan massa, misalnya dengan ceramah: ‘’Penderitaan adalah bagian dari proses beragama, jadi tidak perlu menuntut kepada para pelanggar’’, atau ‘’Mengalah saja, nanti dapat hadiah surga setelah mati’’, atau islah (perdamaian atas dasar agama); semuanya ini dengan tujuan untuk menghibur dan membenarkan penderitaan rakyat, sekaligus untuk membela dan membenarkan policy pejabat tinggi yang salah, serta untuk mengalihkan perhatian dan melemahkan tuntutan masyarakat. Melalui politisasi ayat2 suci, maka rakyat yang menuntut keadilan secara halus sekali justru disalahkan melalui hiburan palsu, dan secara terselubung pejabat pemerintah yang salah (sangat korup) justru dilindungi. Agama juga sering diperalat untuk menutupi ketidak mampuan dirinya dalam beradaptasi. Sebagai contoh : ketidak mampuan suatu negara dengan mayoritas agama tertentu dalam hal berprestasi, misal dalam hal pemberantasan korupsi, berdemokrasi, dan pengadilan bagi pelanggar HAM berat. Para agamawan yang juga politisi sering kali lalu mengacu negara lain yang mampu berprestasi baik (misal negara yang justru komunis seperti RRC) dengan gaya bahasa menipu : ‘’Semangat negara RRC itulah yang justru Islami atau Kristiani, negara kita belum sampai kesana’’ ! Atau dengan gaya kambing hitam atau strategi ‘Buruk muka cermin dibelah’, misalnya melalui ungkapan :’ Semunya ini pengaruh kebudayaan asing, semuanya ini karena teori asing, semuanya ini karena X, …, semuanya ini karena Z’. Suatu ungkapan apologetik yang menyesatkan dan membodohi umat apabila terus-menerus dipakai untuk menutupi ketidak mampuan suatu agama dalam mengatasi/menembus hambatan dalam dirinya sendiri. Semua tipu-menipu berbasis agama ini dapat menjadikan semangat dan moral bangsa untuk menegakan keadilan menjadi melemah dan mati, dan agama justru menjadi sumber kemunafikan.
Dalil 10.
Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Seperti dijelaskan dalil didepan, bahwa agama sering dipakai untuk memenjarakan Tuhan dan manusia, maka demikian pula dengan ilmu pengetahuan, agama sering disalah gunakan untuk menjadi penjara bagi IPTEK ! Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik saat itu sering menghukum ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat pernyataan yang dianggap bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar yang dikucilkan antara lain adalah Copernicus, Galileo, Columbus, dan Darwin. Pada abad itu ketika agama Katholik begitu dominan (namun beku, kaku dan statis), Eropa justru mengalami jaman kegelapan. Sekarang, lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin (yang dominan agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan religiositasnya dan ilmuwannya). Sangat kontras sekali, misalnya saja antara USA dan Meksiko yang berbatasan. USA sangat modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko, padahal mereka sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam juga sama saja, katakan saja Turki, Bosnia, Albania adalah negara2 Islam paling modern, ternyata masih jauh tertinggal dibelakang negara2 Eropa dalam IPTEK, demokrasi dan kemakmuran. Selama pemahaman agama itu masih sempit (fanatisme agama, bukan religiositas), maka selama itu pula negara akan terjebak dalam hiruk pikuk eforia agama. Kita juga dibuat tercengang dengan para ilmuwan negara komunis, misal RRC, mereka maju pesat, misal sudah dapat mengirim astronot ke ruang angkasa, lihat pula negara kita yang dibanjiri otomotif produk mereka dengan harga yang sangat murah (harga serbu : serba lima ribu, sebab di RRC hampir tidak ada KKN). Dalam konteks Indonesia, berapa ribu jam belajar yang sudah dihabiskan oleh anak-anak SD untuk “menghapal” hal yang belum saatnya dipelajari (agama beserta bahasa asing dan budayanya)? Bukankah anak2 itu ibarat di “brain washing” sehingga daya kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat dunia menjadi rendah sekali. Karena cara mengajarnya yang kebanyakan doktriner, akibatnya para siswa menjadi kaku, pasip, tidak kreatip, tidak bisa debat, gampang marah kalau debat, dan tersekat-sekat. Hasilnya apa? Toh mirip P4, PMP, dst. Selain itu, setamat SD, kita masih harus menghabiskan sekian ribu jam pelajaran lagi untuk belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa Inggris, lalu kapan SDM kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam menggunakan waktu dalam pendidikan (porsi agama terlampau banyak)?
Dalil 11.
Semakin rusak moral bangsa itu, agama semakin laku, dan hingarbingar kemunafikan beragama semakin luar biasa. Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok ditulisi: Ngebut, benjut; Yang Kencing disini hanyalah anjing; Daerah bebas narkotik; Dilarang buang sampah disini; dst… Dinegara maju yang masyarakatnya sudah mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan aturan kasar semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu sudah tertulis dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu melalui pendidikan budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama, dalam konteks Indonesia, semakin bumi nusantara ini dipenuhi polusi suara yang keras dan hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar, istigotsah, azan masjid, koor gereja, dsb.), kemudian orang2nya semakin gemar memakai atau memajang aksesori keagamaan (seringkali hanya untuk “sekedar sembunyi”), semakin menandakan bahwa masyarakatnya masih sekedar pandai berdoa dan sekedar bosa-basi agama (formalitas), namun tidak pandai melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau korupsi, malam berdoa atau meditasi; para pegawai negeri yang mengaku abdi negara dan abdi masyarakat justru mempraktekan filosufi:”Mengapa harus dipermudah, kalau semuanya bisa dipersulit (agar keluar uangnya)?”. Agama sangat menjejukan dan memberikan rasa tentram dan kedamaian yang luar biasa terutama kepada para pelaku kelas berat: pelanggar HAM dan pelaku KKN. Agama memberikan citra bahwa Tuhan itu Maha Pengampun bagi para pelanggar HAM dan pelaku KKN (Maha Adil sengaja dilupakan!). Tidak heran agama menjadi tempat persembunyian yang ternikmat dan teraman bagi para pelanggar aturan ini, tidak heran agama menjadi laku keras sekali dinegara yang amburadul moralitasnya! Hidup secara munafik diakhir hayat dengan bertopeng agama (sudah tua baru berlagak tobat) sangat digandrungi manusia irasional dan justru dipopulerkan oleh para agamawan. Tidak heran, keamburadulan negara itu tetap tidak akan tertolong oleh maraknya agama. Coba amati, ucapan dan tindakan bangsa ini ternyata sangat kontras bedanya, alias hipokrit/munafik; nampak jelas bahwa semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji kepada Tuhan, semakin rusak moral bangsa itu. Lihatlah kelihaian para politisi tua regim Orde Baru dalam ber “agama” serta terutama dalam hal ‘memperalat’ agama, kemudian lihatlah “track record” mereka. Alhamdulilah, seratus delapan puluh derajat bedanya! Dengan demikian, dapat kita katakan, apa yang terjadi di Indonesia adalah pelecehan agama, bukan penghormatan agama, apalagi pengamalan agama! Pelecehan agama sama saja dengan pelecehan Tuhan, ini akan menyebabkan kehancuran moral suatu bangsa dan murka Tuhan!
Dalil 12.
Agama tidak akan berguna apabila rakyatnya lapar, miskin, bodoh dan selalu dibodohi.
Ada pedoman hidup yang klasik dan bagus: “Kenyang dulu baru ber falsafah” ; atau teori Maslow menandaskan bahwa manusia baru berusaha meningkatkan kualitas religiositasnya setelah kebutuhan dasar (sandang, pangan, dan papan) terpenuhi. Jadi manusia hidup demi jiwa raganya.  Sebaik-baiknya ajaran agama, namun apabila perut (raga) umatnya kosong, yang terjadi adalah justru kriminalitas: kerusuhan dan kekerasan. Obat kemerosotan moral suatu negara tidak hanya cukup mengobati jiwa melalui agama, melainkan juga mengobati raga melalui kecukupan sandang, pangan dan papan. Oleh sebab itu, agama perlu berperan aktip dalam meniadakan sumber-segala penderitaan raga dulu seperti sumber kemiskinan, terutama kemiskinan struktural yang disengaja dan dibiarkan terjadi berkelanjutan oleh para politisi busuk; misalnya: gaji yang tidak layak dan tidak adil. Dalam konteks Indonesia, Dirut BUMN terima 50 juta, Dirut BI bergaji 200 juta, Dirut bank Mandiri bergaji 250 juta; sedangkan buruh/pns terendah terima 0,5 juta per bulan; rasio gaji yang luar biasa edan 1:500! Sistim penggajian, fasilitas dan tunjangan yang jauh berbeda antar jabatan dalam satu departemen, antar departemen dan antar BUMN menjadikan sistem gaji di Indonesia bagaikan hutan belantara (mungkin terburuk didunia), telah menjadikan gap kekayaan yang luar biasa dan menjadikan sumber ketidak adilan dan sumber KKN. Selain kemiskinan, kebodohan akan mengakibatkan kesempitan berfikir, kesempitan berfikir dapat disalah gunakan oleh pemuka agama yang berjiwa preman, hasil utama didikannya adalah kefanatikan, kefanatikan (mengklaim paling suci dan paling berhak atas surga!) akan mengakibatkan radikalism agama yang pada akhirnya akan menghasilkan terorisme! Kebodohan akan tumbuh subur seiring dengan rendahnya anggaran pendidikan nasional/lokal, rendahnya gaji guru/dosen, serta mahalnya biaya sekolah (ini dapat disebut kebodohan struktural, sebab disengaja oleh para politisi). Kemiskinan dan kebodohan menyebabkan mudahnya umat untuk di cuci otak oleh pemuka agama preman, misalnya untuk melaksanakan: jihad (dalam agama Islam, yang dapat berbentuk bom bunuh diri, sekaligus melakukan pembunuhan masal); sedangkan di agama Nasrani adalah bunuh diri secara masal/ramai2; semuanya ini dilakukan dengan dalih masuk surga!
Dalil 13
Agama beserta kitab sucinya dapat membuat kebudayaan suatu bangsa/negara menjadi mundur akibat mabok/mendem agama. Definisi mabok atau mendem (Jawa) adalah keadaan dimana seseorang mengkonsumsi/memahami tentang sesuatu/paham yang melebihi batas normal/kewajaran; orang yang mendem menjadi seperti: tidak normal tingkah lakunya, tidak wajar cara berpikirnya (bloon, tidak cerdas), dan sulit diajak berdiskusi/berdialog. Contoh mabok adalah mabok minuman keras dan mendem gadung (di Jawa). Analog definisi ini, maka mabok agama dapat didefinsikan sebagai orang (atau kumpulan orang) yang mengkonsumsi/memahami agama secara berlebihan, melupakan keterbatasan agama, melupakan penyalah gunaan agama yang lumrah terjadi (terutama politisasi agama), dan menganggap bahwa semua persoalan dunia dapat diatasi hanya dengan agama saja. Dalam konteks Indonesia, seorang ahli filsafat dari Belanda, Karl Steinbrick, dosen tamu di IAIN di Jakarta, menyatakan bahwa Indonesia sedang mendem/mabok agama (too much religion contents). Kondisi mabok agama bila tidak terkendali akan mengarah ke keracunan agama. Agama bagaikan obat, bila dikonsumsi berlebihan justru akan menjadi racun bagi tubuh. Eropa pernah mengalami mabok dan keracunan agama diabad yang silam sehingga mengalami kemunduran dan jaman kegelapan; sampai2 filsuf Marx, saking marahnya, menyebut agama itu candu atau bahkan racun. Kitab suci yang oleh nabinya sudah ditandaskan dan didefinisikan bersifat terbatas dan tipis justru dibalik menjadi tak terbatas, maka sering terjadi hal yang menggelikan dan boleh dikata ‘gila’ serta irasional ketika ada upaya meng-agamakan ilmu pengetahuan, misalnya saja Kristenisasi atau Islamisasi ilmu pengetahuan. Konspirasi jahat antar agamawan dan ilmuwan yang tidak normal (waras, mendem agama) untuk agamisasi ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara mengada-ada dan merekayasa hubungan antara ilmu pengetahuan dengan ayat2 suci dalam kita suci. Misalnya saja, rahasia nuklir telah diramalkan diayat nomor x, teori relativitas sudah ada di ayat y, teori ekonomi H telah diramalkan oleh ayat z, dst. Perlu dicatat bahwa hampir 95% para ilmuwan pemenang hadiah Nobel adalah manusia religius yang tidak peduli lagi dengan agama! Upaya kristenisasi ataupun islamisasi (dst.) ilmu pengetahuan harus dipandang sebagai ketidakwarasan agamawan beserta ilmuwan itu! Dan kegilaan ini harus ditentang karena akan menjadikan ilmu pengetahuan beserta ilmuwan dibawah kendali para ulama/agamawan yang tidak waras. Satu hal lagi yang sangat penting dan membahayakan kesehatan bangsa adalah bila suatu agama dipakai untuk menentang suatu kebudayaan secara membabibuta. Dalam konteks Indonesia, yang saat ini sedang menjadi ajang pertempuran hebat antara budaya Timur Tengah lawan budaya Barat, terasa adanya kecendrungan untuk melawan semua teori Barat yang rasional-empiris dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus siap dan waspada untuk dibanjiri oleh teori2 ilmiah baru (buku2 baru) berbasis kitab suci dari ahli2 Timur Tengah atau dari sarjana lokal yang mendem agama dengan logika dan nalar yang sangat terbatas. Mabok agama bagi seseorang dipastikan terjadi apabila seseorang mengalami brain washing semenjak kecil hingga dewasa (jam pendidikan agama over dosis). Ciri2 suatu negara dalam kondisi mabok agama adalah : agamawan (ulama, pastur, pendeta, dst) menjadi rebutan partai politik, peran agamawan luar biasa dalam politik, parpol berbasis agama menjamur, semboyan hidup demi agama di nomor satukan, porsi siaran agama di TV dan radio lebih dari lima persen (dari total 24 jam) per hari, disetiap pameran buku – buku2 agama mendominasi isi pameran (lebih dari 50%), politikus merasa tidak afdol/Pede bila tidak menyinggung ayat2 suci-agama-Tuhan dalam pidatonya, tidak dapat membedakan agama dan kebudayaan asing tempat agama itu berasal – sehingga tingkahlaku-bahasa-seni-budaya mau ditiru/dijiplak semuanya, adanya negara asing yang menginginkan membuat Indonesia menjadi bonekanya melalui agama dan kebudayaannya, serta ada kecendrungan tuk membawa negara menjadi berbasis agama tertentu. Mendem/mabok agama menjadikan suatu negara tertinggal jauh dengan negara lain, dalam konteks Indonesia – terlihat ada unsur asing agar bangsa ini mabok agama, agar negara asing tetap bisa menguasai natural resourcesnya dan agar Indonesia tidak dapat berkembang menjadi negara industri yang maju yang bisa menjadi pesaing hebat bagi negara asing tersebut.
Dalil 14
Pemimpin sesuatu agama berikut pengikutnya sering kali memandang agama lain atau non agama sebagai tidak baik, seolah-olah hanya merekalah yang hidup tersuci didunia, hanya mereka yang baik lainnya jahat, hanya merekalah yang memiliki Tuhan dan kunci surga. Kondisi terburuk adalah apabila suatu agama memandang agama lain/non agama sebagai musuh Tuhan dengan berbagai istilah negatip seperti kafir dan ateis. Pandangan stereo tipe dan tipikal semacam ini apabila terusmenerus dicekokan (brain washing) sejak kecil akan sangat membahayakan ketentraman dan kenyamanan dunia, sebab manusia akan terkotak-kotak menjadi kelompok kami, kita dan mereka. Dunia bagaikan hendak mereka tanami melulu dengan pohon pisang saja, mereka tidak mau kenal pohon lain seperti appel, mangga, anggur, durian, dst. Agama lalu boleh dikatakan menjadi sumber prejudice (syak wasangka) yang ditanamkan sejak kecil, sehingga sejak kanak-kanak, seolah-olah orang tua tertentu sudah menanamkan perasaan ini pada anak-anak mereka melalui ajakan untuk tidak bermain atau bersahabat dengan kelompok anak-anak yang lain sebab beragama lain. Paham ‘kami dan mereka’ yang ditanamkan sejak kecil akan sangat merugikan pondasi kesatuan dan kebersamaan suatu bangsa, pluralisme menjadi terancam.
Dalil 15
Kegiatan keagamaan (kumpul-kumpul pendalaman, dakwah dan penghayatan keagamaan) yang terlalu sering (misal seminggu lebih dari 2 kali) tanpa diimbangi kegiatan rasio/ilmiah atau kegiatan kumpul2 dengan agama/keyakinan lain, hanya akan mempertebal syak prasangka terhadap kelompok lain dan menumpulkan rasio. Apalagi kalau dalam kumpul2 tsb. pekerjaannya hanya menghakimi keyakinan lain. Manusia modern lebih menyukai berkarya/bekerja daripada kumpul tuk mengobrol tentang kejelekan manusia/keyakinan lain. Di negara berkembang, dimana kumpul2 keagamaan jauh lebih sering terjadi daripada kumpul2 ilmiah/seminar/bisnis, ditengarai justru meningkatkan retaknya masyarakat atas dasar SARA!
Dalil 16
Manusia modern yang cerdas-kritis-bijak tidak lagi tertarik, apalagi terpaku, pada suatu agama tertentu. Mereka bukannya anti agama, apalagi anti Tuhan, tidak! Mereka hanya tidak ingin rasio dan rohaninya dipenjarakan oleh agamawan, mereka juga justru merasa sangat risi dan risau melihat kaum agamawan membelenggu, memenjarakan, bahkan mempermainkan Tuhan demi kepentingan duniawi semata yang sering dibungkus dengan ‘kertas kado yang mengatasnamakan’ Tuhan. Para manusia cerdas-bijak memahami bahwa Tuhan adalah sesuatu yang maha abstrak dan sulit, tidak ada perbandingan dan tidak ada kata yang memungkinkan melukiskan hal Itu. Dan hal yang tidak dapat dipikirkan, tidak bisa dibicarakan. Dan tentang hal yang tidak bisa dibicarakan tentang hal itu, lebih baik tutup mulut, kata Wittgenstein – seorang filsuf kelas dunia yang ternama. Mengingat kata bijak ini, tidak heran para manusia cerdas-bijak di negara modern lebih rajin dan lebih suka melakukan penelitian yang luar biasa dalamnya untuk mengungkapkan rahasia Tuhan beserta kebenaranNya, sehingga mereka menemukan kloning, genetika, genome, nano technology, artificial intelligence, wire less, dst., dan mereka tidak tertarik untuk hanya terusmenerus mempelajari Tuhan yang abstrak hanya sebatas kitab suci saja. Ini kebalikan dengan negara berkembang, yang suka mistik dan misteri, apalagi yang sedang mabok agama, udara negara ini dipenuhi oleh polusi hingarbingar-hirukpikuk doa, nyanyian bahkan sumpah serapah yang isinya kental sekali dengan kata2 kutipan dari ayat2 suci dan kata ‘Tuhan’, namun miskin tindakan, dan sekedar NATO : No Action Talk Only, malas kerja, ingin cepat kaya, alias munafik ! Memang bagi negara dengan tingkat budaya masih sebatas malas bekerja dan malas berpikir, agama seringkali menjadi tempat pelarian dan persembunyian. Selain itu, para manusia cerdas-bijak menyadari kata ‘change’, atau perubahan atau beradaptasi, yang merupakan watak yang dimiliki oleh alam semesta berikut manusianya ; hidup adalah perubahan, manajemen adalah perubahan, agama adalah perubahan, maka yang tidak mau berubah untuk menjadi lebih baik akan menjadi tertinggal dan menjadi beban bagi lainnya ; sebaliknya agamawan kaku bersama kitab sucinya bagaikan alergi atau bahkan antipati dengan kata ‘change’.

