BEGITU INDAHNYA STRATEGI BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN BANGSANYA!

Abstrak – Begawan politik Soeharto memang hebat dalam menaklukan dan membodohi bangsanya sendiri. Pada peristiwa G30S di tahun 1965, beliau mampu menyembunyikan rahasia terkotor dan terbesar bangsa Indonesia melalui manipulasi sejarah 1965. Pada peristiwa Reformasi 1998, kembali beliau dengan indahnya mengecoh bangsanya sendiri melalui manipulasi reformasi! Kita masih ingat, ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan: a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh b) partai pendukung utamanya dibubarkan c) militer kembali ke barak d) ada repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara. e) Namun anehnya, selain keempat hal ini tidak terjadi di Indonesia, yang paling ajaib adalah Soeharto justru diperkenankan menunjuk penggantinya yaitu Habibie (mana ada diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti?). Penunjukan Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa Indonesia. Kelima point ini terjadi dikarenakan kepiawaian regim Soeharto dalam menyusupi gerakan reformasi, salah satu pimpinan reformasi adalah kader sejati Soeharto yang telah lama dipersiapkan dan sengaja diselundupkan, maka jadilah reformasi palsu seperti kita alami ini. Ternyata sejarah menandaskan bahwa bangsa Indonesia telah berkali-kali hanya dijadikan sekedar objek penipuan dan pembodohan, dari peristiwa 1965, hilangnya Supersemar, Serangan umum 1 Maret di Yogya, Tragedi Mei 1998, manipulasi reformasi 1998, dan berbagai kerusuhan yang direkayasa. Artikel ini berusaha membedah kepiawian politik Soeharto sekaligus untuk menggugat dan menyadarkan kaum cerdik-pandai Indonesia yang sampai saat ini masih tidur pulas. Dengan strategi politisasi agama Islam, dalam pengertian menyatunya militer dengan Islam (petinggi TNI AD dengan petinggi Muhammadiah), maka regim Orde Baru menjadi tetap selamat dan sejahtera hingga kini.
Sekilas Tentang Peristiwa 1965

Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkak di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak ditulis. Hampir di setiap negara berkembang ada kecenderungan bahwa negara asing atau multinational corporation (persh. multi nasional) selalu menggunakan militer lokal (lewat para jendralnya) untuk mengeksploitasi negara itu (Prof. Douglas Cassel). Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri. Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Mengingat regim Soeharto (para jendral TNI AD saat itu) adalah pelaksana lapangan (operator) dari strategi Amerika Serikat untuk penggulingan Bung Karno (lewat CIA), maka USA sampai saat ini memegang kartu As terhadap rahasia busuk sejarah hitam para mantan jendral tsb., dan mengingat politik Indonesia masih dikendalikan oleh para mantan jendral itu dibelakang layar, konsekuensinya adalah USA dapat mendiktekan semua kehendaknya terhadap Indonesia (lihat contoh kecil kasus Free port dan minyak Cepu); para mantan jendral yang saat ini rata2 berusia 65 tahun keatas merasa ketakutan setengah mati atas terbongkarnya rahasia mereka yang sekedar menjadi boneka USA dalam menjajah ekonomi Indonesia – inilah rahasia terbesar mengapa bangsa Indonesia tidak berkutik terhadap USA dan mengapa pelurusan sejarah Indonesia mengalami kesulitan luar biasa. Perlu dimengerti sehabis 1965, kekayaan alam Indonesia mulai dari LNG Arun di Aceh sampai dengan emas-timah Free Port di Irian sudah digaruk oleh negara USA dkk. (dimana KOPASUS dipakai sebagai centeng dengan biaya keamanan ratusan milyar). Atas rahasia pengkianatan para oknum jendral TNI itu, para politisi USA dengan mudah mendikte politisi Indonesia yang masih dikuasai para mantan jendral (ingat hampir semua parpol ada jendralnya) dengan cukup menggertak: ”Laksanakan perintahku, atau pilih rahasia moralmu yang sangat busuk – pengkianatan terhadap negaramu – akan kami bongkar tuntas!” Hubungan USA-Indonesia bagaikan tuan dengan jongos (pembunuh bayaran sekaligus pengkhianat bangsa)! Salah satu strategi yang ampuh bagi regim Soeharto untuk menyelamatkan diri adalah politisasi agama, terutama agama Islam. Selain itu, institusi TNI juga mereka gunakan sebagai perisai berlindung. Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC. Jadi, ditahun 1965, Indonesia dijadikan lapangan pertempuran ideologi antara USA dkk vs. Rusia dkk., yang menang USA (kapitalis); sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia (komunis).
Pada sekitar tahun 1990 an, Soeharto menyadari kesalahannya, disamping sudah terdesak oleh kaum reformis, ia pun ingin banting stir ingin lepas dari USA (yang dianggap merampok kekayaan alam Nusantara). Cara teraman adalah menggunakan politisasi agama. Dibawah ini akan dijelaskan dengan detil bagaimana begawan politik Soeharto dengan seni yang indah dan tinggi sekali memperdaya bangsanya melalui politisasi agama Islam. Dengan strategi save exit ini bangsa Indonesia bagaikan dimasukan kepihak Timur Tengah dalam menghadapi dunia barat! Dengan demikian, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.), namun hendak dimasukan ke mulut buaya (Arab/Timur Tengah). Berkat politisasi agama, regim Soeharto memang selamat-sehat walafiat; namun dengan hasil sampingan: Indonesia masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia s/d saat ini (2006) adalah kembali menjadi ajang pertempuran ideologi antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. Tulisan yang lebih detil tentang G30S dapat dibaca pada artikel yang lain. Fokus artikel dibawah ini pada manipulasi reformasi 1998.