Penutup
Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonom, cendekiawan maupun pemuka agama bahu-membahu mendungukan manusia agar bumi dan isinya dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka. Mencintai, menyayangi, dan mengikuti Sang Guru : Krishna, Budha, Muhammad, Yesus, Dalai Lama, Yosef Smith, dsb., jangan sampai menjadikan manusia justru membatasi, membelenggu dan memenjarakan Tuhan Yang Maha Tak Terbatas serta membatasi sesamanya! Pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak pernah akan selesai. Oleh sebab itu, janganlah kita menghina Tuhan dengan mereduksi/memperkecil kemahabesaran Nya menjadi hanya satu buku yang sangat tipis sekali yang disebut kitab suci. Singkat kata: “kitab suci semua agama sangat terbatas, Tuhan maha tidak terbatas”. Agama masih diperlukan, namun belajar agama harus sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas! Manusia yang sudah mencapai derajat religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan wadahnya yaitu agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna) suatu ajaran agama, dan ia tidak pernah berhenti pada agama tertentu untuk terus mencari Sang Kebenaran! Dan ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak beragama namun mempunyai religiositas yang tinggi/dalam, sebab ia akan bebas merdeka dimana saja, kapan saja, dilingkungan apa saja, sebab Tuhan akan selalu menyertai dia! Manusia religius tidak akan pernah: membatasi Tuhan sebatas agamanya, membatasi sesamanya atas dasar agamanya; sebab Tuhan adalah milik semua orang, baik yang beragama maupun yang tidak beragama – sebagaimana matahari diciptakan untuk semua manusia, sebagaimana samudera diciptakan untuk trilyunan ikan. Tuhan juga bukan hanya masa lampau (ribuan tahun yang lalu, saat hidup para nabi), melainkan lebih mengarah ke masa depan (milyaran tahun lagi). Jadi, yang membedakan antara manusia religius dan manusia agamis yang berpandangan sempit adalah : yang satu ingin membebaskan Tuhan (dan manusia) dari belenggu agama beserta kitab sucinya, sebaliknya yang lain justru ingin memenjarakan Tuhan (dan manusia) kedalam satu buku tipis-edisi lama yang disebut kitab suci ! Bila manusia memiliki pandangan hidup seperti dalil-dalil diatas, niscaya tidak akan ada lagi radikalisme, intoleransi, fanatisme dan terorisme berbasis agama!

Sayang sekali, fakta sejarah mengisyaratkan bahwa agama dapat dan sering dimutlakan, dipolitisasi dan diperalat oleh para penguasa, dengan demikian agama lalu justru menjadi sumber berbagai krisis seperti etika, moral dan kebudayaan ; bahkan seringkali menjadi sumber ketidak harmonisan, pertikaian, kerusuhan, pembunuhan, malahan pertempuran antar manusia! Di musim perang dingin (1960an) Indonesia dijadikan ajang pertempuran kapitalisme lawan komunisme (USA versus Rusia); dan saat ini (2007) pertempuran budaya Timur Tengah lawan budaya Barat sedang terjadi dengan luar biasa hebatnya di bumi Nusantara, inilah nasib bangsa yang tak pernah dapat mandiri, hanya terombang-ambing dan hanya menjadi lapangan sepakbola (ajang pertempuran) ideologi besar dunia.

Disamping itu, sayang seribu kali sayang, kebebasan beragama di Indonesia termasuk semu, sebab agama2 baru, yang ternyata banyak sekali jumlahnya, dilarang masuk ke Indonesia (juga kebebasan untuk tidak beragama atau berkepercayaan)! Selain itu, lihatlah format KTP kita, KTP hanya memuat agama tertentu; padahal agama terus tumbuh dan berkembang, dan religiositas adalah pencapaian terbaik untuk umat manusia; dengan pilihan politis demikian, sudah dapat ditebak bahwa visi kedepan bangsa ini telah salah secara mendasar! Dengan sistem beragama model Indonesia, maka kualitas pemahaman Tuhan beserta kebenaranNya akan menjadi sangat terbatas dan terkotak-kotak, sistem ini mempersulit manusia Indonesia untuk menjadi manusia religius yang bebas merdeka dari ikatan agama yang statis-kaku-beku. Mungkin sistem ini dibuat demi melanggengkan/dominasi kemapanan agama2 asing yang sudah dahuluan masuk Indonesia. Bagi yang ingin mengetahui agama2 baru, silahkan search (cari tahu) agama baru di internet melalui Google dengan cukup mengetikan: new religion. Memenjarakan dan membatasi pengetahuan akan Tuhan hanya sebatas kitab suci yang tipis dan lama (maaf, ditinjau dari sisi usia), dan membatasi/menghalangi manusia untuk mengetahui rahasia Tuhan lebih lanjut-lebih jauh-lebih dalam lagi adalah dosa yang sangat besar yang tidak disadari oleh para pemimpin agama saat ini yang pemikirannya statis-kaku-beku-dogmatis.

Manusia terdiri atas jiwa dan raga, jiwa dapat di golongkan lebih jauh lagi menjadi nalar (rasio/pikiran) dan rohani (hatinurani). Untuk tumbuh dan berkembang, nalar membutuhkan konsumsi antara lain ilmu pengetahuan dan teknologi ; hatinurani membutuhkan antara lain religiositas, keindahan, spiritualitas/agama, kebenaran, dan kejujuran untuk tumbuh dan berkembang. Raga (jasmani) membutuhkan antara lain sandang, pangan, papan, dan kesehatan yang memadai ; bila kebutuhan raga tidak terpenuhi (misal gaji yang tidak manusiawi alias rendah sekali) maka hampir dipastikan kualitas jiwa (rasio dan rohani) menjadi tak terpikirkan alias buruk sekali. Untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang baik dan berkualitas, ketiga unsur pokok manusia ini (jasmani, rohani, dan nalar) harus mendapatkan konsumsi yang seimbang dan memadai ; ketidakseimbangan pemasukan ketiga unsur pokok ini akan menyebabkan kemunduran kualitas manusia, mundurnya kualitas manusia menyebabkan mundurnya kualitas bangsa ! Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aspek religiositas/agama/spiritualitas bukanlah segala-galanya, masih ada unsur pokok lain yang harus dipenuhi ! Dalam konteks Indonesia, memberantas korupsi (dan KKN) hanya sebatas dengan doa, siraman rohani, atau agama, adalah tidak mungkin alias kayal. Masyarakat justru harus waspada, sebab bukankah hal ini hanya untuk menutupi ketidakmampuan para politisi/pemerintah untuk mereformasi birokrasi dan memberantas KKN, sekaligus hanya untuk mengalihkan masalah pokok bangsa ke masalah agama (alias politisasi agama) !

Sebagai penutup, kami mohon agar artikel ini disebar luaskan kepada para: intelektual, aktivis kampus, dosen, mahasiswa, pemuka agama, dan cendekiawan keagamaan di segenap penjuru Nusantara dan ke seantero dunia baik secara: digital (diforwardkan/disimpan di archive suatu situs internet), suara (dibacakan di radio) maupun secara kertas (dicetak/dibukukan), dengan harapan untuk menjadi sumber pembahasan/diskusi yang sehat dan sumber riset mengarah ke doktoral (PhD) demi memicu pengertian yang lebih mendalam tentang kebudayaan, agama, politik dan Tuhan. Uluran tangan untuk lebih menyempurnakan dan atau menterjemahkan artikel ini kedalam bhs. Inggris yang baik/standar agar dapat di publish secara internasional melalui internet sangat kami tunggu2. Mengingat aspek agama dan mistik sangat dominan bagi bangsa Indonesia, maka dengan peningkatan kecerdasan dibidang kebudayaan/agama melalui internet, diharapkan kualitas SDM Indonesia dapat meningkat tajam, sehingga diharapkan negara Indonesia (dan dunia) menjadi lebih aman, tenteram dan sejahtera. Harap dimengerti, artikel semacam ini masih sulit (tidak mungkin) dipublish secara umum lewat mass media cetak di negara yang sebagian besar masyarakatnya masih mabok agama, maka kami mohon sudilah anda berpartisipasi menyebarkan artikel ini demi kemajuan bangsa dan untuk membebaskan Tuhan dari belenggu kebekuan agama (jadi, samasekali bukan untuk melawan agama ataupun meniadakan agama). Kritik dan saran anda untuk dapat dipakai memperbaiki/merevisi artikel ini sangat diharapkan. Sekian dan terima kasih.

Forum Religiositas Global
Sumber:
Web blog: http://www.religi21.blinkz.com/

Advertisements

USULAN TERHEBAT DI PBB : UBAHLAH KITAB SUCI AGAMA!

December 21, 2007

Sebuah usul diajukan kepada Perserikatan Bangsa Bangsa, isinya mewajibkan agar semua Kitab Suci dari semua agama di seluruh dunia ditinjau kembali. Semua ayat yang mengarah kepada intoleransi, kekejaman atau fanatisme, harus dihapus. Segala sesuatu yang mengurangi martabat, keadilan dan kesejahteraan manusia, harus dihilangkan. Semua ayat yang bias, rancu, dan membingungkan sehingga hanya membuat pertikaian antar pembacanya, harus diperjelas. Dan mengingat Kitab Suci ditulis ribuan tahun yang lalu, maka hal-hal baru yang belum tercakup harus ditambahkan.

Ketika diketahui bahwa usul itu diajukan oleh para wakil dari negara Impian yang meliputi : Muhammad, Yesus, dan Budha, maka para wartawan/paparazi bergegas menyerbu hotel tempat mereka menginap untuk minta penjelasan lebih lanjut. Penjelasan mereka sederhana saja : ‘’Kitab Suci, seperti hari Jum’at atau Sabat, adalah untuk manusia. Bukan manusia untuk Kitab Suci. Juga ibarat pakaian, apabila karena usia dan jaman, pakaian menjadi sempit, maka janganlah badan manusia yang dikecilkan, melainkan pakaiannya yang harus disesuaikan! Selain itu, janganlah berhenti mempelajari Tuhan beserta kebenaranNya hanya sebatas pada agama atau kitab suci saja, sebab kitab suci ditulis ribuan tahun yang lalu oleh para nabi yang sangat terbatas sekali umur dan dimensinya, sedangkan umur dan dimensi Tuhan maha tak terbatas. Jika ilmu Fisika saja tidak dapat dibatasi oleh fisikawan hebat seperti Newton, Planck, Einstein, dan para pemenang noble; apalagi Tuhan, adalah tidak mungkin bila Tuhan hanya dibatasi oleh nabi-nabi besar seperti Budha, Yesus, dan Muhammad. Jika semua ilmu yang ditemukan dan diungkapkan oleh semua ahli fisika seperti Newton, Planck, dan Einstein dijumlahkan, jumlahnya pasti tetap jauh lebih kecil dari Fisika itu sendiri; apalagi Tuhan, jika semua ayat serta kebenaran yang ditemukan dan diungkapkan oleh semua nabi besar seperti Budha, Yesus, dan Muhammad, dan yang dituliskan dalam kitab suci yang tipis, dijumlahkan, jumlahnya pasti tetap jauh lebih kecil dari Tuhan itu sendiri. Jadi, mempelajari Fisika tak pernah selesai, apalagi mempelajari Tuhan! Oleh sebab itu, sekali-kali jangan sampai sebuah buku atau seorang nabi membatasi Sang Penciptanya sendiri, yaitu Tuhan. Kitab suci dan nabi diturunkan bukan untuk membelenggu Tuhan, memecah belah manusia, apalagi memasung kebebasan berpikir manusia! Akhir kata, janganlah kamu mabok  agama, kalau negaramu tidak ingin terjebak dalam krisis kebudayaan yang berkepanjangan, Eropa pernah mengalami kegelapan ketika mabok agama diabad yang lalu, jadi janganlah bangsa lain mengulangi mabok agama lagi!”

Mendengar jawaban itu, para kuli tinta ini lalu pulang dengan suka cita yang mendalam sekali, dan menyebarkan penjelasan diatas melalui internet untuk berbagi suka cita dengan sesamanya diseluruh penjuru dunia, termasuk anda, para pembaca.

Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam

December 21, 2007

Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah. Saya melihat, kecenderungan untuk “me-monumen-kan” Islam amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi kecenderungan ini.

Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung membeku, menjadi “paket” yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri. Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal.

Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.

Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak. Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuk Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya. Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab. Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.

Ketiga, umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai “masyarakat” atau “umat” yang terpisah dari golongan yang lain. Umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan, dengan Islam. Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.

Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing agama.

Menurut saya, tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari’ah, atau tujuan umum syariat Islam. Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas kebebasan beragama, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks sejarah dan sosial tertentu, itu adalah urusan manusia Muslim sendiri.

***

BAGAIMANA meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).

Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual. Kita tidak diwajibkan mengikuti Rasul secara harfiah, sebab apa yang dilakukan olehnya di Madinah adalah upaya menegosiasikan antara nilai-nilai universal Islam dengan situasi sosial di sana dengan seluruh kendala yang ada. Islam di Madinah adalah hasil suatu trade-off antara “yang universal” dengan “yang partikular”.

Umat Islam harus ber-ijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. “Islam”-nya Rasul di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam dengan cara lain, dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi. Oleh karena itu, umat Islam tidak sebaiknya mandek dengan melihat contoh di Madinah saja, sebab kehidupan manusia terus bergerak menuju perbaikan dan penyempurnaan. Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi; wahyu terus bekerja dan turun kepada manusia. Wahyu verbal memang telah selesai dalam Quran, tetapi wahyu nonverbal dalam bentuk ijtihad akal manusia terus berlangsung.

Temuan-temuan besar dalam sejarah manusia sebagai bagian dari usaha menuju perbaikan mutu kehidupan adalah wahyu Tuhan pula, karena temuan-temuan itu dilahirkan oleh akal manusia yang merupakan anugerah Tuhan. Karena itu, seluruh karya cipta manusia, tidak peduli agamanya, adalah milik orang Islam juga; tidak ada gunanya orang Islam membuat tembok ketat antara peradaban Islam dan peradaban Barat: yang satu dianggap unggul, yang lain dianggap rendah. Sebab, setiap peradaban adalah hasil karya manusia, dan karena itu milik semua bangsa, termasuk milik orang Islam. Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu penafsiran Islam oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena itu harus ada kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran, termasuk yang datangnya dari luar Islam. Setiap golongan hendaknya menghargai hak golongan lain untuk menafsirkan Islam berdasarkan sudut pandangnya sendiri; yang harus di-“lawan” adalah setiap usaha untuk memutlakkan pandangan keagamaan tertentu.

Saya berpandangan lebih jauh lagi: setiap nilai kebaikan, di mana pun tempatnya, sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam-seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain-adalah “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat Marxisme.

Saya tidak lagi memandang bentuk, tetapi isi. Keyakinan dan praktik keIslam-an yang dianut oleh orang-orang yang menamakan diri sebagai umat Islam hanyalah “baju” dan forma; bukan itu yang penting. Yang pokok adalah nilai yang tersembunyi di baliknya.

Amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan “baju” yang dipakai, sementara mereka lupa, inti “memakai baju” adalah menjaga martabat manusia sebagai makhluk berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang Maha Benar. Ada periode di mana umat beragama menganggap, “baju” bersifat mutlak dan segalanya, lalu pertengkaran muncul karena perbedaan baju itu. Tetapi, pertengkaran semacam itu tidak layak lagi untuk dilanggengkan kini.

***

MUSUH semua agama adalah “ketidakadilan”. Nilai yang diutamakan Islam adalah keadilan. Misi Islam yang saya anggap paling penting sekarang adalah bagaimana menegakkan keadilan di muka Bumi, terutama di bidang politik dan ekonomi (tentu juga di bidang budaya), bukan menegakkan jilbab, mengurung kembali perempuan, memelihara jenggot, memendekkan ujung celana, dan tetek bengek masalah yang menurut saya amat bersifat furu’iyyah. Keadilan itu tidak bisa hanya dikhotbahkan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk sistem dan aturan main, undang-undang, dan sebagainya, dan diwujudkan dalam perbuatan. Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi.

Masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan semata-mata merujuk kepada “hukum Tuhan” (sekali lagi: saya tidak percaya adanya “hukum Tuhan”; kami hanya percaya pada nilai-nilai ketuhanan yang universal), tetapi harus merujuk kepada hukum-hukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah sendiri dalam setiap bidang masalah. Bidang politik mengenal hukumnya sendiri, bidang ekonomi mengenal hukumnya sendiri, bidang sosial mengenal hukumnya sendiri, dan seterusnya.

Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa’alihi bil ‘ilmi, wa man aradal akhirata fa ‘alihi bil ‘ilmi; barang siapa hendak mengatasi masalah keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai kebahagiaan di dunia “nanti”, juga harus pakai ilmu. Setiap bidang ada aturan, dan tidak bisa semena-mena merujuk kepada hukum Tuhan sebelum mengkajinya lebih dulu. Setiap ilmu pada masing-masing bidang juga terus berkembang, sesuai perkembangan tingkat kedewasaan manusia. Sunnah Tuhan, dengan demikian, juga ikut berkembang. Sudah tentu hukum-hukum yang mengatur masing-masing bidang kehidupan itu harus tunduk kepada nilai primer, yaitu keadilan. Karena itu, syariat Islam, hanya merupakan sehimpunan nilai-nilai pokok yang sifatnya abstrak dan universal; bagaimana nilai-nilai itu menjadi nyata dan dapat memenuhi kebutuhan untuk menangani suatu masalah dalam periode tertentu, sepenuhnya diserahkan kepada ijtihad manusia itu sendiri.

Pandangan bahwa syariat adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan. Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana. Saya tidak bisa menerima “kemalasan” semacam ini, apalagi kalau ditutup-tutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan hukum Tuhan. Jangan dilupakan: tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah sunnah Tuhan serta nilai-nilai universal yang dimiliki semua umat manusia.

Musuh Islam paling berbahaya sekarang ini adalah dogmatisme, sejenis keyakinan yang tertutup bahwa suatu doktrin tertentu merupakan obat mujarab atas semua masalah, dan mengabaikan bahwa kehidupan manusia terus berkembang, dan perkembangan peradaban manusia dari dulu hingga sekarang adalah hasil usaha bersama, akumulasi pencapaian yang disangga semua bangsa. Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami” dengan “mereka”, antara hizbul Lah (golongan Allah) dan hizbusy syaithan (golongan setan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara “Barat” dan “Islam”; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu. Pemisah antara “kami” dan “mereka” sebagai akar pokok dogmatisme, mengingkari kenyataan bahwa kebenaran bisa dipelajari di mana-mana, dalam lingkungan yang disebut “kami” itu, tetapi juga bisa di lingkungan “mereka”. Saya berpandangan, ilmu Tuhan lebih besar dan lebih luas dari yang semata-mata tertera di antara lembaran-lembaran Quran.

Ilmu Tuhan adalah penjumlahan dari seluruh kebenaran yang tertera dalam setiap lembaran “Kitab Suci” atau “Kitab-Tak-Suci”, lembaran-lembaran pengetahuan yang dihasilkan akal manusia, serta kebenaran yang belum sempat terkatakan, apalagi tertera dalam suatu kitab apa pun. Kebenaran Tuhan, dengan demikian, lebih besar dari Islam itu sendiri sebagai agama yang dipeluk oleh entitas sosial yang bernama umat Islam. Kebenaran Tuhan lebih besar dari Quran, Hadis dan seluruh korpus kitab tafsir yang dihasilkan umat Islam sepanjang sejarah. Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).”

Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya. Maka, fastabiqul khairat, kata Quran (QS 2:148); berlombalah-lombalah dalam menghayati jalan religiusitas itu. Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri.

Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini.

Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru berlawanan dengan maslahat manusia itu sendiri, atau malah menindas kemanusiaan itu, maka Islam yang semacam ini adalah agama fosil yang tak lagi berguna buat umat manusia. Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia. Mari kita tinggalkan Islam yang beku, yang menjadi sarang dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri.

ULIL ABSHAR-ABDALLA,

Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta

Dimuat di Harian Kompas, 18-11-2002

BEGITU INDAHNYA STRATEGI BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN BANGSANYA!

December 21, 2007

Abstrak – Begawan politik Soeharto memang hebat dalam menaklukan dan membodohi bangsanya sendiri. Pada peristiwa G30S di tahun 1965, beliau mampu menyembunyikan rahasia terkotor dan terbesar bangsa Indonesia melalui manipulasi sejarah 1965. Pada peristiwa Reformasi 1998, kembali beliau dengan indahnya mengecoh bangsanya sendiri melalui manipulasi reformasi! Kita masih ingat, ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan: a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh b) partai pendukung utamanya dibubarkan c) militer kembali ke barak d) ada repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara. e) Namun anehnya, selain keempat hal ini tidak terjadi di Indonesia, yang paling ajaib adalah Soeharto justru diperkenankan menunjuk penggantinya yaitu Habibie (mana ada diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti?). Penunjukan Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa Indonesia. Kelima point ini terjadi dikarenakan kepiawaian regim Soeharto dalam menyusupi gerakan reformasi, salah satu pimpinan reformasi adalah kader sejati Soeharto yang telah lama dipersiapkan dan sengaja diselundupkan, maka jadilah reformasi palsu seperti kita alami ini. Ternyata sejarah menandaskan bahwa bangsa Indonesia telah berkali-kali hanya dijadikan sekedar objek penipuan dan pembodohan, dari peristiwa 1965, hilangnya Supersemar, Serangan umum 1 Maret di Yogya, Tragedi Mei 1998, manipulasi reformasi 1998, dan berbagai kerusuhan yang direkayasa. Artikel ini berusaha membedah kepiawian politik Soeharto sekaligus untuk menggugat dan menyadarkan kaum cerdik-pandai Indonesia yang sampai saat ini masih tidur pulas. Dengan strategi politisasi agama Islam, dalam pengertian menyatunya militer dengan Islam (petinggi TNI AD dengan petinggi Muhammadiah), maka regim Orde Baru menjadi tetap selamat dan sejahtera hingga kini.
Sekilas Tentang Peristiwa 1965

Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkak di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak ditulis. Hampir di setiap negara berkembang ada kecenderungan bahwa negara asing atau multinational corporation (persh. multi nasional) selalu menggunakan militer lokal (lewat para jendralnya) untuk mengeksploitasi negara itu (Prof. Douglas Cassel). Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri. Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Mengingat regim Soeharto (para jendral TNI AD saat itu) adalah pelaksana lapangan (operator) dari strategi Amerika Serikat untuk penggulingan Bung Karno (lewat CIA), maka USA sampai saat ini memegang kartu As terhadap rahasia busuk sejarah hitam para mantan jendral tsb., dan mengingat politik Indonesia masih dikendalikan oleh para mantan jendral itu dibelakang layar, konsekuensinya adalah USA dapat mendiktekan semua kehendaknya terhadap Indonesia (lihat contoh kecil kasus Free port dan minyak Cepu); para mantan jendral yang saat ini rata2 berusia 65 tahun keatas merasa ketakutan setengah mati atas terbongkarnya rahasia mereka yang sekedar menjadi boneka USA dalam menjajah ekonomi Indonesia – inilah rahasia terbesar mengapa bangsa Indonesia tidak berkutik terhadap USA dan mengapa pelurusan sejarah Indonesia mengalami kesulitan luar biasa. Perlu dimengerti sehabis 1965, kekayaan alam Indonesia mulai dari LNG Arun di Aceh sampai dengan emas-timah Free Port di Irian sudah digaruk oleh negara USA dkk. (dimana KOPASUS dipakai sebagai centeng dengan biaya keamanan ratusan milyar). Atas rahasia pengkianatan para oknum jendral TNI itu, para politisi USA dengan mudah mendikte politisi Indonesia yang masih dikuasai para mantan jendral (ingat hampir semua parpol ada jendralnya) dengan cukup menggertak: ”Laksanakan perintahku, atau pilih rahasia moralmu yang sangat busuk – pengkianatan terhadap negaramu – akan kami bongkar tuntas!” Hubungan USA-Indonesia bagaikan tuan dengan jongos (pembunuh bayaran sekaligus pengkhianat bangsa)! Salah satu strategi yang ampuh bagi regim Soeharto untuk menyelamatkan diri adalah politisasi agama, terutama agama Islam. Selain itu, institusi TNI juga mereka gunakan sebagai perisai berlindung. Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC. Jadi, ditahun 1965, Indonesia dijadikan lapangan pertempuran ideologi antara USA dkk vs. Rusia dkk., yang menang USA (kapitalis); sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia (komunis).
Pada sekitar tahun 1990 an, Soeharto menyadari kesalahannya, disamping sudah terdesak oleh kaum reformis, ia pun ingin banting stir ingin lepas dari USA (yang dianggap merampok kekayaan alam Nusantara). Cara teraman adalah menggunakan politisasi agama. Dibawah ini akan dijelaskan dengan detil bagaimana begawan politik Soeharto dengan seni yang indah dan tinggi sekali memperdaya bangsanya melalui politisasi agama Islam. Dengan strategi save exit ini bangsa Indonesia bagaikan dimasukan kepihak Timur Tengah dalam menghadapi dunia barat! Dengan demikian, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.), namun hendak dimasukan ke mulut buaya (Arab/Timur Tengah). Berkat politisasi agama, regim Soeharto memang selamat-sehat walafiat; namun dengan hasil sampingan: Indonesia masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia s/d saat ini (2006) adalah kembali menjadi ajang pertempuran ideologi antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. Tulisan yang lebih detil tentang G30S dapat dibaca pada artikel yang lain. Fokus artikel dibawah ini pada manipulasi reformasi 1998.

***
Politisasi Agama Islam

Bila anda seorang intelektual Muslim yang dewasa dan rasional, maka setelah membaca fakta2 sejarah dibawah ini, lalu merenungkannya secara mendalam, barangkali anda tidak akan emosi dan marah, bahkan justru akan menitikan air mata kepedihan dan mengucapkan terima kasih kepada para penulisnya atas fakta, kritik dan saran yang terkandung didalamnya. Kegeniusan regim Soeharto dalam menaklukan bangsanya dengan berbagai cara dimana salah satu diantaranya adalah memanipulasi agama harus dibeberkan dengan jelas-tuntas. Sama sekali tidak ada maksud negatip dari hati penulis, kecuali keinginan mengungkapkan keprihatinan hati nurani penulis. Kecintaan penulis dkk. yang tulus dan dalam kepada Tuhan YME serta negara RI menjadi sumber utama inspirasi untuk menulis artikel ini. Berikut ini fakta2 sejarah nyata tersebut yang melukiskan BEGITU INDAHNYA STRATEGI BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN REFORMASI 1998!