***
Politisasi Agama Islam

Bila anda seorang intelektual Muslim yang dewasa dan rasional, maka setelah membaca fakta2 sejarah dibawah ini, lalu merenungkannya secara mendalam, barangkali anda tidak akan emosi dan marah, bahkan justru akan menitikan air mata kepedihan dan mengucapkan terima kasih kepada para penulisnya atas fakta, kritik dan saran yang terkandung didalamnya. Kegeniusan regim Soeharto dalam menaklukan bangsanya dengan berbagai cara dimana salah satu diantaranya adalah memanipulasi agama harus dibeberkan dengan jelas-tuntas. Sama sekali tidak ada maksud negatip dari hati penulis, kecuali keinginan mengungkapkan keprihatinan hati nurani penulis. Kecintaan penulis dkk. yang tulus dan dalam kepada Tuhan YME serta negara RI menjadi sumber utama inspirasi untuk menulis artikel ini. Berikut ini fakta2 sejarah nyata tersebut yang melukiskan BEGITU INDAHNYA STRATEGI BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN REFORMASI 1998!

– Ditahun 1965, Jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD telah memprovokasi/mendalangi massa NU (umat Islam, terutama di Jatim) untuk membantai ratusan ribu massa PKI yang tak berdosa dan tidak tahu menahu tentang politik di desa2, hal ini dilakukan untuk menutupi coup detat angkatan darat sekaligus untuk mengkambinghitamkan PKI. Strategi politik yang disebut “nabok nyilih tangan” (menghabisi musuh dengan meminjam tangan manusia lain) sungguh sangat memprihatinkan, disini agama dipakai untuk memprovokasi masa dan membantai bangsanya sendiri! Rasa hormat terhadap agama dan Tuhan boleh dikata tidak ada dalam hati regim Soeharto. Saat ini, baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang meminta maaf. Pembunuhan yang lebih kejam lagi adalah “pembunuhan kemanusiaan” terhadap anak cucu para anggota PKI yang tidak tahu menahu dan tidak terlibat politik dengan cara merintangi perkembangan kepribadian, emosi dan bisnis mereka (alat2 pembunuh yang diciptakan misalnya: litsus dan S.K bebas G30S). Operator pembunuhan nasional ini adalah pasukan KOPASUS/RPKAD dibawah pimpinan Sarwo Edhi (mertua presiden SBY). Pembunuhan para jendral (Ahmad Yani, Suparman, Tendean, dst) adalah dikarenakan mereka menolak melepas prinsip non blok dan menolak untuk berpihak pada regim Soehato/USA. Selain itu, mereka harus dihabisi Soeharto dkk. agar tidak menjadi pesaing/duri dalam daging. Nasution yang dapat menyelamatkan diri, akhirnya terpaksa bergabung dengan Soeharto; pada akhirnya: Jendral Soeharto menjadi presiden, dan Nasution menjadi ketua MPRS, mulai saat itu Indonesia dibawah regim militer (eksekutip dan legislatip dibawah militer) dan menjadi negara boneka USA! Di era itu, USA telah banyak berhasil membuat negara boneka, terutama di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia. Peristiwa G30S 1965 lebih tepat bila didefinisikan sebagai pengkianatan regim Soeharto terhadap bangsanya sendiri, bukan pengkianatan PKI. Dengan jurus “maling teriak maling”, Soeharto dkk. mendirikan monumen Lubang Buaya dan menginstruksikan agar seluruh jalan2 utama di Indonesia diberi nama para jendral yang tewas tsb., licik namun indah sekali bukan? Yang perlu dicamkan ialah: kalau menipu jangan tanggung2!
– Dijaman Soeharto (Orba): agama diperalat untuk menggaet suara pemilih disaat Pemilu, misalnya saja penyalahgunaan dai Zainudin MZ yang sengaja sering ditampilkan di TV, kemudian sengaja digelari “Dai Sejuta Umat” agar rakyat mudah terpikat. Jurus ini disebut “politik kambing putih”. Setelah populer, dai ini dibawa safari Ramadhan oleh menteri Harmoko untuk menipu rakyat demi kemenangan GOLKAR. Memenangkan suara pemilu suatu daerah diuamakan melalui para ulamannya. Semenjak regim ORBA s/d saat ini para kyai dan ulama terus diperebutkan oleh politikus untuk menjadi sekedar alat politik. Oleh regim Suharto, para ulama busuk ini dibuatkan wadah yang dinamai MUI. Oleh orang bijak, kata MUI lebih tepat kalau diterjemahkan sebagai Majelis Ulama Istana (atau alat penguasa). Saat ini adalah sulit untuk membedakan antara ceramah agama dan ceramah politik seorang ulama. Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang berani memarahi para ulama di MUI dan saat itu disiarkan secara langsung di TVRI! Gus Dur menandaskan bahwa para ulama ini adalah para pengejar harta dan kekuasaan. Sampai dengan saat ini MUI diberikan income yang sangat besar sekali yaitu melalui labelisasi halal/haram semua makanan (semestinya Badan POM). Sebagai pembanding, Probo Sutejo, paman Soeharto, berawal dari guru SMA, diberikan kekuasaan labelisasi cengkeh, maka jadilah ia trilyuner; Probo mampu menyuap Rp. 16 milyar ke pada hakim agung di MA! Disini agama kembali dipakai untuk menipu rakyatnya melalui jurus politik kambing putih: menokohkan orang untuk kemudian memperalatnya. Penokohan dilaksanakan dengan seringnya “kambing putih” tsb. dimunculkan di media informasi seperti tv, koran, dan radio; disini prinsip iklan dijalankan, semakin sering dimunculkan di media informasi, semakin dikenal dan disayang pemirsa, pembaca dan pendengar! Ingat di jaman regim ORBA dan s/d saat ini, manusia yang cerdas, bijak, bermoral dan baik, masih sulit untuk menembus mass media yang masih dikuasai oleh regim bablsan ORBA. Seandainya dapat muncul, maka itu hanyalah sekedar lipstick pemanis saja, orang baik boleh dikata hanya dapat slot waktu dan ruang yang minim sekali di mass media. Maka media alternatip seperti internet, misal news group dan we blog, adalah media terbaik untuk pencerdasan politik. Tidak heran, Gus Dur yang cerdas segera membubarkan Dept. penerangan begitu ia menjadi presiden! Departemen penerangan adalah sungguh2 alat pembodoh dan pembuta politik bagi masyarakat Indonesia. Tidak heran bila orang bijak dan pengamat dari luar negeri menyimpulkan: “Sungguh sulit menemukan orang baik di Indonesia!”