– Ditahun 1965, Jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD telah memprovokasi/mendalangi massa NU (umat Islam, terutama di Jatim) untuk membantai ratusan ribu massa PKI yang tak berdosa dan tidak tahu menahu tentang politik di desa2, hal ini dilakukan untuk menutupi coup detat angkatan darat sekaligus untuk mengkambinghitamkan PKI. Strategi politik yang disebut “nabok nyilih tangan” (menghabisi musuh dengan meminjam tangan manusia lain) sungguh sangat memprihatinkan, disini agama dipakai untuk memprovokasi masa dan membantai bangsanya sendiri! Rasa hormat terhadap agama dan Tuhan boleh dikata tidak ada dalam hati regim Soeharto. Saat ini, baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang meminta maaf. Pembunuhan yang lebih kejam lagi adalah “pembunuhan kemanusiaan” terhadap anak cucu para anggota PKI yang tidak tahu menahu dan tidak terlibat politik dengan cara merintangi perkembangan kepribadian, emosi dan bisnis mereka (alat2 pembunuh yang diciptakan misalnya: litsus dan S.K bebas G30S). Operator pembunuhan nasional ini adalah pasukan KOPASUS/RPKAD dibawah pimpinan Sarwo Edhi (mertua presiden SBY). Pembunuhan para jendral (Ahmad Yani, Suparman, Tendean, dst) adalah dikarenakan mereka menolak melepas prinsip non blok dan menolak untuk berpihak pada regim Soehato/USA. Selain itu, mereka harus dihabisi Soeharto dkk. agar tidak menjadi pesaing/duri dalam daging. Nasution yang dapat menyelamatkan diri, akhirnya terpaksa bergabung dengan Soeharto; pada akhirnya: Jendral Soeharto menjadi presiden, dan Nasution menjadi ketua MPRS, mulai saat itu Indonesia dibawah regim militer (eksekutip dan legislatip dibawah militer) dan menjadi negara boneka USA! Di era itu, USA telah banyak berhasil membuat negara boneka, terutama di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia. Peristiwa G30S 1965 lebih tepat bila didefinisikan sebagai pengkianatan regim Soeharto terhadap bangsanya sendiri, bukan pengkianatan PKI. Dengan jurus “maling teriak maling”, Soeharto dkk. mendirikan monumen Lubang Buaya dan menginstruksikan agar seluruh jalan2 utama di Indonesia diberi nama para jendral yang tewas tsb., licik namun indah sekali bukan? Yang perlu dicamkan ialah: kalau menipu jangan tanggung2!
– Dijaman Soeharto (Orba): agama diperalat untuk menggaet suara pemilih disaat Pemilu, misalnya saja penyalahgunaan dai Zainudin MZ yang sengaja sering ditampilkan di TV, kemudian sengaja digelari “Dai Sejuta Umat” agar rakyat mudah terpikat. Jurus ini disebut “politik kambing putih”. Setelah populer, dai ini dibawa safari Ramadhan oleh menteri Harmoko untuk menipu rakyat demi kemenangan GOLKAR. Memenangkan suara pemilu suatu daerah diuamakan melalui para ulamannya. Semenjak regim ORBA s/d saat ini para kyai dan ulama terus diperebutkan oleh politikus untuk menjadi sekedar alat politik. Oleh regim Suharto, para ulama busuk ini dibuatkan wadah yang dinamai MUI. Oleh orang bijak, kata MUI lebih tepat kalau diterjemahkan sebagai Majelis Ulama Istana (atau alat penguasa). Saat ini adalah sulit untuk membedakan antara ceramah agama dan ceramah politik seorang ulama. Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang berani memarahi para ulama di MUI dan saat itu disiarkan secara langsung di TVRI! Gus Dur menandaskan bahwa para ulama ini adalah para pengejar harta dan kekuasaan. Sampai dengan saat ini MUI diberikan income yang sangat besar sekali yaitu melalui labelisasi halal/haram semua makanan (semestinya Badan POM). Sebagai pembanding, Probo Sutejo, paman Soeharto, berawal dari guru SMA, diberikan kekuasaan labelisasi cengkeh, maka jadilah ia trilyuner; Probo mampu menyuap Rp. 16 milyar ke pada hakim agung di MA! Disini agama kembali dipakai untuk menipu rakyatnya melalui jurus politik kambing putih: menokohkan orang untuk kemudian memperalatnya. Penokohan dilaksanakan dengan seringnya “kambing putih” tsb. dimunculkan di media informasi seperti tv, koran, dan radio; disini prinsip iklan dijalankan, semakin sering dimunculkan di media informasi, semakin dikenal dan disayang pemirsa, pembaca dan pendengar! Ingat di jaman regim ORBA dan s/d saat ini, manusia yang cerdas, bijak, bermoral dan baik, masih sulit untuk menembus mass media yang masih dikuasai oleh regim bablsan ORBA. Seandainya dapat muncul, maka itu hanyalah sekedar lipstick pemanis saja, orang baik boleh dikata hanya dapat slot waktu dan ruang yang minim sekali di mass media. Maka media alternatip seperti internet, misal news group dan we blog, adalah media terbaik untuk pencerdasan politik. Tidak heran, Gus Dur yang cerdas segera membubarkan Dept. penerangan begitu ia menjadi presiden! Departemen penerangan adalah sungguh2 alat pembodoh dan pembuta politik bagi masyarakat Indonesia. Tidak heran bila orang bijak dan pengamat dari luar negeri menyimpulkan: “Sungguh sulit menemukan orang baik di Indonesia!”
– Ketika regim militer sudah terdesak oleh kaum intelektual kampus, maka Habibie bersama para Jendral (Hartono, Ahmad Tirtosudiro, mbak Tutut, dsb.) mendirikan ICMI di Universitas Brawijaya Malang guna menarik simpati dan mengelabui kaum intelektual. ICMI menjadi begitu populer saat itu, lalu dibuat policy bahwa masuk ICMI adalah kunci jabatan birokrasi yang tinggi. Tak heran, saat itu, banyak Profesor dan Doktor terpikat masuk ICMI terbius tuk menduduki jabatan birokratis yang tinggi. Hal ini paling tidak menandakan adanya: kebutaan politik dan tingginya napsu manusiawi (harta dan kedudukan) para ilmuwan Muslim. Disini agama dipakai untuk menjaring, membius dan mengelabui cendekiawannya sendiri demi save exit regim ORBA. Jurus ini disebut “menjaring ikan gurami mabuk cacing”, hebat bukan? Ini juga bukti bahwa agama mempunyai potensi memabukan manusia sampai rasio manusia mengalami kemunduran luar biasa.
– Seiring dengan ICMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah naik haji, dan sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama menjadi Muhamad Hassan. Sebelumnya Suharto telah mengobral uang rakyat sebanyak 700 trilyun rupiah ke etnis Tionghoa yang nakal lewat BLBI (banyak Chinese yang baik, namun regim Suharto yang jahat lebih suka memilih yang hitam). Dengan demikian, regim ORBA ingin berganti baju, yang dulu: militeristik, pro nasionalis (dengan think-thank CSIS), dekat dengan Tionghoa, dekat dengan USA/IMF, dan terkesan menindas Islam, menjadi pro Islam atau bahkan ingin mengesankan diri sebagai pembela Islam, menjauhi Tionghoa dan Barat. Regim ORBA saat itu memang sudah diambang kejatuhan, maka strategi terjitu adalah politisasi agama. Disini agama dipakai untuk: meninggikan etnik keturunan (Arab), menipu para cendekiawan Muslim, meremehkan suku dan budaya asli bangsa sendiri (Jawa), memprovokasi anti Barat, dan menipu rakyatnya sendiri. Jurus ini disebut “bidadari bersolek diri”! Bagus bukan?
– Seminggu sebelum tragedi Mei 1998 yaitu pembantaian/perkosaan umat Tionghoa di Jakarta dan Solo, yang didalangi Wiranto dan Prabowo (masih perlu dikonfirmasi!) dengan operator RPKAD dan Pemuda Pancasila, para provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2 penduduk dengan kata2 bernuansa SARA yaitu:”Milik Pribumi Muslim”. Dengan demikian, para oknum jendral AD tsb. berusaha mengadu domba agama Islam dengan etnis Tionghoa. Nampak bahwa regim Suharto/militer ingin mengalihkan tanggung jawab salah urus negara kepada etnis Tionghoa (direpresentasikan oleh konglomerat hitam), selain itu juga ingin membuat citra bahwa umat Muslim layak marah kepada etnik Tionghoa. Padahal hampir semua bisnis militer, politisi dan pejabat tinggi kebanyakan dijalankan oleh konglomerat hitam Tionghoa (sekali lagi, di Indonesia tercinta ini jauh lebih banyak Tionghoa yang baik, bijak dan pandai daripada yang “hitam”, dan jika mereka ini dipakai secara baik dan benar, maka seperti Hongkong, RRC, Singapore, Malaysia, dan Thailand, Indonesia akan maju pesat). Manusia Jawa lalu merasa: dianaktirikan (apalagi dibunuhi dijaman 1965) dan Tionghoa dianak emaskan (diberi BLBI 700 trilyun); sebaliknya manusia Tionghoa merasa: dianaktirikan (diperkosa dan dilecehkan saat tragedi Mei 98, penindasan budaya, serta adanya persyaratan SKBRI) dan pribumi dianak emaskan (misalnya: diberi kesempatan lebih besar menjadi PNS); kemudian menjelang reformasi, keturunan Arab dianak emaskan. Dimulai semenjak regim Suharto, hubungan pribumi dan Tionghoa menjadi tidak harmonis bahkan cenderung saling curiga; demikian pula antara Jawa dan non luar Jawa (adanya sentralisasi mengakibatkan luar Jawa jauh tertinggal). Disini agama dipakai untuk adu domba, divide et’ impera (pemecah belah), kerusuhan, perkosaan bahkan pembantaian etnis. Jurus ini disebut “melempar tanggung jawab, memotong kambing hitam”. Luar biasa bukan?
– Ketika Akbar Tanjung diadili masalah penyelewengan dana Bulog, ia berdalih bahwa uang itu telah disalurkan ke yayasan Islam yang disebut Rudhatul Janah guna mengentaskan kemiskinan; padahal uang itu dipakai untuk mendirikan berbagai partai politik agar PDIP saat itu tidak menang mutlak. Para politisinya (terutama militer) lalu disusupkan kesemua parpol, bahkan termasuk PDIP! Selain itu, para mantan jendralnya juga banyak mendirikan parpol (Edi sudrajat, Wiranto, Sby, dst). Tujuan utama adalah walau kalah dalam eksekutip, namun menang dalam legislatip; arti yang lebih luas: dapat membuat koalisi antar partai demi mendominasi DPR dan untuk mengeroyok PDIP. Bila saat itu tetap hanya ada tiga partai, PDIP menang mutlak, pastilah regim ORBA sudah musnah! Salah satu partai politik yang didanai adalah PAN. Jurus penggunaan agama untuk bersembunyi dan sekaligus untuk ditunggangi disebut “bertengger dan bersenyum di jendela masjid”, cerdik bukan?
– Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan: a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh, misalnya Marcos, Shah Iran, Mobutu Seseseko, Jean Betrand Aristi, dst., b) partai pendukung utamanya dibubarkan, c) militer kembali ke barak, d) repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara. Namun yang terjadi di Indonesia adalah aneh bin ajaib: a) presiden berserta keluarga hidup aman-tentram-sejahtera di istananya, b) partai pendukung Orde Baru beserta ormas2nya tetap utuh, c) militer/polri tetap dominan, d) harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya tetap aman di bank-bank luar negeri (padahal beban utang negara terus-menerus meningkat, pengangguran makin tinggi, dan rakyat miskin makin banyak). Satu lagi hal yang paling tidak masuk akal adalah point e) Soeharto justru diperkenankan menunjuk penggantinya yaitu Habibie (mana ada diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti?). Penunjukan Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa Indonesia. Memang sayang sekali, bangsa ini baru terlelap tidur sehingga otaknya tidak mampu menganalisanya. Para kaum supercerdas politik (terutama pengamat politik luar negeri, akademisi kampus) mengatakan bahwa disamping Suharto mendapat jaminan keamanan dari kelompoknya (TNI AD lewat Jendral Wiranto dan Prabowo), Suharto juga mendapat jaminan keamanan dari salah seorang tokoh reformasi yang berhasil diselundupkannya… hebat bukan? Dalam politik, cara terbaik melumpuhkan lawan adalah strategi penyusupan (ingat dimasa ORBA: berapa kali PDI disusupi dan dipecah belah dari dalam). Siapakah diantara ketiga tokoh reformasi (Mega, Gus Dur, dan Amien Rais) yang merupakan tokoh selundupan itu? Ia adalah Doktor Amien Rais, warga keturunan Arab asal Solo, sahabat lama Prabowo jauh hari sebelum reformasi (Prabowo = menantu Suharto); jadi regim Suharto sudah lama mempersiapankan strategi penyusupan Reformasi. Amien Rais, kader brilian ICMI, kemudian pura-pura bentrok dengan ICMI, keluar dari ICMI dan menyelundup sebagai tokoh reformasi. Bukti lain bahwa Amien Rais adalah antek Suharto terlihat jelas dari gerak zig-zagnya. Saat itu, media informasi seperti TV, radio, dan koran masih didominasi regim ORBA, namun Amien Rais “dikambing putihkan” dengan cara banyak dimunculkan di media informasi. Jurus ini disebut “menyelundupkan monyet diantara kambing tengik”, cerdik bukan?
– Begawan Soeharto juga banyak menggunakan politisasi kebudayaan, misalnya politisasi bahasa: korupsi = salah prosedur, penculikan = diamankan, pelanggaran HAM = pembelaan negara, tidak bertindak = takut melanggar HAM, dst.; politisasi adat istiadat: mikul duwur mendem jero, diartikan hanya sekedar melupakan dan memaafkan pelanggaran HAM berat dan maha korupsi tanpa memandang keadilan dari sisi korban; politisasi kesehatan: sehat walafiat bilang sakit, sehingga bila kaum cerdik pandai terutama para mahasiswa berdemo, lalu dituduh sebagai tak tahu adat, tak beragama, dan tidak beraklak, sebab manusia tua renta yang sakit parah kok malah didemo! Padahal di Cendana, begawan Soeharto bersenda gurau dengan cucu-cucunya dan para kroninya! Kaum cerdik pandai sudah kalah angka dulu dalam hal politisasi kesehatan ini. Strategi politik sakit saat ini ditiru oleh para kroni Soeharto dan mewabah secara nasional.
– Dengan cerdik dan licik, Golkar mengetahui bahwa tidak akan bisa memenangkan pemilu, maka dengan strategi pelipat gandaan jumlah parpol dan penyusupan di setiap parpol (terutama para jendralnya), walau kalah dalam Pemilu sehingga tidak dapat menguasai eksekutip, namun Golkar tetap dapat menguasai legislatip (koalisi antar penyelundup diberbagai Parpol). Parpol baru bikinan para oknum jendral TNI ini (top down) dengan mudah dan dengan cepat dapat dibuat (Wiranto:Hanura, Sby:Demokrat, Edi S: Peduli Bangsa, Hartono: Pemuda Pancasila, dst). Sementara itu, parpol yang bersifat grass root dan bottom up dari para intelektual muda yang bermoral tinggi selalu dikacau dan diobrak-abrik keberadaannya melalui penggunaan ormas semacam Front Pembela Islam, Forum Betawi, Pendekar Banten, dan Pemuda Pancasila. Dengan demikian kekuasaan dan semangat Orde Baru telah dipindahkan dari istana presiden ke gedung parlemen di Senayan (dimana politikus ORBA telah diselundupan di partai reformis dan di banyak partai baru yang telah didanai dan dipersiapkan untuk mendominasi DPR/MPR). Dengan dominasi ini, tidak heran bila Amien Rais (ketua PAN) sebagai reforman selundupan berhasil dipilih dan didudukan sebagai ketua MPR, sungguh luar biasa taktik regim Soeharto! Kemudian, dengan kelicikan lagi, dilakukan amandemen UUD 1945 tahun 1999 yang dibikin(-bikin), maka kekuasaan pembuatan undang-undang menjadi dipindahkan dari istana negara ke gedung parlemen di Senayan. Saat itu (jaman Gus Dur dan Mega), presiden boleh dikata hanya menjadi bulan2an DPR. Pada saat pemilu selanjutnya, agar SBY menang, maka KPU telah disusupi oleh ”pakar2 bayaran” (rata2 akademikus dari UI) untuk melakukan berbagai kelicikan. Kelicikan ini membuahkan kemenangan SBY atas Megawati. Pentolan2 KPU banyak yang mendapat kursi empuk, a.l. Hamid Awaludin dan Arnas Urbaningrum. Kelicikan atau kecurangan para pakar ini hingga sekarang masih alot untuk disidangkan di pengadilan! Semestinya partai besar seperti PDIP berani menyatakan bahwa Pemilu y.l. tidak bersih! Kemudian, taktik koalisi antar penyelundup di Senayan dilakukan lagi. Jauh hari telah disiapkan dan didanai partai baru yaitu PKS (dari mana dana partai gurem ini? Ini mirip dengan kasus pendirian PAN). Saat kampanye, partai reformis selain PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan. (Ingat, Soeharto Cs. menggunakan Amien Rais, PAN, ICMI, HMI, KAHMI dan MUI untuk menyelamatkan diri; regim bablasan Orba menokohkan Nur Mahmudi dan membantu membentuk PKS demi memenangkan Pemilu). Pemilu waktu itu didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para intelektual), rebutan sultan (Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa ”kecerdasan bangsa” tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA. Peristiwa ”Amien Rais” berulang lagi, kali ini ketua PKS (Hidayat N. M.) berhasil dijadikan ketua MPR! Karena regim Orba beserta bablasannya sudah merasa menang angin baik di eksekutip dan legislatip, maka bandul kekuasaan dikembalikan lagi ke eksekutip! Simaklah, karena Presiden dan Wapres dipilih langsung, maka kedudukan eksekutip bagaikan tak tergoyahkan! Presidennya dari militer (dari partai kecil, ini tak masuk akal-merusak sistem ketatanegaraan), wapresnya dari GOLKAR, lalu apa sih bedanya dengan regim ORBA? Gerilya untuk mengkramatkan kembali UUD’ 45 dan Pancasila kembali ditingkatkan. Stasiun televisi, RRI, dan mass media mulai mereka kuasai lagi. Mengingat komposisi anggota DPR/MPR seperti ini, tidak heran bila DPR s/d saat ini (2006) mayoritasnya (masih) dipenuhi oleh mentalitas dan kendali kekuasaan semangat Orde Baru. Jurus yang busuk bukan? Jurus ini disebut “menggendam dan menilep manusia yang sedang mabuk kepayang”, luar biasa cerdas bukan?

Tugas Khusus Amien Rais dkk.

Sebagai reforman selundupan dan bayaran dengan tujuan justru untuk menyelamatkan regim Orba, maka Amien Rais dkk. secara cerdik membelokan arah reformasi dengan cara:
a) Ketika Suharto dengan seenaknya/inkonstitusional (“Kebijakan”) menunjuk Habibie sebagai penggantinya, maka kaum intelektual kampus dan para mahasiswa menolak Habibie (Hbb) dan ingin menurunkannya, Amin justru melindungi Hbb dengan himbauannya agar Hbb diberi kesempatan tuk memimpin reformasi dan Amin sanggup menjadi sparing partnernya apabila Hbb menyeleweng. “Kebijakan semu” ini hingga hari ini menyisakan multiplikasi persoalan berlarut-larut yang semu dan tak berujung pangkal karena semua keadaan tiba-tiba berada dalam gerakan darurat yang tumpang tindih, simpang siur, tanpa pernah diusut benang merah sebab-musabab persoalannya.
b) Ketika akhirnya PDIP menang pemilu (namun tidak bisa menang mutlak, karena partai peserta Pemilu disengaja banyak sekali dan terjadi penyusupan), mengingat regim ORBA masih merasa ragu & takut sekali apabila Megawati menjadi presiden (siapa tahu Mgw, anak Sukarno, akan balas dendam thd regim Suharto) maka perlu kelicikan untuk menjegal Mega, Amien pun menjadi dalangnya dengan membentuk poros tengah yang bernuansa Islami dan dengan jargon “Wanita belum bisa diterima oleh ulama Islam sebagai presiden”. Gus Dur yang dianggap kurang berbahaya terhadap regim ORBA dinaikan menjadi presiden (walau dari persyaratan kesehatan jasmani jelas2 tidak mungkin ia menjadi presiden sebab buta; namun saat itu hanya Gus Dur yang dapat menandingi kepopuleran Megawati).
d) Ketika dalam perjalanannya sebagai presiden, Gus Dur ternyata dianggap membahayakan regim Orba, maka Amin Rais kembali beraksi lagi melalui MPR/DPR dan berhasil menjatuhkan Gus Dur. Gebrakan gus Dur yang membahayakan regim Orba misalnya adalah: membubarkan Deppen dan menetralkan LKBN serta TVRI (senjata informasi paling canggih regim Orba, pembius dan pembodoh rakyat), pemulihan hak kebudayaan etnis Tionghoa, serta diangkatnya Baharudin Lopa menjadi Jaksa Agung, yang kemudian ditengah masa jabatannya, ia dihabisi oleh Regim ORBA. Regim Orba memang pakar dalam culik-menculik, menghilangkan orang, dan bunuh-membunuh serta adu domba sesama anak bangsa. Pengakuan/pertobatan ki Gendeng Pamungkas, si pembunuh bayaran yang sering disewa keluarga Cendana dan para jendral untuk mengeliminasi musuh politik, dalam suatu vcd yang mudah didapat dipasaran adalah salah satu bukti nyata. Termasuk yang dieliminir oleh regim Soeharto adalah: Soekarno, para mahasiswa idealis, Munir, serta jendral bersih dan cerdas Agus Wirahadikusumah, Baharudin Lopa, dan pengamat intelijen/militer sdr. Juanda yang juga diperkirakan dihabisin di Paris (2006). Sedangkan pembunuhan biadab dan membabi buta oleh regim militer ini adalah pada pembantaian PKI 1965 dan pembantaian/pelecehan etnik Tionghoa 1998.
e) Ditahun 2004, Gus Dur ngotot ingin jadi calon presiden lagi; namun karena tidak dibutuhkan lagi oleh regim ORBA, maka cacat matanya dipermasalahkan, kali ini tidak ada lagi yang membelanya! Megawati yang sudah bisa dijinakan dan mulai dekat dengan militer akhirnya direstui tuk jadi presiden.
g) Kemudian, dalam salah satu pidatonya, Amin Rais menandaskan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi Soeharto dengan alasan usia dan sakit; padahal Soeharto dkk. itu kunci keadilan, kunci KKN, kunci masalah dan pelurusan sejarah, kunci uang rampokan yang ada di bank2 L.N; Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi Jerman); jadi sebaiknya Soeharto diadili dulu, mengakui bersalah, barulah diampuni. Kasus terakhir, bulan Maret 2006, AM Fatwa dari PAN menjenguk Tommy Suharto dengan alasan kemanusiaan, diperkirakan ini adalah bagaikan balas jasa PAN atas pendanaan awal partai PAN oleh regim Soeharto, serta mengingat menguatnya kembali regim militer (kembali USA ingin dibelakang militer lagi). Dalam gerakan zig-zag si reforman palsu ini (Amin Rais), ia banyak mendapat dukungan resmi dan restu dari oraganisasi masa dan politik berbasis Muhammadiah seperti ICMI, HMI, KAHMI, dan MUI. Sampai dengan saat ini Amien Rais beserta petinggi ICMI, HMI, KAHMI, dan MUI sudah tidak pernah lagi mengusik Suharto beserta kroninya, karena sudah kenyang akan keduniawian: kekuasaan dan materi/uang. Dengan strategi politisasi agama Islam, dalam pengertian menyatunya militer dengan Islam (petinggi TNI AD dengan petinggi Muhammadiah), maka Suharto dan regimnya ternyata selamat, aman, tentram, dan sejahtera sampai sat ini; walau bangsanya menjadi semakin mundur dan tercabik-cabik.

Manipulasi Reformasi

Saat ini, masyarakat luas yang kebanyakan buta politik telah menerima bahwa telah terjadi reformasi, padahal belum! Regim ORBA adalah ibarat rangkaian seratus gerbong kereta api Argo Bromo, kemudian melalui reformasi semu, yang turun baru satu masinis saja, yaitu Soeharto, sedangkan lainnya masih mendominasi tatanan bisnis, birokrasi dan perpolitikan di Indonesia (terutama oknum petinggi militer/polri dan Golkar). Persamaan mathematik reformasi di Indonesia sungguh kayal dan irasional, persamaan itu adalah: Orde Reformasi = Orde Baru cukup dikurangi satu Soeharto saja!!! Selain itu, reformasi palsu ini didiktekan oleh para politisi penyelundup seperti dijelaskan diatas. Setelah rakyat yang buta politik tertipu dan percaya bahwa telah terjadi reformasi sungguhan, maka kaum bablasan ORBA ini lalu justru “mengobok-obok sampai mabok reformasi palsu” ini, setelah rakyatnya benar2 mabok, kemudian regim bablasan Orba menimpakan/mengalihkan semua krisis bangsa akibat kesalahan regim Suharto ke generasi reformasi palsu ini (jurus lempar tanggung jawab), dengan demikian generasi tua ini telah berhasil membalik situasi: rakyat yang bodoh politik menjadi rindu kembali akan regim Soeharto/militer dan mulai membenci reformasi (yang sebenarnya palsu ini). Kegagalan gerakan reformasi 1998 janganlah dipakai oleh politisi lama untuk mengembalikan ke regim jahat yang sebelumnya (ORBA), namun gunakanlah untuk mengkoreksi kesalahan reformasi 98! Semestinya manipulasi reformasi ini diungkapkan oleh para jurnalis dan intelektual kampus, namun sayang sekali, kecerdasan mereka/kita tidak sampai!

Jurus Obok2 Bangsa Sampai Mabok

Beberapa jurus obok2 regim bablasan ORBA agar masyarakat kembali rindu generasi regim Soeharto adalah sbb.:
– Regim Orba dan regim militer (para oknum Jendral TNI AD, khususnya KOPASUS) menyadari bahwa rasa damai dan aman adalah kebutuhan mendasar manusia. Maka mereka mendanai, mengorganisasikan, dan menggerakan berbagai kerusuhan di bumi Nusantara, terutama menggunakan atribut Islam, misal Front Pembela Islam. Kerusuhan di Ambon, Pontianak, Poso, dst. adalah ulah mereka. Sebenarnya untuk menangkap otaknya/pendananya, cukup mudah sekali, cukup melacak aliran dana di Bank dan menyadap via telepon serta internet; namun Badan Intelijen (BIN) tidak melakukannya, mengingat BIN selama ini justru menjadi alat militer tuk berkuasa; musuh BIN yang terutama adalah justru manusia Indonesia yang baik dan idealis (bukan musuh dari luar). Pensiunan BrigJen Sumarsono, waktu itu Sekjen PBSI, ditangkap dengan milyaran rupiah uang palsu. Para pengamat politik supercerdas langsung tahu bahwa uang palsu itu untuk membayari para preman perusuh; jadi ada maksud untuk sekaligus mengacau keamanan (kerusuhan) dan mengacau ekonomi (uang palsu), luar biasa liciknya para oknum jendral AD itu. Dengan diciptakannya berbagai kerusuhan, patahlah kepercayaan rakyat pada Reformasi, dan rakyat rindu pada regim militer lagi. Rakyat juga dibodohi bahwa telah terjadi reformasi, padahal sama sekali belum terjadi mengingat yang baru turun dari singgasana hanyalah Suharto, sedangkan semua posisi penting dalam birokrasi dan militer (terutama TNI AD) masih dikuasai regim Suharto. Para oknum jendral AD di Mabes Cilangkap memang pintar, mereka selalu berada diantara bandul jam “radikal dan nasionalis”. Ketika mereka terdesak oleh kaum Nasionalis, maka kaum radikal sengaja dibesarkan/dihidupkan, dengan demikian kaum Nasionalis jadi keder nyalinya; sebaliknya bila regim Militer terdesak kaum radikal Islam, maka regim militer akan berbalik ke kaum Nasionalis untuk bersama-sama menghabisi kaum radikal. Dengan strategi ini, para oknum pejabat militer akan selalu mendapatkan dana pengamanan yang luar biasa (baik dari negara maupun dari kaum minoritas yang kaya raya), bisnis keamanan sungguh luar biasa besarnya. Kembali politik kambing putih dilakukan. Pemilu terakhir yang dimenangkan SBY, regim militer mensponsori dan menggunakan PKS (dari mana dana partai gurem ini? Ini mirip dengan kasus pendirian PAN). Partai reformis selain PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan di mass media. (Ingat, Soeharto Cs. menggunakan Amien Rais, PAN, ICMI, HMI, KAHMI dan MUI untuk menyelamatkan diri; Sby cs. menokohkan Hidayat Nur Mahmudi dan membantu membentuk PKS demi memenangkan Pemilu). Pemilu waktu itu didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para professor), rebutan sultan (Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa keilmuan, kampus, science tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA.
– Beberapa hari sebelum pemungutan suara pada pemilu presiden 2004, bom sengaja diledakan di depan Kedubes Australia. Saat pemungutan suara, TV BBC Inggris mewancarai seorang pencoblos, pencoblos itu mengatakan tidak mau memilih Megawati lagi dengan alasan banyaknya bom yang meledak, terutama yang barusan meledak di kedubes itu. Itu adalah salah satu faktor penentu kemenangan militer kembali. Sungguh jitu strategi para oknum Jendral AD ini! Kemudian, pengebomnya berhasil dibekuk, padahal strategi ini buatan mereka sendiri (memakai radikal Islam)! Jadi sekali tepuk mereka dapat tiga point: membisniskan keamanan, menang pemilu & rakyat tambah percaya pada militer (bisa membekuk pelakunya).
– Berbagai kerusuhan dan adu domba di Nusantara di outsourcingkan (disubkontrakan) kepada pihak ketiga (misalnya Pemuda Pancasila, Laskar Jihad, FPI, dst) melalui makelar, kemudian makelarnya dibinasakan. Sebagai contoh, kasus dukun santet di Banyuwangi; otaknya di Jkt (pada umumnya petinggi RPKAD), pelaksananya preman2 luar Jkt dan luar Bwi; setelah sukses, makelarnya dihabisin, sehingga benang merah koneksi antara otak di Jkt dan pelaksana di BWI terputus; jadilah kasus itu sekedar kasus lokal, pejabat busuk di Jkt seolah-olah tidak terlibat. Kembali agama hanya jadi sekedar bulan2an para oknum pembesar AD/POLRI di Cilangkap dan di BIN. Bunuhmembunuh bangsa sendiri adalah kebiasaan regim Soeharto bersama para oknum jendral TNI AD/POLRI, ingat saja kasus pembunuhan massa PKI yang mencapai lebih dari 500 ribu jiwa.
– dst.

Penutup

Tahun 1965, regim militer mengkambinghitamkan PKI; tahun 1998 regim Orba membentuk orde reformasi palsu untuk dijadikan kambinghitam kegagalan reformasi. Senjata utama regim Soeharto (ORBA plus penerusnya) adalah: politisasi agama, money politics (terutama untuk membeli: ulama, ilmuwan kampus, dan anggota Parpol lain), penyusupan ke partai2 lain, pembentukan jaring mafia yang bagai multi level marketing (MLM) – dari Jakarta s/d pelosok desa, dan mendominasi mass media terutama televisi! Selain itu, mereka membutuhkan dukungan dari kelompok militer, polisi dan negara adidaya; hal ini menjadikan betapa sulitnya mereformasi ABRI dan polisi (karena politik identik dengan kekuasaan dan harta yang berlimpah)! Semua senjata ORBA ini bersifat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara, serta daya rusaknya maha hebat (melebihi jaman penjajahan Belanda) dan berjangka panjang (antar generasi)!
Regim Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi Jerman), dengan strategi yang amat indah namun licik, beliau dan kroninya dapat membelokan/menipu reformasi, dan kini beliau dengan kroni-kroninya menikmati hidup dengan aman, tentram dan sejahtera ditengah bangsanya yang miskin dan banyak menganggur! Sepandai-pandainya begawan politik Soeharto beserta regimnya (para mantan jendral TNI AD), namun politisi USA jauh lebih piawai dari mereka, terbukti hubungan USA-Indonesia mulai 1965 s/d sekarang adalah tetap bagaikan tuan dan jongosnya, USA memegang kartu truf/as atas kehormatan palsu para mantan jendral TNI AD itu. USA lewat CIA adalah otak internasionalnya, sedangkan Soeharto beserta jendral TNI AD yang terlibat kupdeta 65 adalah otak nasional sekaligus pembunuh bayaran atas bangsanya sendiri (antara lain yaitu”membunuh/mempercepat” wafatnya Bung Karno dan pembantaian massal PKI). Kejahatan kemanusiaan terbesar inilah yang menyebabkan Indonesia selalu mengalami berbagai krisis hingga sekarang. Dengan demikian, ternyata Indonesia hanya dijadikan sekedar tumbal cacat hati nurani para jendral TNI AD – jongos politikus USA! Dan para mantan jendral itu sekarang menyusup di jantung hati setiap parpol, menguasai politik bangsa, tidak mengherankan Indonesia bagaikan mengidap tumor besar atau bahkan penyakit kangker.
Kemudian, mengapa hingga saat ini penegakan hukum dan kebenaran sulit terjadi di Indonesia? Karena kaum generasi tua lah yang akan terkena duluan mengingat mereka ini adalah pelaku KKN dan pelanggar HAM kelas berat. Hampir 1/3 kekayaan Indonesia telah mereka rampok dan kuasai serta mereka amankan di bank2 luar negeri (bersama konglomerat hitam). Hingga detik ini, mereka ini masih bercokol, menyusup dan berkuasa di partai2 besar, sehingga mereka akan selalu berbisik kepada rekan2nya yang masih muda dengan ancaman sbb.: “Jangan dik, jangan lakukan agenda penegakan hukum dan kebenaran, kalau kamu ingin tetap menduduki kursi empukmu. Nanti kita yang tua akan terkena lebih dahulu, karena kami ini adalah kelompok pelanggar HAM dan pelaku KKN kelas berat. Nanti saja, kalau kami sudah wafat dan dimakamkan di Taman Pahlawan, silahkan laksanakan agenda itu dan bikinlah UU yang bagus untuk melawan ketidak adilan, serta silahkan luruskan sejarah 1965 tentang coup detat yang benar. Namun sekali lagi, lakukan semua itu setelah kami, generasi tua yang jahat dan busuk ini, mampus semua dan telah dimakamkan di taman makam pahlawan! Sekarang yang paling penting adalah justru mengalihkan perhatian bangsa dari masalah utama diatas, perkara hal ini akan membuat bangsa tambah sengsara dan bodoh, masa bodohlah, pokoknya dan yang terpenting – sampai dengan wafat kami, kami senantiasa: aman, tentram, sejahtera, dihormati, dan tidak terjamah hukum.” Seperti tumbangnya patung Kremlin, tembok Berlin, dan Sadam Husein yang memakan waktu lama, paling tidak penegakan hukum dan kebenaran di Indonesia harus menunggu institusi militer dan polisi kembali menjadi netral dan profesional. Kalau kekuasaan dan senjata masih memihak kejahatan, adalah tidak mungkin negara akan sehat-kuat dan aman-sejahtera. Jika TNI Polri masih saja berbisnis dan berpolitik, adalah tidak mungkin Indonesia lepas dari cengkeraman kejahatan, preman, dan perusahaan multi national (MNC), ini ibarat pagar makan tanaman, ini ibarat penjajahan oleh bangsa sendiri! Tahun 2008 ditandai hobi beternak partai politik oleh para mantan Jendral TNI, seperti Hartono, Prabowo, Wiranto, Edi Sudrajat, dan Try Sutrisno. Seolah-olah ada persaingan diantara orang sakit jiwa ini: mantan jendral harus punya parpol setelah pensiun! Di negara yang cerdas dan modern jumlah partai politiknya hanya sebatas dua atau tiga, di negara yang tidak dapat lepas dari krisis kebudayaan (bodoh) jumlah parpolnya lebih dari tiga puluh lima! Politik devide et impera dan politik kebodohan telah dikenakan pada bangsa ini oleh para mantan jendralnya sendiri, benar-benar gila!!!

Ajaran yang dapat dipetik dari Begawan Politik Soeharto adalah: pertama susupi dan tunggangi, kedua kalau menipu jangan tanggung-tanggung: tipulah bangsamu – bahkan kalau bisa, tipulah Tuhanmu melalui politisasi agama. Semoga ajaran beliau ini cepat berlalu seiring dengan berlalunya dia, semoga pengkianatan terhadap bangsanya sedikit demi sedikit terbongkar, dimulai dari terkuaknya Adam Malik agen CIA. Hai intelektual Indonesia, terutama di ITB, UI dan UGM, bangkit dan luruskanlah arah sejarah dan perjuangan bangsamu, jangan tidur pulas!

MENGAPA SEMAKIN BANYAK MANUSIA CERDAS-KRITIS-BIJAK MENINGGALKAN AGAMA?