– Ketika regim militer sudah terdesak oleh kaum intelektual kampus, maka Habibie bersama para Jendral (Hartono, Ahmad Tirtosudiro, mbak Tutut, dsb.) mendirikan ICMI di Universitas Brawijaya Malang guna menarik simpati dan mengelabui kaum intelektual. ICMI menjadi begitu populer saat itu, lalu dibuat policy bahwa masuk ICMI adalah kunci jabatan birokrasi yang tinggi. Tak heran, saat itu, banyak Profesor dan Doktor terpikat masuk ICMI terbius tuk menduduki jabatan birokratis yang tinggi. Hal ini paling tidak menandakan adanya: kebutaan politik dan tingginya napsu manusiawi (harta dan kedudukan) para ilmuwan Muslim. Disini agama dipakai untuk menjaring, membius dan mengelabui cendekiawannya sendiri demi save exit regim ORBA. Jurus ini disebut “menjaring ikan gurami mabuk cacing”, hebat bukan? Ini juga bukti bahwa agama mempunyai potensi memabukan manusia sampai rasio manusia mengalami kemunduran luar biasa.
– Seiring dengan ICMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah naik haji, dan sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama menjadi Muhamad Hassan. Sebelumnya Suharto telah mengobral uang rakyat sebanyak 700 trilyun rupiah ke etnis Tionghoa yang nakal lewat BLBI (banyak Chinese yang baik, namun regim Suharto yang jahat lebih suka memilih yang hitam). Dengan demikian, regim ORBA ingin berganti baju, yang dulu: militeristik, pro nasionalis (dengan think-thank CSIS), dekat dengan Tionghoa, dekat dengan USA/IMF, dan terkesan menindas Islam, menjadi pro Islam atau bahkan ingin mengesankan diri sebagai pembela Islam, menjauhi Tionghoa dan Barat. Regim ORBA saat itu memang sudah diambang kejatuhan, maka strategi terjitu adalah politisasi agama. Disini agama dipakai untuk: meninggikan etnik keturunan (Arab), menipu para cendekiawan Muslim, meremehkan suku dan budaya asli bangsa sendiri (Jawa), memprovokasi anti Barat, dan menipu rakyatnya sendiri. Jurus ini disebut “bidadari bersolek diri”! Bagus bukan?
– Seminggu sebelum tragedi Mei 1998 yaitu pembantaian/perkosaan umat Tionghoa di Jakarta dan Solo, yang didalangi Wiranto dan Prabowo (masih perlu dikonfirmasi!) dengan operator RPKAD dan Pemuda Pancasila, para provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2 penduduk dengan kata2 bernuansa SARA yaitu:”Milik Pribumi Muslim”. Dengan demikian, para oknum jendral AD tsb. berusaha mengadu domba agama Islam dengan etnis Tionghoa. Nampak bahwa regim Suharto/militer ingin mengalihkan tanggung jawab salah urus negara kepada etnis Tionghoa (direpresentasikan oleh konglomerat hitam), selain itu juga ingin membuat citra bahwa umat Muslim layak marah kepada etnik Tionghoa. Padahal hampir semua bisnis militer, politisi dan pejabat tinggi kebanyakan dijalankan oleh konglomerat hitam Tionghoa (sekali lagi, di Indonesia tercinta ini jauh lebih banyak Tionghoa yang baik, bijak dan pandai daripada yang “hitam”, dan jika mereka ini dipakai secara baik dan benar, maka seperti Hongkong, RRC, Singapore, Malaysia, dan Thailand, Indonesia akan maju pesat). Manusia Jawa lalu merasa: dianaktirikan (apalagi dibunuhi dijaman 1965) dan Tionghoa dianak emaskan (diberi BLBI 700 trilyun); sebaliknya manusia Tionghoa merasa: dianaktirikan (diperkosa dan dilecehkan saat tragedi Mei 98, penindasan budaya, serta adanya persyaratan SKBRI) dan pribumi dianak emaskan (misalnya: diberi kesempatan lebih besar menjadi PNS); kemudian menjelang reformasi, keturunan Arab dianak emaskan. Dimulai semenjak regim Suharto, hubungan pribumi dan Tionghoa menjadi tidak harmonis bahkan cenderung saling curiga; demikian pula antara Jawa dan non luar Jawa (adanya sentralisasi mengakibatkan luar Jawa jauh tertinggal). Disini agama dipakai untuk adu domba, divide et’ impera (pemecah belah), kerusuhan, perkosaan bahkan pembantaian etnis. Jurus ini disebut “melempar tanggung jawab, memotong kambing hitam”. Luar biasa bukan?
– Ketika Akbar Tanjung diadili masalah penyelewengan dana Bulog, ia berdalih bahwa uang itu telah disalurkan ke yayasan Islam yang disebut Rudhatul Janah guna mengentaskan kemiskinan; padahal uang itu dipakai untuk mendirikan berbagai partai politik agar PDIP saat itu tidak menang mutlak. Para politisinya (terutama militer) lalu disusupkan kesemua parpol, bahkan termasuk PDIP! Selain itu, para mantan jendralnya juga banyak mendirikan parpol (Edi sudrajat, Wiranto, Sby, dst). Tujuan utama adalah walau kalah dalam eksekutip, namun menang dalam legislatip; arti yang lebih luas: dapat membuat koalisi antar partai demi mendominasi DPR dan untuk mengeroyok PDIP. Bila saat itu tetap hanya ada tiga partai, PDIP menang mutlak, pastilah regim ORBA sudah musnah! Salah satu partai politik yang didanai adalah PAN. Jurus penggunaan agama untuk bersembunyi dan sekaligus untuk ditunggangi disebut “bertengger dan bersenyum di jendela masjid”, cerdik bukan?
– Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan: a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh, misalnya Marcos, Shah Iran, Mobutu Seseseko, Jean Betrand Aristi, dst., b) partai pendukung utamanya dibubarkan, c) militer kembali ke barak, d) repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara. Namun yang terjadi di Indonesia adalah aneh bin ajaib: a) presiden berserta keluarga hidup aman-tentram-sejahtera di istananya, b) partai pendukung Orde Baru beserta ormas2nya tetap utuh, c) militer/polri tetap dominan, d) harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya tetap aman di bank-bank luar negeri (padahal beban utang negara terus-menerus meningkat, pengangguran makin tinggi, dan rakyat miskin makin banyak). Satu lagi hal yang paling tidak masuk akal adalah point e) Soeharto justru diperkenankan menunjuk penggantinya yaitu Habibie (mana ada diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti?). Penunjukan Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa Indonesia. Memang sayang sekali, bangsa ini baru terlelap tidur sehingga otaknya tidak mampu menganalisanya. Para kaum supercerdas politik (terutama pengamat politik luar negeri, akademisi kampus) mengatakan bahwa disamping Suharto mendapat jaminan keamanan dari kelompoknya (TNI AD lewat Jendral Wiranto dan Prabowo), Suharto juga mendapat jaminan keamanan dari salah seorang tokoh reformasi yang berhasil diselundupkannya… hebat bukan? Dalam politik, cara terbaik melumpuhkan lawan adalah strategi penyusupan (ingat dimasa ORBA: berapa kali PDI disusupi dan dipecah belah dari dalam). Siapakah diantara ketiga tokoh reformasi (Mega, Gus Dur, dan Amien Rais) yang merupakan tokoh selundupan itu? Ia adalah Doktor Amien Rais, warga keturunan Arab asal Solo, sahabat lama Prabowo jauh hari sebelum reformasi (Prabowo = menantu Suharto); jadi regim Suharto sudah lama mempersiapankan strategi penyusupan Reformasi. Amien Rais, kader brilian ICMI, kemudian pura-pura bentrok dengan ICMI, keluar dari ICMI dan menyelundup sebagai tokoh reformasi. Bukti lain bahwa Amien Rais adalah antek Suharto terlihat jelas dari gerak zig-zagnya. Saat itu, media informasi seperti TV, radio, dan koran masih didominasi regim ORBA, namun Amien Rais “dikambing putihkan” dengan cara banyak dimunculkan di media informasi. Jurus ini disebut “menyelundupkan monyet diantara kambing tengik”, cerdik bukan?
– Begawan Soeharto juga banyak menggunakan politisasi kebudayaan, misalnya politisasi bahasa: korupsi = salah prosedur, penculikan = diamankan, pelanggaran HAM = pembelaan negara, tidak bertindak = takut melanggar HAM, dst.; politisasi adat istiadat: mikul duwur mendem jero, diartikan hanya sekedar melupakan dan memaafkan pelanggaran HAM berat dan maha korupsi tanpa memandang keadilan dari sisi korban; politisasi kesehatan: sehat walafiat bilang sakit, sehingga bila kaum cerdik pandai terutama para mahasiswa berdemo, lalu dituduh sebagai tak tahu adat, tak beragama, dan tidak beraklak, sebab manusia tua renta yang sakit parah kok malah didemo! Padahal di Cendana, begawan Soeharto bersenda gurau dengan cucu-cucunya dan para kroninya! Kaum cerdik pandai sudah kalah angka dulu dalam hal politisasi kesehatan ini. Strategi politik sakit saat ini ditiru oleh para kroni Soeharto dan mewabah secara nasional.