December 21, 2007

Awal September 2006 diberitakan bahwa Alqaida, organisasi massa Islam bergaris keras, menyerukan agar presiden Bush dari USA dan perdana menteri Blair dari Inggris untuk memeluk agama Islam. Seruan ini sungguh luar biasa mengingat di dunia modern, baik di Asia (Jepang, Korea, Taiwan, Singapore), Amerika Utara maupun Eropa, agama apapun sudah tidak laku; mereka  yang sangat cerdas-kritis-analitis sudah tidak perduli lagi dengan agama, namun mereka amat sangat peduli dengan etika, moral, budi pekerti dan hukum. Hampir semua pemenang hadiah Nobel menandaskan tidak perduli lagi dengan agama! Beragama belum tentu ber Tuhan (lihat banyaknya kriminalitas, kemunafikan dan ketidak adilan di negara yang justru beragama dengan ketat); hidup yang baik dan religius adalah lebih penting dari beragama. Salah satu definisi umum tentang religiositas adalah: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan keadilan.
Para pembaca yang budiman, jangan salah sangka, tulisan ini sama sekali tidak untuk menyerang agama, melainkan untuk memberikan justifikasi/pembenaran tentang betapa sulitnya bagi para manusia yang cerdas-kritis-analitis-sadar untuk menerima ajaran suatu agama yang dipandang kurang/tidak rasional serta sekaligus untuk meluruskan cara beragama bagi sementara orang agar mereka dapat beragama secara rasional, sopan, baik, santun dan benar; sebab kalau umat beragama tidak aktip menentang struktur2 sosial dan organisasi2 ekonomi yang menyebabkan kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan, agama justru akan menjadi hantu masyarakat. Dan kalau agama tidak mengungkapkan cinta kasih Tuhan serta tidak menjadi pionir dalam konstruksi kemajuan budaya suatu bangsa, maka agama justru patut disamakan dengan sumber ketidakadilan, pembodohan, kemunduran dan penindasan. Agama masih diperlukan terutama bagi yang ingin berkenalan dengan Tuhan, namun belajar agama harus sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas! Manusia yang sudah mencapai derajat religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan wadahnya yaitu agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna) suatu ajaran agama, dan ia tidak pernah berhenti pada agama/kitab tertentu dalam mencari Sang Kebenaran melainkan untuk terusmenerus mencari sumber2 yang baru, sebab Tuhan bukan milik masa lampau (ribuan tahun yang lalu, saat hidup para nabi-nabinya), melainkan lebih mengarah ke masa depan (milyaran tahun lagi). Jadi, yang membedakan antara manusia religius yang cerdas-kritis-analitis-sadar dan manusia agamis yang berpandangan sempit adalah : yang satu ingin membebaskan Tuhan (dan manusia) dari belenggu agama beserta kitab sucinya, sebaliknya yang lain justru ingin memenjarakan Tuhan (dan manusia) kedalam hanya satu buku tipis-edisi lama yang disebut kitab suci! (Maaf kalimat terakhir ini sengaja disangatkan pengaruhnya!)
Kembali ke teriakan petinggi Alqaida untuk memeluk agama Islam bagi Bush dan Blair, ajakan ini selain terkesan sombong bahkan ada kesan lain: bodoh (namun setelah anda baca tuntas artikel ini). Kekuatan Islam adalah pada klaim bahwa agama Islam adalah sempurna dan yang terakhir. Klaim ini hanya berlaku pada manusia-manusia yang tidak mampu bersikap cerdas-kritis-analitis, sebaliknya bagi mereka yang cerdas-kritis-analitis-sadar, klaim ini justru merupakan kelemahan yang fundamental/mendasar bagi agama Islam. Justifikasi rasional dibawah ini mengungkapkan dengan tuntas hal ini.  Kontributor utama artikel ini adalah tiga orang profesor dari luar negeri yaitu dari Jepang, Inggris, dan Australia. Sebagai ilmuwan yang sudah tua dan sudah makan asam garam dunia, mereka ingin memberikan sumbang saran pemikiran. Intisari pembicaraan mengatakan bahwa Islam memang akan dapat menguasai dunia apabila dapat menjelaskan secara logik/nalar ajaran2nya kepada para calon pemeluknya, terutama kepada para cendekiawan/scientiests yang kebanyakan sudah tidak peduli dengan agama. Tantangan ini kiranya juga dapat diberlakukan bagi agama lain (jadi bukan hanya untuk Islam). Menurut mereka, dinegara modern, apa saja dapat diperdebatkan atau didiskusikan, termasuk agama, sebab debat dan adu argumentasi akan meningkatkan inteligensia (IQ) dan EQ, asalkan kaki, tangan dan emosi (kelahi) tidak boleh disertakan dalam debat! Larang-melarang diskusi/debat menunjukan tingkat kecerdasan yang masih jauh tertinggal, last but not least: semua manusia cerdas pasti gemar berdebat, dan jika Tuhan sendiri adalah Maha Cerdas, pastilah Beliau menyukai debat! Larang-melarang diskusi/debat agama atas dalih keyakinan biasanya diperintahkan oleh pemuka agama demi kelanggengan dominasi mereka untuk menguasai umat, agama dan Tuhan demi alasan politis, kekuasaan dan finansial. Ketiga Professor itu berpesan: “Jika suatu agama hanya mengakibatkan beban bagi umat manusia dan negara, menguras devisa negara, membuat kemuduran bangsa, bertentangan dengan logika/nalar, serta justru membatasi Tuhan dan mengkotak-kotakan manusia sehingga menyebabkan perpecahan bangsa, maka sebaiknya agama semacam itu ditinggalkan saja.” Berikut ini intisari pendapat ketiga ilmuwan tsb.
1.    Muhammad mengaku menerima kitab suci dari langit secara langsung (“tiban”), padahal bukti-buktinya (kitab) tidak ada. Seandainya kitab suci itu ada, seperti apakah maha karya Tuhan itu – semaha indah seperti apa, apakah tulisan tangan, atau sudah pakai komputer dengan Microsoft Word dan dicetak dengan laser printer?
2.    Bukankah semua ilmu pengetahuan dan teknologi dari hal yang sangat sederhana, misalnya: dalam matematika: satu tambah satu = dua, dalam Fisika: hukum Pascal, Archimedes, bejana berhubungan, dalam ekonomi: hukum permintaan, dst., sampai dengan yang amat canggih (atom, komputer, genetik, DNA), semuanya adalah jerih payah manusia selama ribuan tahun di laboratorium-laboratorium, dan tidak ada yang bersifat “tiban”. Sejarah membuktikan bahwa Tuhan belum pernah menurunkan hukum2 atau kaidah2 ilmu pengetahuan, agama dan teknologi dari langit secara langsung (tiban), misalnya dalam bentuk Kitab Suci Ilmu Pengetahuan dan Teknologi! Ingat kitab suci agama manapun selain Islam juga ditulis oleh manusia, bukan oleh Tuhan.
3.    Seandainya ada klaim dari seorang nabi tertentu yang menyatakan Tuhan telah menurunkan kitab maha suci bernama X langsung dari surga (tiban), dapatkah ia membuktikan keberadaan kitab itu? Catatan tambahan penulis: Tanpa ada bukti adanya kitab tiban itu, bukankah ini bagaikan Soeharto (mantan presiden RI) yang mengaku menerima Supersemar (yang sampai saat ini belum diketemukan aslinya), kemudian menggunakan surat kayal itu untuk berkuasa dan memperdaya bangsanya  (k.l. 200 juta dan yang s/d saat ini belum sadar tertipu!). Menurut kaum Moslem, Alqouran yang ada adalah hanya salinan dari yang asli (tiban), yang ternyata isinya mirip kitab suci orang Yahudi dan Kristen dengan tambahan-tambahan yang sulit diterima akal seperti terbukti dibawah ini dan menurut ahli bahasa banyak kesalahan bahasanya (lihat artikel di http://www.faithfreedom.org  ATAU http://indonesia.faithfreedom.org/ ). Jika alquran datang dari Allah, maka alquran haruslah independent, karya Tuhan adalah karya masterpiece dan bukan plagiat (meniru kitab suci orang Yahudi), apalagi kontradiksi, apalagi menganulir perkataan2nya/ firmannya yang lebih dahulu ada. Alquran mengutip dan membenarkan kitab2 sebelumnya (plagiat) tapi isi dan ajarannya seringkali bertolak belakang 180 derajat. Kemudian apa yang sudah dijungkirbalikan isinya ini lalu tidak boleh diupdate, dan dianggap sempurna. Inikah karya masterpiece Tuhan yang maha tahu dan mahabesar itu? Bukankah klaim kitab suci tiban (Alqouran) ini tidak nalar? Tidak adanya Alqouran yang asli ditambah adanya larangan menayangkan wajah nabi Muhammad (benar adakah si Muhammad itu?), membuat manusia yang cerdas dan mau berpikir kritis beranggapan bahwa Alqouran beserta nabinya adalah rekayasa manusia Arab yang genius. Perlu dimengerti, kitab suci agama selain Islam adalah buah tangan manusia dengan bukti-bukti historis yang nyata dan benar.
4.    Alqouran/Muhammad mengajarkan hukum dan aturan yang bersifat: mudah usang dimakan oleh jaman, statis, beku, tidak adil, bias gender, sulit diterapkan, berlaku lokal/regional (setempat), kurang menghormati hak asasi manusia, sadistik, ruwet serta banyak ayat2 yang tidak rasional dan ambigu/bias. Berikut ini penjelasan hukum-hukum itu, misalnya saja: cara berpakaian (jilbab); hukuman yang bersifat sadisme dan membuat cacat, misal potong tangan, penggal kepala dan dilempari batu; cara berpuasa yang tidak adil dan tidak rasional berdasarkan terbit-tenggelamnya matahari tanpa mengingat pembagian waktu dibelahan bumi yang berbeda-beda, ingat dikutub-kutub bumi, dimusim dingin matahari hanya muncul kurang dari 2 jam; pria boleh poligami, wanita tidak boleh poliandri (rasio laki: perempuan disuatu daerah tidak menentu); sex dianggap kotor, sehabis melakukan hubungan sex, pelaku wajib keramas; cara berdoa yang rumit; wanita baru mens dianggap kotor dan wanita dianggap sumber napsu berahi maka badan wanita harus dibungkus dari ujung kaki s/d kepala, cukup kelihatan mata saja; wanita mempunyai hak waris lebih sedikit, ini sungguh sangat bias gender dan tidak adil; cara berdoa yang terpisah antara pria dan wanita; anggapan wanita yang sedang datang bulan sebagai kotor; bias binatang: binatang anjing yang mempunyai kecerdasan tinggi dan penyayang manusia (mampu berteman dengan sangat akrab, dan sangat bermanfaat bagi manusia) di najiskan, misal tidak boleh kena air liurnya; babi yang sangat mudah diternakan dan dagingnya sangat lezat (yang menjadi sumber daging utama dinegara non Moslem) di haramkan; cara membunuh hewan yang kurang berperikehewanan (digorok lehernya); orang pindah agama diancam hukuman mati (ini melanggar sifat Tuhan yang Maha Demokratis dan menghormati hak asasi); mengklaim paling benar dan mengatakan kafir pada kelompok lain, kemudian menambahkan ajaran jihad yang bila dipadukan (kafir dan jihad) dapat dipakai sebagai alat politik yang ampuh; dan sebagainya. Hukum2/aturan2 yang semacam ini bukankah justru melecehkan Sang Pembuat (=Tuhan) karena mencerminkan bahwa sang pembuat kok sebegitu tolol, padahal katanya Tuhan itu Maha Cerdas, mengapa aturannya kok sebegitu mudah usang, bersifat lokal/regional dan irasional, serta banyak mengandung kekerasan dan kekejaman? Jadi, siapa yang tolol: Muhammad atau Tuhannya Muhammad? Bila Muhammad yang tolol, bukankah yang percaya kepada Muhammad lebih tolol lagi?
5.    Alqouran/Muhammad mengajarkan cara berdoa yang tidak logis. Sembahyang lima waktu berdasar terbit-tenggelamnya matahari, kembali lagi, Tuhannya Muhammad kurang mengerti/menyadari ciptaannya sendiri bahwa dikutub-kutub bumi, seringkali siang dan malam itu hampir tidak ada sama sekali! Selain itu, berdoa (dan berkotbah) dengan alat pengeras suara yang demikian hingar bingar menyiratkan bahwa Tuhannya Muhammad mengalami kesulitan/cacat pendengaran, disamping itu hal ini sangat mengganggu ketenangan, ketentraman, dan kepentigan umum (melanggar HAM). Demikian pula aturan bahwa pria dan wanita harus terpisah saat sembahyang, dan bila saling senggol sudah dianggap kotor, menunjukan atau mengajarkan/membiasakan pikiran yang mesum bagi umatnya. Aneh dan tidak logis, tuhannya Muhammad kurang cerdas dan suka berpikiran mesum/munafik, cacat pendengaran, dan suka mengusik ketenangan umum.
6.    Karena Alqouran tidak memakai perumpamaan2, maka ayat2nya yang mudah usang dan tertinggal jaman seringkali membingungkan umatnya (karena bias, misal: haram-halal, kafir, memandang rendah wanita, bunga bank, dst.). Contoh lain yang sangat aktual adalah ayat-ayat yang diungkapkan oleh banyak penulis di forum internet, misalnya tentang ayat2 yang mendasari: bunuh diri dan membunuh orang lain, jihad, dan mengkafirkan keyakinan lain, yang semuanya ini menjadi dasar suburnya terorisme. Karena ayat2 itu boleh dikata menjadi sumber terorisme, maka tanpa dapat di update, bahaya terorisme didunia ini akan selalu mengancam. Dan ancaman ini terbukti terjadi mengingat adanya klaim bahwa Muhammad adalah nabi terakhir sehingga mengakibatkan agama Islam menemui jalan buntu untuk dapat direformasi dari ayat2 yang bias, sudah usang dan tertinggal jaman. Kalau tidak ada nabi baru setelah Muhammad, lalu melalui siapa bila Tuhan ingin mereformasi kitab suci Nya? Menurut petuah orang bijak: Pakaian dijahit untuk manusia, jadi bukan manusia dijahit untuk pakaian. Maka, kalau ukuran manusianya berkembang seiring waktu, pakaian sering kali menjadi sesak, maka jahitannya perlu disesuaikan, bukan manusianya dikecilkan/dioperasi agar pas dengan pakaiannya. Mirip dengan kebijakan diatas, agama itu untuk manusia, bukan manusia untuk agama; jadi kalau ada ayat2 yang sudah tidak layak lagi atau sangat membingungkan, maka kitab suci tsb. harus di update. Bukan manusianya dipasung untuk tetap menerima ayat yang sudah sulit diterima akal, dan juga bukan Tuhannya yang dimasukan kejalan buntu (karena tak ada Nabi baru lagi), serta bukan Tuhannya selalu dipenjarakan kemasa lalu. Bukankah dengan pernyataan Muhammad seperti itu justru menandaskan bahwa Islam adalah agama masa lalu yang tidak punya masa depan lagi? Bukankah hal ini mengakibatkan perpecahan dan/atau pertumpahan darah diantara sesama umat Islam sendiri yang menginginkan reformasi Islam, misal antara Suni, Ahmadiah dan Siah, antara Muhammadiah dan NU, antara kolot dan liberal, dst.? Dimana mereka juga akan saling klaim lebih Islami, dan mungkin akan disertai kekerasan/pembunuhan/pertempuran? Sungguh sulit dimengerti dan dipercaya oleh nalar, bahwa seorang manusia yang berumur sangat terbatas justru berani membatasi Tuhannya yang usiaNya tak Terbatas dengan mengaku bahwa ia adalah nabi terakhir!
7.    Kontradiksi logika lain dalam Alqouran/Muhammad adalah adanya ayat yang menandaskan bahwa agama Islam adalah agama terakhir yang sempurna, tanpa cacat cela; namun dalam ayat yang lain ditandaskan bahwa Alqouran hanya bagaikan setitik pasir dipantai dibandingkan Tuhan! Salah satu ayat Alqouran dengan tegas menandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah dituliskan, maka tinta jumlahan semua samudrapun tidak akan cukup! Jadi Alqouran dan Islam adalah amat sangat maha terbatas sekali (jumlah ayat2nya hanya sedikit sekali), sedangkan Tuhan adalah amat sangat Maha Tak Terbatas! Dengan demikian, klaim bahwa Islam adalah agama yang sempurna merupakan kontradiksi yang luar biasa! Klaim agama yang sempurna ini juga merendahkan martabat Tuhan mengingat sesuatu yang Maha Sempurna dan Tak Terbatas kok cukup ditulis dan diwadahi hanya dalam buku setipis Alqouran (yang kurang dari 1000 halaman). Klaim ini juga menyiratkan bahwa Tuhan itu seolah-olah beragama Islam; hal ini adalah maha kayal sekali; bagaimana Sang Maha Cerdas dan Maha Sempurna dapat diwadahi pada sesuatu yang maha sempit, maha terbatas, dan banyak yang tidak nalar? Klaim ini juga menyiratkan bahwa bagi Muhammad – kebenaran itu absolut bukan relative, sungguh paham yang sangat membahayakan perbedaan pendapat bukan? Budha dan Isa tidak mendirikan agama, hanya para pengikut mereka yang mendirikan agama.
8.    Jika Tuhan itu ada, maka Ia pasti sesuatu yang hidup, sangat dinamis bukan statis. Namun mengingat aturan2 dalam Alqouran seperti dibahas diatas ternyata bersifat kaku, beku, dan statis (dan banyak yang sudah ketinggalan jaman, serta tak dapat di update karena Muhammad diklaim sebagai nabi terakhir), maka sifat ini merupakan kontradiksi logika yang parah sekali, selain itu juga merendahkan martabat Tuhan yang Maha Dinamis, Maha Tak terbatas dan Maha Sempurna. Agama Islam lalu bagaikan agama yang telah mati, karena hanya memiliki masa lampau tanpa memiliki masa depan.
9. Alqouran/Muhammad memuat logika yang saling kontradiksi. Dikatakan bahwa Allah adalah Maha Besar; namun Muhammad mengaku sebagai nabi terakhir. Mana mungkin sesuatu yang Tak Terbatas dan Maha Besar (Allah, milyaran tahun) cukup dijelaskan oleh satu orang saja yang SANGAT TERBATAS (Muhammad, umur manusia k.l. 80 tahun saja)! Nabi agama lain tidak ada yang berani membatasi Tuhannya! Setelah  Muhammad  ternyata masih banyak nabi bermunculan, silahkan cari di internet dengan mengetik: New Religion di http://www.google.com; contoh nabi lain misalnya Yoseph Smith pendiri gereja Mormon di tahun 800 (k.l 400 thn setelah Muhammad). Jika Allah bisa digambarkan sebagai garis lurus berawal dari minus tak terhingga (tak tahu kapan awalnya = alpha) dan berakhir di plus terhingga (tak tahu kapan berakhirnya = omega), maka mana mungkin seorang manusia yang hidup di suatu range (daerah) umur yang sangat terbatas (katakan 75 tahun) mampu menjelaskan sendirian secara tuntas sesuatu yang tak terhingga (milyaran tahun)! Bumi dan universe sudah milyaran tahun, dan masih milyaran tahun lagi, maka seribu, sejuta atau bahkan semilyar nabi disertai ilmuwan tidak akan pernah selesai mempelajari universe dan Tuhan! Ilmu Fisika tidak boleh diberhentikan cukup pada Newton saja bukan (ada Einstein, ada Quantum, dst.)? Adalah sangat kayal, pabila Newton menyatakan bahwa ia adalah Fisikawan terakhir dan hukum Newton adalah hukum Fisika terakhir yang sempurna dan Tuhanpun beraliran fisika Newtonian! Sesuatu Yang Maha Takterbatas (Tuhan) diklaim cukup dijelaskan oleh hanya seorang manusia yang amat sangat terbatas (Muhammad) dalam sebuah buku (Alqouran) yang sangat terbatas (tipis), edisi lama, dan tak pernah dapat direvisi pula, ini adalah maha kontradiksi dan maha kayal! Budha dan Isa tidak membatasi Tuhan, namun Muhammad dengan tegas membatasiNya!
10.    Secara umum dikatakan bahwa Tuhan itu menghormati hak asasi manusia (HAM). Namun hal ini tidak tercermin dalam Islam. Pindah agama dapat dikenai hukuman mati; kawin campur antara wanita Muslim dengan pria agama lain tidak diperkenankan; cara berdoa yang mengganggu ketentraman umum; mengkritik agama atau berbeda pendapat dengan lembaga tertinggi agama dapat di fatwa hukuman mati atau diteror dengan kekerasan. Kalau demikian, bolehkah dikatakan: “Tuhannya Islam” suka melanggar HAM?
11.    Pria Muslim dapat menikah dengan wanita non Muslim, tapi sebaliknya tidak berlaku. Pria boleh nikah lebih dari satu istri (poligami), tapi sebaliknya tidak berlaku. Pria boleh jadi imam, tapi sebaliknya tidak berlaku. Pria mendapatkan warisan yang lebih banyak dari pada wanita, dst. Kalau demikian, bolehkah dikatakan: “Tuhannya Islam” sangat bias gender dan tidak adil?
12.    Demikian pula dengan adanya ayat yang mengkafirkan keyakinan/pendapat/ajaran lain. Alqouran tidak mengenal agama selain Islam (3:85). Alqouran mengutuk orang yang tidak percaya Islam agar masuk neraka (5:10), dan mengelompokan mereka sebagai najis/kotor (9:28); Alqouran juga memerintahkan untuk memerangi mereka sampai tidak ada agama selain Islam didunia ini (2:193); Alqouran juga memerintahkan untuk membantai atau menyalib atau memotong tangan dan kaki pada orang yang tidak percaya Islam dan mengusir mereka keluar daerah dengan cara yang memalukan! Nampak bahwa Islam tidak seiring dengan sifat Tuhan yang menghormati pluralisme dan penuh kasih sayang. Tuhan menciptakan berbagai suku bangsa, berbagai jenis hewan dan tumbuhan, lalu Tuhan menciptakan matahari untuk menyinari semua ciptaanNya, bukan hanya untuk golongan tetentu saja. Berapa ratusan fatwa ulama Islam telah diterbitkan untuk melanggar HAM? Ini merupakan kontradiksi logika yang hebat.
13.    Bila melihat latar belakang kehidupan Muhammad, adalah sulit sekali untuk dapat menerima bahwa ia adalah seorang yang suci. Peri kehidupan sexnya dengan banyak pelayan wanitanya/harem dan terlebih lagi dengan Aisha, gadis yang baru 9 tahun umurnya, sangat mengherankan dan mengerikan. Hubungan sex antara pria umur 54 th (Muhammad) dan Aisha (9 th) bila terjadi saat ini akan disebut kasus pedophili, dan pelakunya (yang dewasa) dapat dituntut hukuman penjara. Hal ini juga merupakan kontradiksi logika yang luar biasa (seorang nabi melakukan pedophili).
14.    Dalam kariernya, Muhammad melakukan: 47 pertempuran, pembantaian orang Yahudi, pemenggalan kepala masal (dimana Muhammad hadir), dan pembunuhan terencana tokoh Arab yang menjadi lawan politiknya di Medina. Perangainya yang suka kekerasan sangat mewarnai berbagai ayat yang mentolerir kekerasan dalam Alqouran, sebagai contoh ayat2: (2:191), (9:123), (9:5), (8:65 ), (25:52), (66:9), (47:4) dan (9:29). Ini merupakan kontradiksi yang menarik, seorang nabi kok gemar kekerasan dan bersifat sadis! Menurut para ilmuwan diatas, Muhammad lebih tepat bila disebut politisi daripada nabi. Hal ini juga mengindikasikan bahwa Alqouran lebih mencerminkan watak Muhammad yang keras dan sadis dari pada watak Tuhan yang penuh kasih sayang!