– Dengan cerdik dan licik, Golkar mengetahui bahwa tidak akan bisa memenangkan pemilu, maka dengan strategi pelipat gandaan jumlah parpol dan penyusupan di setiap parpol (terutama para jendralnya), walau kalah dalam Pemilu sehingga tidak dapat menguasai eksekutip, namun Golkar tetap dapat menguasai legislatip (koalisi antar penyelundup diberbagai Parpol). Parpol baru bikinan para oknum jendral TNI ini (top down) dengan mudah dan dengan cepat dapat dibuat (Wiranto:Hanura, Sby:Demokrat, Edi S: Peduli Bangsa, Hartono: Pemuda Pancasila, dst). Sementara itu, parpol yang bersifat grass root dan bottom up dari para intelektual muda yang bermoral tinggi selalu dikacau dan diobrak-abrik keberadaannya melalui penggunaan ormas semacam Front Pembela Islam, Forum Betawi, Pendekar Banten, dan Pemuda Pancasila. Dengan demikian kekuasaan dan semangat Orde Baru telah dipindahkan dari istana presiden ke gedung parlemen di Senayan (dimana politikus ORBA telah diselundupan di partai reformis dan di banyak partai baru yang telah didanai dan dipersiapkan untuk mendominasi DPR/MPR). Dengan dominasi ini, tidak heran bila Amien Rais (ketua PAN) sebagai reforman selundupan berhasil dipilih dan didudukan sebagai ketua MPR, sungguh luar biasa taktik regim Soeharto! Kemudian, dengan kelicikan lagi, dilakukan amandemen UUD 1945 tahun 1999 yang dibikin(-bikin), maka kekuasaan pembuatan undang-undang menjadi dipindahkan dari istana negara ke gedung parlemen di Senayan. Saat itu (jaman Gus Dur dan Mega), presiden boleh dikata hanya menjadi bulan2an DPR. Pada saat pemilu selanjutnya, agar SBY menang, maka KPU telah disusupi oleh ”pakar2 bayaran” (rata2 akademikus dari UI) untuk melakukan berbagai kelicikan. Kelicikan ini membuahkan kemenangan SBY atas Megawati. Pentolan2 KPU banyak yang mendapat kursi empuk, a.l. Hamid Awaludin dan Arnas Urbaningrum. Kelicikan atau kecurangan para pakar ini hingga sekarang masih alot untuk disidangkan di pengadilan! Semestinya partai besar seperti PDIP berani menyatakan bahwa Pemilu y.l. tidak bersih! Kemudian, taktik koalisi antar penyelundup di Senayan dilakukan lagi. Jauh hari telah disiapkan dan didanai partai baru yaitu PKS (dari mana dana partai gurem ini? Ini mirip dengan kasus pendirian PAN). Saat kampanye, partai reformis selain PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan. (Ingat, Soeharto Cs. menggunakan Amien Rais, PAN, ICMI, HMI, KAHMI dan MUI untuk menyelamatkan diri; regim bablasan Orba menokohkan Nur Mahmudi dan membantu membentuk PKS demi memenangkan Pemilu). Pemilu waktu itu didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para intelektual), rebutan sultan (Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa ”kecerdasan bangsa” tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA. Peristiwa ”Amien Rais” berulang lagi, kali ini ketua PKS (Hidayat N. M.) berhasil dijadikan ketua MPR! Karena regim Orba beserta bablasannya sudah merasa menang angin baik di eksekutip dan legislatip, maka bandul kekuasaan dikembalikan lagi ke eksekutip! Simaklah, karena Presiden dan Wapres dipilih langsung, maka kedudukan eksekutip bagaikan tak tergoyahkan! Presidennya dari militer (dari partai kecil, ini tak masuk akal-merusak sistem ketatanegaraan), wapresnya dari GOLKAR, lalu apa sih bedanya dengan regim ORBA? Gerilya untuk mengkramatkan kembali UUD’ 45 dan Pancasila kembali ditingkatkan. Stasiun televisi, RRI, dan mass media mulai mereka kuasai lagi. Mengingat komposisi anggota DPR/MPR seperti ini, tidak heran bila DPR s/d saat ini (2006) mayoritasnya (masih) dipenuhi oleh mentalitas dan kendali kekuasaan semangat Orde Baru. Jurus yang busuk bukan? Jurus ini disebut “menggendam dan menilep manusia yang sedang mabuk kepayang”, luar biasa cerdas bukan?

Tugas Khusus Amien Rais dkk.

Sebagai reforman selundupan dan bayaran dengan tujuan justru untuk menyelamatkan regim Orba, maka Amien Rais dkk. secara cerdik membelokan arah reformasi dengan cara:
a) Ketika Suharto dengan seenaknya/inkonstitusional (“Kebijakan”) menunjuk Habibie sebagai penggantinya, maka kaum intelektual kampus dan para mahasiswa menolak Habibie (Hbb) dan ingin menurunkannya, Amin justru melindungi Hbb dengan himbauannya agar Hbb diberi kesempatan tuk memimpin reformasi dan Amin sanggup menjadi sparing partnernya apabila Hbb menyeleweng. “Kebijakan semu” ini hingga hari ini menyisakan multiplikasi persoalan berlarut-larut yang semu dan tak berujung pangkal karena semua keadaan tiba-tiba berada dalam gerakan darurat yang tumpang tindih, simpang siur, tanpa pernah diusut benang merah sebab-musabab persoalannya.
b) Ketika akhirnya PDIP menang pemilu (namun tidak bisa menang mutlak, karena partai peserta Pemilu disengaja banyak sekali dan terjadi penyusupan), mengingat regim ORBA masih merasa ragu & takut sekali apabila Megawati menjadi presiden (siapa tahu Mgw, anak Sukarno, akan balas dendam thd regim Suharto) maka perlu kelicikan untuk menjegal Mega, Amien pun menjadi dalangnya dengan membentuk poros tengah yang bernuansa Islami dan dengan jargon “Wanita belum bisa diterima oleh ulama Islam sebagai presiden”. Gus Dur yang dianggap kurang berbahaya terhadap regim ORBA dinaikan menjadi presiden (walau dari persyaratan kesehatan jasmani jelas2 tidak mungkin ia menjadi presiden sebab buta; namun saat itu hanya Gus Dur yang dapat menandingi kepopuleran Megawati).
d) Ketika dalam perjalanannya sebagai presiden, Gus Dur ternyata dianggap membahayakan regim Orba, maka Amin Rais kembali beraksi lagi melalui MPR/DPR dan berhasil menjatuhkan Gus Dur. Gebrakan gus Dur yang membahayakan regim Orba misalnya adalah: membubarkan Deppen dan menetralkan LKBN serta TVRI (senjata informasi paling canggih regim Orba, pembius dan pembodoh rakyat), pemulihan hak kebudayaan etnis Tionghoa, serta diangkatnya Baharudin Lopa menjadi Jaksa Agung, yang kemudian ditengah masa jabatannya, ia dihabisi oleh Regim ORBA. Regim Orba memang pakar dalam culik-menculik, menghilangkan orang, dan bunuh-membunuh serta adu domba sesama anak bangsa. Pengakuan/pertobatan ki Gendeng Pamungkas, si pembunuh bayaran yang sering disewa keluarga Cendana dan para jendral untuk mengeliminasi musuh politik, dalam suatu vcd yang mudah didapat dipasaran adalah salah satu bukti nyata. Termasuk yang dieliminir oleh regim Soeharto adalah: Soekarno, para mahasiswa idealis, Munir, serta jendral bersih dan cerdas Agus Wirahadikusumah, Baharudin Lopa, dan pengamat intelijen/militer sdr. Juanda yang juga diperkirakan dihabisin di Paris (2006). Sedangkan pembunuhan biadab dan membabi buta oleh regim militer ini adalah pada pembantaian PKI 1965 dan pembantaian/pelecehan etnik Tionghoa 1998.
e) Ditahun 2004, Gus Dur ngotot ingin jadi calon presiden lagi; namun karena tidak dibutuhkan lagi oleh regim ORBA, maka cacat matanya dipermasalahkan, kali ini tidak ada lagi yang membelanya! Megawati yang sudah bisa dijinakan dan mulai dekat dengan militer akhirnya direstui tuk jadi presiden.
g) Kemudian, dalam salah satu pidatonya, Amin Rais menandaskan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi Soeharto dengan alasan usia dan sakit; padahal Soeharto dkk. itu kunci keadilan, kunci KKN, kunci masalah dan pelurusan sejarah, kunci uang rampokan yang ada di bank2 L.N; Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi Jerman); jadi sebaiknya Soeharto diadili dulu, mengakui bersalah, barulah diampuni. Kasus terakhir, bulan Maret 2006, AM Fatwa dari PAN menjenguk Tommy Suharto dengan alasan kemanusiaan, diperkirakan ini adalah bagaikan balas jasa PAN atas pendanaan awal partai PAN oleh regim Soeharto, serta mengingat menguatnya kembali regim militer (kembali USA ingin dibelakang militer lagi). Dalam gerakan zig-zag si reforman palsu ini (Amin Rais), ia banyak mendapat dukungan resmi dan restu dari oraganisasi masa dan politik berbasis Muhammadiah seperti ICMI, HMI, KAHMI, dan MUI. Sampai dengan saat ini Amien Rais beserta petinggi ICMI, HMI, KAHMI, dan MUI sudah tidak pernah lagi mengusik Suharto beserta kroninya, karena sudah kenyang akan keduniawian: kekuasaan dan materi/uang. Dengan strategi politisasi agama Islam, dalam pengertian menyatunya militer dengan Islam (petinggi TNI AD dengan petinggi Muhammadiah), maka Suharto dan regimnya ternyata selamat, aman, tentram, dan sejahtera sampai sat ini; walau bangsanya menjadi semakin mundur dan tercabik-cabik.

Manipulasi Reformasi

Saat ini, masyarakat luas yang kebanyakan buta politik telah menerima bahwa telah terjadi reformasi, padahal belum! Regim ORBA adalah ibarat rangkaian seratus gerbong kereta api Argo Bromo, kemudian melalui reformasi semu, yang turun baru satu masinis saja, yaitu Soeharto, sedangkan lainnya masih mendominasi tatanan bisnis, birokrasi dan perpolitikan di Indonesia (terutama oknum petinggi militer/polri dan Golkar). Persamaan mathematik reformasi di Indonesia sungguh kayal dan irasional, persamaan itu adalah: Orde Reformasi = Orde Baru cukup dikurangi satu Soeharto saja!!! Selain itu, reformasi palsu ini didiktekan oleh para politisi penyelundup seperti dijelaskan diatas. Setelah rakyat yang buta politik tertipu dan percaya bahwa telah terjadi reformasi sungguhan, maka kaum bablasan ORBA ini lalu justru “mengobok-obok sampai mabok reformasi palsu” ini, setelah rakyatnya benar2 mabok, kemudian regim bablasan Orba menimpakan/mengalihkan semua krisis bangsa akibat kesalahan regim Suharto ke generasi reformasi palsu ini (jurus lempar tanggung jawab), dengan demikian generasi tua ini telah berhasil membalik situasi: rakyat yang bodoh politik menjadi rindu kembali akan regim Soeharto/militer dan mulai membenci reformasi (yang sebenarnya palsu ini). Kegagalan gerakan reformasi 1998 janganlah dipakai oleh politisi lama untuk mengembalikan ke regim jahat yang sebelumnya (ORBA), namun gunakanlah untuk mengkoreksi kesalahan reformasi 98! Semestinya manipulasi reformasi ini diungkapkan oleh para jurnalis dan intelektual kampus, namun sayang sekali, kecerdasan mereka/kita tidak sampai!