15.    Pengakuan resmi dan pemberian kedudukan yang amat luar biasa tingginya dalam Alqouran terhadap Yesus, yang dikenal sebagai Isa, yaitu sebagai: nabi Ulul Azmi (nabi yang memiliki keunggulan dibandingkan nabi-nabi yang lain), bahkan Isa juga diberikan atribut yang indah yaitu sebagai pemuka manusia baik di Bumi maupun di Langit (sebagai referensi tambahan: Alwi Shihab, mantan menteri dan petinggi NU, harian Kompas tertanggal 18 Desember 2003), serta pernyataan bahwa nabi Isa lah yang akan menjadi hakim paling adil di akhir jaman nanti membuat Alqouran kehilangan kekuatan magis dan super naturalnya, serta menjadikan Muhammad nabi kelas bawah (apalagi bila hal ini sering diungkapkan ke publik, maka lebih baik jarang diungkapkan/diendapkan). Aliran Ahmadiah juga menghormati nabi Isa dan juga menantikan kedatangan kembali nabi Isa. Bila Isa adalah hakim di akhir jaman (kiamat) dan sangat dihormati, maka sudah selayaknya Isa dihormati, dan ajaran Isa semestinya diajarkan dalam Islam sebab nantinya Isa tentu saja akan mengadili manusia menurut ajaran Isa pula; namun ternyata ajaran Isa justru tidak diajarkan dan Isa diperlakukan bagaikan musuh. Ini juga merupakan suatu kontradiksi yang hebat, seorang nabi yang terunggul menurut Alqouran justru dimusuhi!
16. Muhammad, dalam  Alqouran, juga menganjurkan pada pemeluknya untuk belajar sampai ke negeri Cina. Perlu diketahui, saat itu adalah jaman keemasan agama Budha. Ini berarti, Muhammad secara tidak langsung menandaskan bahwa Budhism jauh lebih baik dari ajaran beliau! Atas pernyataan Muhammad sendiri itu (poin 15 dan 16), maka Islam adalah bagaikan agama yang rangking sekian – dibawah; tidak mengherankan manusia cerdas berkulit putih (Eropa) dan kuning sipit (Jepang, Korea, Taiwan, RRC) sulit menerima Islam mengingat Muhammad kurang yakin atas ajarannya sendiri! Maka juga tidaklah mengherankan bila ada kritik keras terhadap Islam, selalu dilawan dengan kekerasan bahkan ancaman pembunuhan bagi pengkritiknya!
17.    Konsep ke esaan Tuhan dalam Islam terlalu sederhana untuk melukiskan ke Maha Besaran Tuhan. Dalam agama Hindu, Tuhan digambarkan dengan indah sekali sebagai kekuatan 3 dewa: perusak, pemelihara, dan pencipta, kemudian dalam mengelola dunia, disertakanlah peran dewa-dewi yang lain, sungguh gambaran yang indah tentang Tuhan. Dalam agama Kristen, Tuhan digambarkan sebagai Tri Tunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus; sebagai gambaran: air dapat berupa fase cair, uap dan padat (es), atau sekaligus ketiga fase itu hadir bersama, namun ia tetap satu yaitu air; kebetulan umat Kristen telah bersentuhan dengan Tuhan secara manusiawi liwat fase Es (Isa), maka tidak heran bila mereka lebih sering menyebut Isa/Yesus (Es) daripada Tuhan (air). Untuk lebih memperjelas lagi, sebagai ilustrasi: dalam Islam seolah-olah manusia yang esa/tunggal/satu itu ya manusia, titik. Agama lain menggali  manusia lebih jauh lagi, misalnya ternyata manusia yang satu itu terdiri atas roh, pikiran dan jiwa, dimana ketiganya bisa dirasakan kehadirannya, namun tetap menyatu (esa) dalam diri manusia. Semua konsep tentang ke Esaan Tuhan ini (dan juga IPTEK)  dirumuskan oleh manusia, tidak ada yang jatuh dari langit (tiban), jadi mungkin dapat saja salah, ini tidak masalah mengingat manusia belum selesai atau tidak akan pernah selesai memahami Tuhan! Sayang sekali, ada sementara orang yang pengetahuannya/konsepnya tentang Tuhan hanya sedikit dan sederhana sekali, namun justru memarahi atau bahkan mengkafirkan manusia lain yang pengetahuannya tentang Tuhan justru lebih banyak! Ini bagaikan ilmuwan Blaise Pascal memarahi ilmuwan Einstein! Ini juga kontradiksi nalar. Ibarat manusia yang pengetahuan matematiknya haya terbatas pada tambah, kurang, kali, bagi – kok menyalahkan manusia yang tahu bilangan imaginer bersama diferensial integral!
18.    Muhammad/Alqouran mengajarkan penyembahan berhala yaitu batu besar yang disebut Ka’bah yang harus disembah dan menjadi kiblat doa umat Islam. Untuk melihat dan berdoa disekitar Ka’bah, biayanya sangat besar, namun Alqouran menganjurkan untuk dapat kesana sampai 7 kali! Kiblat doa ke Ka’bah juga akan menyulitkan bagaimana seorang astronaut Muslim harus berdoa diatas pesawat antariksanya (Ka’bah dibawahnya). Benarkah Tuhan menginginkan agar Ia disamakan dengan sekedar batu besar? Ataukah ini keinginan Muhammad untuk memperkaya negara, lembaga dakwah dan agamanya? Sungguh tidak nalar.
19.    Muhammad/Alqouran mendesain penjajahan kebudayaan bagi negara penganut Islam dengan cara: mengharuskan menggunakan bahasa Arab dan meniru cara berpakaian, berdoa, berseni, dan bernegara (politik, hukum dan perbankan). Dengan strategi ini, otomatis kebudayaan Arab akan mewabah, sebaliknya kebudayaan/keyakinan setempat akan tertindas. Benarkah Tuhan menginginkan bahasa dan kebudayaan Arab yang levelnya masih jauh tertinggal dibanding beberapa kebudayaan lain sebagai ‘terpilih internasional’? Atau ini sekedar keinginan Muhammad? Apakah ini bukan politisasi kebudayaan dengan mengatas namakan Tuhan, sungguh tidak nalar.
20.    Muhammad/Alqouran mengajarkan bahwa ada bulan suci yaitu Ramadhan (bias waktu), ada tempat suci yang disebut Mekah (bias tempat), kemudian menyatukannya dengan ajaran bahwa wajib bagi umat Islam untuk pergi naik haji ke Mekah dengan diberi imbalan kepastian naik surga, gelaran tamu Allah dan pengampunan dosa setahun. Dengan demikian, umat Islam tergerak untuk bolak-balik naik haji ke Mekah walau membutuhkan biaya banyak dan kalau perlu harus menjadi miskin (bagi yang ekonomi menengah/lemah). Benarkah Tuhan menginginkan DiriNya atau SurgaNya dijual semurah itu? Benarkah Tuhan menginginkan ajaranNya menjadi mesin pencuci dosa (ada money laundry, ada sin laundry)? Bukankah ini suatu bentuk ketidak adilan karena yang kaya bagaikan mampu membeli surga sedangkan yang miskin lalu tidak mampu membeli surga (katanya Tuhan Maha Adil)? Bukankah hal ini akan menyebabkan suatu negara terjerembab menjadi bangsa yang hipokrit-munafik karena penguasanya yang hobi berbuat KKN dan suka melanggar HAM ternyata merasa sama sekali tidak bersalah/berdosa atau bahkan merasa suci-bersih kembali dengan hanya cukup naik haji atau cukup berpuasa? Bukankah bagi negara diluar Arab, hal ini mengakibatkan terkurasnya devisa/uang setempat, pemiskinan masyarakat lokal, dan menumbuh suburkan pelaku KKN dan pelanggar HAM? Sedangkan bagi negara Arab, agama dibuat kedok sebagai penghasil “devisa pariwisata”. Benarkah Tuhan menginginkan hal setolol ini, menguras negara miskin, memakmurkan negara kaya?  Benarkah Islam hanya sekedar sin laundry?
21.    Alqouran mengajarkan umat Islam untuk beragama namun dengan sifat tidak percaya diri (PD). Berbagai main larang-melarang buku, pendirian, temuan baru, inovasi, kreativitas, dinamika baru dalam teologi, filsafat, kebudayaan, bahkan ilmu pengetahuan adalah buktinya. Demikian pula, “membungkus wanita Muslim” sehingga cukup sekedar nampak wajahnya atau matanya saja menunjukan kekurangan PD mereka; wanita bagaikan barang yang terus diplastiki takut rusak. Hal ini juga menyiratkan: a) ngeresnya (kotornya) pikiran, sebab cukup melihat betis wanita atau pusar wanita saja maka kaum lelakinya langsung terjangkit pikiran mesum (ngeres) atau berahi, di negara modern, wanita dan lelakinya sudah jauh sekali (bebas) dari “pikiran mesum” melihat hal2 seperti itu; b) tidak menghargai karunia Tuhan bahwa wanita itu diberi banyak keindahan, misalnya rambut (ingat ungkapan:”Rambut adalah mahkota wanita”), dan keindahan bodi wanita (ingat ungkapan:”Aduh bodinya indah sekali seperti gitar Spanyol”), jadi bila diibaratkan: membungkus wanita sama saja menutupi dengan plastik suatu pemandangan pegunungan atau patung karya seni yang indah sekali, jadi sama sekali tidak ada penghargaan bagi sang Pencipta keindahan itu sendiri! Bayangkan saja bintang film secantik Krisdayanti, Nicole Kidman, dan Agnes Monica hanya kelihatan matanya atau wajahnya saja! c) Justru dinegara muslim yang keras, perkosaan malah banyak terjadi (lihat nasib TKW Indonesia); sedangkan dinegara maju/modern para wanitanya mendapat perlindungan hukum yang baik (misalnya Sexual Harashment). Sungguh aneh dan tidak logis, suatu agama membuat pemeluknya untuk beragama secara tidak PD dan mengingkari atau tidak menghargai kreasi Sang Pencipta dalam hal keindahan yang naturalistik sekaligus memandang wanita hanya sebagai manusia kelas dua dan objek kambing hitam napsu berahi kaum pria!
22. Alqouran/Muhammad menandaskan bahwa Allahnya orang Islam tidak pandai mathematika. Hal ini nampak jelas sekali dari hukum pewarisan pada ayat [4:11] (Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu) dan [4:12] (Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak). Bila hukum pewarisan ini dilaksanakan, maka akan terjadi keanehan luar biasa, sebab akan terjadi kelebihan dari semestinya. Sebagai contoh, kasus 1: Jika yang meninggal memiliki 4 anak cewek plus 2 orang tua plus istri. Maka menurut hitung-hitungan muhammad adalah: 2/3 (ayat 11) + 1/3 (ayat 11) + 1/8 (ayat 12) = 1 + 1/8 (loh kok kelebihan?). Contoh kasus 2: jika yang meninggal TAK MEMILIKI anak, memiliki 1 suami dan 2 saudara PEREMPUAN: 1/2 (ayat 12) + 2/3 (ayat 176) = 1 + 1/6 (loh kok kelebihan lagi?). Untuk anda yang penasaran dan menginginkan contoh yang lebih detil lagi, silahkan baca contoh-contoh perhitungan pewarisan ala Islam yang begitu memalukan kesalahannya di http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/ (artikel paling banyak dibaca oleh pengunjungnya). Sungguh tidak masuk akal, Sang Maha Tahu ternyata dibuat menjadi bodoh mathematika oleh Muhammad melalui Alqouran!
23.    Seperti dikatakan diatas, Alqouran adalah sangat terbatas, tidak sempurna, dan buku yang termasuk edisi lama (ribuan tahun y.l), maka keinginan untuk meng Islamisasi berbagai hal seperti hukum negara (syariah), perbankan, ilmu pengetahuan, bahkan kebudayaan adalah jauh dari nalar dan bertentangan dengan sifat Tuhan yang dinamis dan menjujung tinggi pluralisme. Islamisasi segalanya bagaikan membalikan dunia kemasa lampau seperti abad kegelapan Eropa (abad 17) disaat bangsa Eropa dibuat mendem/mabok agama Kristen oleh para pemuka agama dan penguasa politik!
24.    Masih ada kaitan dengan diatas, hal lain yang kurang logik adalah jurus apologi. Karena para pemuka agama Islam kesulitan mencari negara berbasis agama Islam yang bisa dijadikan model/tauladan yang baik misalnya dalam hal demokrasi dan penegakan hukum, maka seringkali untuk menutupi kelemahan ini lalu mereka mengatakan bahwa negara lain: yang non Islam namun baik, itulah yang lebih Islami; misalnya saja hukuman tegas, yaitu mati, bagi para koruptor di RRC lalu diaku sebagai hukuman yang lebih Islami, lalu negara yang demokratis dan menghormati HAM secara baik seperti Eropa juga disebut lebih Islami daripada negara Islam; ini adalah jurus apologi yang sama sekali tidak fair, tidak logik, bahkan boleh dikata menipu umat: karena tidak mampu berprestasi sendiri, lalu meminjam prestasi orang/negara lain sebagai contoh, sekaligus sebagai pernyataan maaf atas ketidak mampuan berprestasi sendiri. Demikian pula dalam hal moral dan etika, karena negara Islam tidak mampu menjadi teladan atau justru menjadi negara KKN dan pelanggar HAM nomor wahid seperti Indonesia, maka para agamawan Islam yang merangkap sebagai politikus selalu menimpakan atau mengalihkan ketidak mampuan ini pada “kambing hitam” yang lain, misalnya kebudayaan barat, internet, maraknya pronografi, atau kurangnya pelaksanaan hukum syariah Islam. Padahal negara-negara modern yang aman, tentram, sejahtera, dan bermoral tinggi,  justru negara-negara yang sudah sangat dewasa dimana penduduknya tidak begitu perduli dengan agama lagi! Politik kambing hitam dan “buruk muka cermin dibelah” sangat membahayakan harmonisasi hubungan antar manusia didunia.
25.    Dengan banyaknya ayat2 yang kontradiksi dengan nalar, maka cara menyebarluaskan agama Islam adalah dengan sistim pendidikan yang searah dan memaksa (brain washing, doktriner, menghindari debat dan diskusi), dimulai sejak kecil (pengajarannya disertai hal2 yang tidak nalar dan sering menakut-nakuti anak kecil: misal dibakar dan ditusuk saat dineraka, mau masuk surga ditanyai agamanya apa, dst.), melalui politisasi agama – direkayasa berbagai aturan yang bertentangan dengan nalar dan HAM untuk melindungi agama Islam, misalnya: melarang kawin campur dan melarang pindah agama, mewajibkan hukum syariah untuk suatu daerah/negara, sistim pendidikan yang porsi jamnya banyak dihabiskan untuk agama, ancaman perusakan, kekerasan s/d pembunuhan bagi yang mengkritisi Islam (fatwa mati), dsb.  Pikiran modern yang berusaha mengupdate ayat2 yang sudah ketinggalan jaman ini sering dilawan dengan kekerasan, tak jarang pengusulnya difatwa hukuman mati. Tidak mengherankan bila sampai dengan detik ini belum ada negara Islam yang demokratis dikarenakan banyaknya kontradiksi logika dalam Islam yang harus dijagai dengan kekerasan dan kediktatoran. Padahal sifat Tuhan adalah logis dan demokratis, serta suka berdebat sebab Maha Cerdas, maka ini adalah kontradiksi nalar lagi!
26.    Last but not least, dengan karakteristik Alqouran yang: tiban, isi kitab yang banyak bertentangan dengan logika, bias lokasi, bias budaya, sangat terbatas oleh isi, ruang dan waktu, bias gender, bias binatang, bias tapsir, bias matematika, nabinya (Muhammad) meninggikan nabi lain (Isa) dan keyakinan lain (Budha), kurang mencerminkan kecerdasan Tuhan, kurang mencerminkan sifat kasih sayang Tuhan (banyak sadismenya), statis-kaku-beku, dan sama sekali tidak mencerminkan ke dinamisan dan ke Maha Besaran Tuhan, mengandung pelanggaran HAM, dst., maka dapat disimpulkan  bahwa Alqouran justru bertentangan dengan sifat-sifat Tuhan itu sendiri. Dalam perkembangannya, kotbah2 ulama Islam lebih banyak mengakomodasi kebenaran2 umum, kata2 mutiara, dan mutiara2 kehidupan yang juga umum dalam ceramah ke agamaannya.
Sebagai penutup, para prof. tsb. menyarankan agar:
o    Untuk anak2, agar pendidikan budi pekerti lebih dipentingkan daripada agama (abstraksi anak2 tentang Tuhan belum mampu). Di negara modern, agama sudah tidak diijinkan untuk diajarkan di sekolah2 negeri, agama adalah tanggung jawab pribadi dan orang tua.
o    Agama adalah kebebasan, maka sebaiknya dipilih setelah dewasa (bukan kanak2). Memilih agama jangan hanya karena umatnya banyak (jutaan atau milyaran), melainkan karena mutunya dan tingkat rasionalitasnya. Agama yang baik tidak mementingkan jumlah umat, melainkan mutu ajaran dan umatnya. Emas itu lebih sedikit daripada loyang/besi, doktor itu lebih sedikit daripada lulusan SMU/SMA, pemenang hadiah Nobel itu hanya segelintir manusia saja! Negara Belanda yang hanya sebesar Jawa Barat mampu menjajah Indonesia selama 300 tahun, Jepang yang hanya sebesar Sumatra mampu menundukan ekonomi dunia, jadi – jelas bukan? Bukan kuantitas, melainkan kualitas SDM. Apa gunanya agama dengan umat yang banyak dan dominan disuatu negara pabila rasionya terbelakang? Jumlah umat yang banyak namun hanya mempunyai mental seperti kumpulan domba atau kumpulan ikan adalah justru memprihatinkan; sebab setiap domba adalah peserta sekaligus pemimpin pada saat yang sama, masing-masing saling tergantung satu sama lain, masing2 begitu mudah saling menyesatkan. Kumpulan ikan juga berkeliaran dengan cara yang sama. Tapi manusia adalah lain, kita tidak selayaknya mengikuti yang lain secara membabi buta! Kita punya hati nurani, kecerdasan dan nalar! Jadi, justru mungkin sekali bahwa agama yang irasional namun mayoritas justru akan membuat suatu negara menjadi terbelakang dan masyarakatnya tertinggal dibanyak hal (kecerdasan, kemakmuran, keamanan dan keadilan). Atau dengan kata lain, umat beragama yang banyak, mayoritas, dominan namun dengan kualitas SDM setingkat kumpulan domba atau ikan justru hanya akan membebani serta merugikan negara dan bangsanya! Memilih agama tuk kemudian beragama secara santun, baik, dan benar harus tetap mengedepankan rasio yang kritis, analitis, dan berpengetahuan yang luas dan terbuka terhadap science dan agama2/kepercayaan2 yang lain.
o    Agama masih tetap diperlukan oleh banyak manusia sebagai salah satu pintu masuk untuk mengenal Tuhan, namun agama apapun seharusnya tidak boleh bertentangan dengan nalar/logika, apalagi menyetop pengetahuan (membatasi) tentang Tuhan sebatas pada nabi tertentu saja. Agama juga tidak boleh digunakan untuk membentuk dinding penyekat antar manusia, sebab Tuhan itu tidak membeda-bedakan.
o    Dinegara modern, manusia sudah tidak mencari atau berhenti pada suatu agama beserta kitab sucinya yang sangat terbatas, melainkan terus mencari Tuhan Yang Maha Tak Terbatas! Manusia modern berpendapat bahwa agama yang sangat terbatas itu telah dipakai untuk: membatasi Tuhan demi kepentingan duniawi semata dan juga membatasi (mengkotak-kotakan) manusia, dan seringkali ujung-ujungnya adalah duit (UUD) dan kekuasaan!
o    Pada umumnya, agama akan tumbuh dan berkembang dengan baik dinegara yang: miskin, tidak stabil dan terbelakang (pendidikan rendah, SDM masih bernalar rendah), serta banyak terjadi pelanggaran HAM dan KKN. Di negeri semacam ini, agama seringkali menjelma menjadi kekuatan/alat politik yang hebat, menjadi bahan mimpi (negara yang seperti surga) dan seringkali berubah wajah sekedar menjadi alat kekuasaan belaka serta menjadi alat perusak kerukunan bangsa! Sedangkan bagi para pelaku pelanggaran HAM dan KKN kelas berat, agama adalah tempat persembunyian yang teraman, tenang dan tentram, inilah salah satu sebab maraknya kemunafikan! Sebaliknya, agama di negara maju-modern sudah dianggap tertinggal dan kurang diperlukan mengingat watak agama yang seolah-olah sengaja dibuat statis-kaku-beku oleh para penguasa agama; agama yang seperti ini bagi manusia yang cerdas-maju-modern sudah bagaikan “sun set technology” (teknologi yang sudah mulai usang/terbenam), sebab prinsip utama kemajuan kebudayaan antara lain adalah evolusi dan perubahan (change).
o    Penyebaran agama seringkali ditumpangi kebudayaan asal agama itu; bila tidak hati2, maka perkembangan suatu agama dapat memusnahkan atau melemahkan/melecehkan kebudayaan lokal setempat.
o    Cara suatu bangsa memahami Tuhan dan mempraktekan agama mencerminkan tingkat penalaran bangsa itu sendiri.
o    Beberapa oknum pemuka agama mencoba mengkelabui umatnya dengan menandaskan bahwa kitab sucinya serba bisa-serba pintar, misalnya bisa menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst. Para ilmuwan busuk lalu diminta mengarang buku2 yang isinya, sebenarnya mengada-ada serta mereka-reka, seolah-olah kitab suci itu maha bisa, maha kuasa, dan maha luar biasa; padahal sebaliknya maha terbatas (baca point 7 diatas)! Ingat, tak ada seorang ilmuwan top pemenang hadiah Nobel yang mengkaitkan kepakaran keilmuannya dengan kitab suci, sebab kitab suci ditulis untuk menjelaskan adanya kehidupan yang jauh lebih baik setelah mati (surga) beserta cara untuk dapat sampai kesana (surga), jadi kitab suci ditulis bukan untuk menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst. Gejala rekayasa ini, yang sedang marak di Indonesia, dapat dipahami mengingat sejarah lampau agama Kristen/Katholik yang mulai ditinggalkan oleh para ilmuwan akibat kebekuan dan kekakuannya. Maka untuk menghindari nasib serupa (Islam takut ditinggalkan oleh umatnya), oleh sementara pemuka Islam, dirasa perlu dikarang ke maha hebatan kitab suci (Alqouran) yang mampu apa saja! Dan gerakan ini biasa disebut Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Harap hati2 dengan kecap nomor 1 dari oknum pemuka agama ini! Sungguh dapat dikatakan bahwa para oknum pemuka agama ini telah: menyesatkan, membodohi serta membuat bodoh umatnya bahkan bangsanya! Ingat di abad 17 hal sama telah terjadi di Eropa, saat Paus menghukum ilmuwan kelas Dunia seperti Gallileo, Kopernikus, dan Charles Darwin karena pendapat ilmuwan ini dianggap tidak Kristiani dan menentang kitab Injil. Bila tidak hati2, sejarah akan berulang kembali di Indonesia, akan terjadi penghukuman ilmuwan atas dasar tidak Islami dan menentang Alqouran.
o    Akhirnya, klaim bahwa agama Islam adalah sempurna dan yang terakhir justru merupakan kelemahan yang fundamental/mendasar bagi agama Islam, sebab Islam telah membatasi dan memenjarakan Tuhan pada masa lampau, dan telah mengkotak-kotakan manusia. Hal ini tidak terjadi pada Budha dan Yesus, sebab mereka tidak mendirikan agama dan tidak membatasi nabi, serta ajaran mereka banyak memakai kiasan yang dinamis (tidak statis). Cara mengajar mereka juga penuh perdebatan/dialog ketimbang brain washing (Islam). Maka tidaklah mengherankan bila manusia cerdas-kritis-analitis di Eropa dan di Asia (berkulit kuning-sipit) lebih suka mempelajari dan menghayati Budha dan Yesus daripada Muhammad.

Selain itu, ditinjau dari sisi Indonesia, pengamalan dan penghayatan agama Islam yang tidak santun dan cerdas akan sangat merugikan bangsa dan negara, sebagai contoh:
·    Masa puasa dan lebaran yang berkepanjangan (30 hari puasa, lalu lebaran, disertai lebaran ketupat menjadikan bangsa ini pemalas dan tertinggal, karena hampir 40 hari dihabiskan tuk hal yang kurang bermanfaat), dan yang lebih parah lagi: membuat bangsa ini mabok/mendem agama!
·    Masa naik haji, misalnya saja, seorang pejabat tinggi negara dapat menghabiskan waktu 45 hari kerja untuk pelaksanaan ibadah haji: 7 hari persiapan, 30 hari upacara di Mekah, 7 hari lagi pesta di rumah; simak komentar mereka yang naik haji: Naik haji jauh lebih berat dari pada mantu (menikahkan anak!); sungguh ini adalah pemborosan waktu, tenaga, dan uang yang luar biasa.
·    Devisa yang dihambur-hamburkan ke negara asing (Arab) melalui ibadah haji sungguh besar sekali.
·    Tradisi menghabiskan liburan panjang saat lebaran yang aneh, setiap tahun hilir-mudik, bolak-balik kembali ke daerahnya dengan mengatas namakan agama dan Tuhan, padahal butuh perjuangan yang luar biasa mengingat sulitnya dan mahalnya transportasi; bagi suku/bangsa lain mungkin cara menghabiskan liburan lebaran semacam ini adalah kebodohan! Manusia lain menggunakan liburan dengan cerdas yaitu refreshing dengan melihat benua/pulau/daerah lain, bukannya seperti katak dalam tempurung, hanya 2 titik saja yang dikunjungi sepanjang hidupnya itupun dengan amat bersusah payah!
·    Cara berdoa dan berkotbah pada masjid-masjid di Indonesia yang hingar-bingar sungguh sangat meganggu ketenangan dan ketentraman umum serta mencerminkan masyarakat yang berkualitas rendah dan suka melanggar HAM. Bukankah Tuhan tidak tuli?
·    Menyatunya pemimpin/organisasi Islam dengan politisi busuk telah menyebabkan Indonesia mengalami krisis kebudayaan yang berkepanjangan, contoh nyata adalah: krisis moral, kebodohan dan kemiskinan struktural.
·    Yang paling menakutkan adalah penggunaan agama oleh negara asing (misal Timur Tengah) untuk: politik, menjajah budaya dan ekonomi. Hal ini juga dapat membuat Indonesia pecah berantakan. Untuk hal ini harap dibaca artikel2 di web site diatas beserta link2nya.

SEBAGAI PENUTUP, ITULAHLAH BERBAGAI TANTANGAN YANG PALING BERAT BAGI UMAT ISLAM (DAN JUGA AGAMA LAIN). Masa depan agama sangat tergantung pada tingkat rasionalitas para pemimpin agama beserta umatnya. Agama yang tidak rasional sebaiknya bubar saja! Manusia modern-kritis-cerdas-analitis-sadar-bijak merasa sudah tidak perlu beragama lagi, namun merasa tertantang untuk terusmenerus untuk hidup secara baik-benar-religius. Mohon bantuan agar artikel ini dapat disebarluaskan, demi mencegah kesempitan beragama yang akan bermuara pada: penyempitan ke Maha Besaran Tuhan, pengkotak-kotakan manusia, kemunduran negara dan kerusuhan serta kriminal berbaju agama seperti terorisme dan perusakan/pelarangan atas beda faham. Dan kalau pemimpin umat beragama tidak aktip menentang (atau justru diperalat) struktur2 sosial dan organisasi2 ekonomi yang menyebabkan kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan, agama justru akan menjadi hantu masyarakat; kemudian kalau agama tidak mengungkapkan cinta kasih Tuhan serta tidak menjadi pionir dalam konstruksi kemajuan budaya suatu bangsa, maka agama justru patut disamakan dengan sumber ketidakadilan, pembodohan, kemunduran dan penindasan. Sekali lagi, agama masih sangat diperlukan, namun setiap agama harus selalu dijaga agar tidak boleh bertentangan dengan nalar/logika, untuk itu setiap agama perlu mengadakan revisi dan reformasi secara berkala, sebab Tuhan bukan hanya masa ribuan tahun yang lalu, melainkan masa depan yang masih milyaran tahun lagi. Kritik dan saran anda yang positip sangat ditunggu dan diharapkan, demi revisi artikel ini. Mohon dihindari emosi dan kebodohan yang tidak perlu dalam menanggapi setiap isi artikel yang cerdas; sebab sering terjadi dikarenakan ketidak mampuan menerima pendapat orang lain yang lebih: intelektual, maju, cerdas dan bijak, lalu mengakibatkan tanggapan emosional misal dalam bentuk anjuran untuk penutupan web site, atau bahkan kekerasan atau fatwa hukuman mati (seperti fatwa untuk Salman Rusdi, Ulil Absar Adhala, dll.). Terima kasih…

Sumbangan LSM Merah Putih Bali