Jurus Obok2 Bangsa Sampai Mabok

Beberapa jurus obok2 regim bablasan ORBA agar masyarakat kembali rindu generasi regim Soeharto adalah sbb.:
– Regim Orba dan regim militer (para oknum Jendral TNI AD, khususnya KOPASUS) menyadari bahwa rasa damai dan aman adalah kebutuhan mendasar manusia. Maka mereka mendanai, mengorganisasikan, dan menggerakan berbagai kerusuhan di bumi Nusantara, terutama menggunakan atribut Islam, misal Front Pembela Islam. Kerusuhan di Ambon, Pontianak, Poso, dst. adalah ulah mereka. Sebenarnya untuk menangkap otaknya/pendananya, cukup mudah sekali, cukup melacak aliran dana di Bank dan menyadap via telepon serta internet; namun Badan Intelijen (BIN) tidak melakukannya, mengingat BIN selama ini justru menjadi alat militer tuk berkuasa; musuh BIN yang terutama adalah justru manusia Indonesia yang baik dan idealis (bukan musuh dari luar). Pensiunan BrigJen Sumarsono, waktu itu Sekjen PBSI, ditangkap dengan milyaran rupiah uang palsu. Para pengamat politik supercerdas langsung tahu bahwa uang palsu itu untuk membayari para preman perusuh; jadi ada maksud untuk sekaligus mengacau keamanan (kerusuhan) dan mengacau ekonomi (uang palsu), luar biasa liciknya para oknum jendral AD itu. Dengan diciptakannya berbagai kerusuhan, patahlah kepercayaan rakyat pada Reformasi, dan rakyat rindu pada regim militer lagi. Rakyat juga dibodohi bahwa telah terjadi reformasi, padahal sama sekali belum terjadi mengingat yang baru turun dari singgasana hanyalah Suharto, sedangkan semua posisi penting dalam birokrasi dan militer (terutama TNI AD) masih dikuasai regim Suharto. Para oknum jendral AD di Mabes Cilangkap memang pintar, mereka selalu berada diantara bandul jam “radikal dan nasionalis”. Ketika mereka terdesak oleh kaum Nasionalis, maka kaum radikal sengaja dibesarkan/dihidupkan, dengan demikian kaum Nasionalis jadi keder nyalinya; sebaliknya bila regim Militer terdesak kaum radikal Islam, maka regim militer akan berbalik ke kaum Nasionalis untuk bersama-sama menghabisi kaum radikal. Dengan strategi ini, para oknum pejabat militer akan selalu mendapatkan dana pengamanan yang luar biasa (baik dari negara maupun dari kaum minoritas yang kaya raya), bisnis keamanan sungguh luar biasa besarnya. Kembali politik kambing putih dilakukan. Pemilu terakhir yang dimenangkan SBY, regim militer mensponsori dan menggunakan PKS (dari mana dana partai gurem ini? Ini mirip dengan kasus pendirian PAN). Partai reformis selain PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan di mass media. (Ingat, Soeharto Cs. menggunakan Amien Rais, PAN, ICMI, HMI, KAHMI dan MUI untuk menyelamatkan diri; Sby cs. menokohkan Hidayat Nur Mahmudi dan membantu membentuk PKS demi memenangkan Pemilu). Pemilu waktu itu didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para professor), rebutan sultan (Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa keilmuan, kampus, science tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA.
– Beberapa hari sebelum pemungutan suara pada pemilu presiden 2004, bom sengaja diledakan di depan Kedubes Australia. Saat pemungutan suara, TV BBC Inggris mewancarai seorang pencoblos, pencoblos itu mengatakan tidak mau memilih Megawati lagi dengan alasan banyaknya bom yang meledak, terutama yang barusan meledak di kedubes itu. Itu adalah salah satu faktor penentu kemenangan militer kembali. Sungguh jitu strategi para oknum Jendral AD ini! Kemudian, pengebomnya berhasil dibekuk, padahal strategi ini buatan mereka sendiri (memakai radikal Islam)! Jadi sekali tepuk mereka dapat tiga point: membisniskan keamanan, menang pemilu & rakyat tambah percaya pada militer (bisa membekuk pelakunya).
– Berbagai kerusuhan dan adu domba di Nusantara di outsourcingkan (disubkontrakan) kepada pihak ketiga (misalnya Pemuda Pancasila, Laskar Jihad, FPI, dst) melalui makelar, kemudian makelarnya dibinasakan. Sebagai contoh, kasus dukun santet di Banyuwangi; otaknya di Jkt (pada umumnya petinggi RPKAD), pelaksananya preman2 luar Jkt dan luar Bwi; setelah sukses, makelarnya dihabisin, sehingga benang merah koneksi antara otak di Jkt dan pelaksana di BWI terputus; jadilah kasus itu sekedar kasus lokal, pejabat busuk di Jkt seolah-olah tidak terlibat. Kembali agama hanya jadi sekedar bulan2an para oknum pembesar AD/POLRI di Cilangkap dan di BIN. Bunuhmembunuh bangsa sendiri adalah kebiasaan regim Soeharto bersama para oknum jendral TNI AD/POLRI, ingat saja kasus pembunuhan massa PKI yang mencapai lebih dari 500 ribu jiwa.
– dst.

Penutup

Tahun 1965, regim militer mengkambinghitamkan PKI; tahun 1998 regim Orba membentuk orde reformasi palsu untuk dijadikan kambinghitam kegagalan reformasi. Senjata utama regim Soeharto (ORBA plus penerusnya) adalah: politisasi agama, money politics (terutama untuk membeli: ulama, ilmuwan kampus, dan anggota Parpol lain), penyusupan ke partai2 lain, pembentukan jaring mafia yang bagai multi level marketing (MLM) – dari Jakarta s/d pelosok desa, dan mendominasi mass media terutama televisi! Selain itu, mereka membutuhkan dukungan dari kelompok militer, polisi dan negara adidaya; hal ini menjadikan betapa sulitnya mereformasi ABRI dan polisi (karena politik identik dengan kekuasaan dan harta yang berlimpah)! Semua senjata ORBA ini bersifat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara, serta daya rusaknya maha hebat (melebihi jaman penjajahan Belanda) dan berjangka panjang (antar generasi)!
Regim Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi Jerman), dengan strategi yang amat indah namun licik, beliau dan kroninya dapat membelokan/menipu reformasi, dan kini beliau dengan kroni-kroninya menikmati hidup dengan aman, tentram dan sejahtera ditengah bangsanya yang miskin dan banyak menganggur! Sepandai-pandainya begawan politik Soeharto beserta regimnya (para mantan jendral TNI AD), namun politisi USA jauh lebih piawai dari mereka, terbukti hubungan USA-Indonesia mulai 1965 s/d sekarang adalah tetap bagaikan tuan dan jongosnya, USA memegang kartu truf/as atas kehormatan palsu para mantan jendral TNI AD itu. USA lewat CIA adalah otak internasionalnya, sedangkan Soeharto beserta jendral TNI AD yang terlibat kupdeta 65 adalah otak nasional sekaligus pembunuh bayaran atas bangsanya sendiri (antara lain yaitu”membunuh/mempercepat” wafatnya Bung Karno dan pembantaian massal PKI). Kejahatan kemanusiaan terbesar inilah yang menyebabkan Indonesia selalu mengalami berbagai krisis hingga sekarang. Dengan demikian, ternyata Indonesia hanya dijadikan sekedar tumbal cacat hati nurani para jendral TNI AD – jongos politikus USA! Dan para mantan jendral itu sekarang menyusup di jantung hati setiap parpol, menguasai politik bangsa, tidak mengherankan Indonesia bagaikan mengidap tumor besar atau bahkan penyakit kangker.
Kemudian, mengapa hingga saat ini penegakan hukum dan kebenaran sulit terjadi di Indonesia? Karena kaum generasi tua lah yang akan terkena duluan mengingat mereka ini adalah pelaku KKN dan pelanggar HAM kelas berat. Hampir 1/3 kekayaan Indonesia telah mereka rampok dan kuasai serta mereka amankan di bank2 luar negeri (bersama konglomerat hitam). Hingga detik ini, mereka ini masih bercokol, menyusup dan berkuasa di partai2 besar, sehingga mereka akan selalu berbisik kepada rekan2nya yang masih muda dengan ancaman sbb.: “Jangan dik, jangan lakukan agenda penegakan hukum dan kebenaran, kalau kamu ingin tetap menduduki kursi empukmu. Nanti kita yang tua akan terkena lebih dahulu, karena kami ini adalah kelompok pelanggar HAM dan pelaku KKN kelas berat. Nanti saja, kalau kami sudah wafat dan dimakamkan di Taman Pahlawan, silahkan laksanakan agenda itu dan bikinlah UU yang bagus untuk melawan ketidak adilan, serta silahkan luruskan sejarah 1965 tentang coup detat yang benar. Namun sekali lagi, lakukan semua itu setelah kami, generasi tua yang jahat dan busuk ini, mampus semua dan telah dimakamkan di taman makam pahlawan! Sekarang yang paling penting adalah justru mengalihkan perhatian bangsa dari masalah utama diatas, perkara hal ini akan membuat bangsa tambah sengsara dan bodoh, masa bodohlah, pokoknya dan yang terpenting – sampai dengan wafat kami, kami senantiasa: aman, tentram, sejahtera, dihormati, dan tidak terjamah hukum.” Seperti tumbangnya patung Kremlin, tembok Berlin, dan Sadam Husein yang memakan waktu lama, paling tidak penegakan hukum dan kebenaran di Indonesia harus menunggu institusi militer dan polisi kembali menjadi netral dan profesional. Kalau kekuasaan dan senjata masih memihak kejahatan, adalah tidak mungkin negara akan sehat-kuat dan aman-sejahtera. Jika TNI Polri masih saja berbisnis dan berpolitik, adalah tidak mungkin Indonesia lepas dari cengkeraman kejahatan, preman, dan perusahaan multi national (MNC), ini ibarat pagar makan tanaman, ini ibarat penjajahan oleh bangsa sendiri! Tahun 2008 ditandai hobi beternak partai politik oleh para mantan Jendral TNI, seperti Hartono, Prabowo, Wiranto, Edi Sudrajat, dan Try Sutrisno. Seolah-olah ada persaingan diantara orang sakit jiwa ini: mantan jendral harus punya parpol setelah pensiun! Di negara yang cerdas dan modern jumlah partai politiknya hanya sebatas dua atau tiga, di negara yang tidak dapat lepas dari krisis kebudayaan (bodoh) jumlah parpolnya lebih dari tiga puluh lima! Politik devide et impera dan politik kebodohan telah dikenakan pada bangsa ini oleh para mantan jendralnya sendiri, benar-benar gila!!!

Ajaran yang dapat dipetik dari Begawan Politik Soeharto adalah: pertama susupi dan tunggangi, kedua kalau menipu jangan tanggung-tanggung: tipulah bangsamu – bahkan kalau bisa, tipulah Tuhanmu melalui politisasi agama. Semoga ajaran beliau ini cepat berlalu seiring dengan berlalunya dia, semoga pengkianatan terhadap bangsanya sedikit demi sedikit terbongkar, dimulai dari terkuaknya Adam Malik agen CIA. Hai intelektual Indonesia, terutama di ITB, UI dan UGM, bangkit dan luruskanlah arah sejarah dan perjuangan bangsamu, jangan tidur pulas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: